Galaksi Spiral, Struktur Megah di Alam Semesta

Info Astronomy - Bimasakti, Andromeda, dan sekitar 77% total galaksi yang pernah diamati manusia sepanjang sejarah merupakan jenis galaksi spiral. Kita kenalan lebih jauh yuk dengan jenis galaksi yang paling umum ditemui di alam semesta ini.

Di alam semesta kita, setidaknya ada empat jenis galaksi yang telah teridentifikasi. Galaksi-galaksi ini terdiri dari bintang-bintang, gas, dan debu yang disatukan dengan gravitasi. Setiap jenis galaksi diberi nama berdasarkan bentuknya, sehingga mudah bagi kita untuk mengidentifikasi jenis galaksi yang kita lihat. Keempatnya adalah galaksi spiral, lentikular, elips, dan galaksi tak beraturan.

Penemuan jenis-jenis galaksi ini bisa dibilang merupakan sesuatu yang baru. Faktanya, ada masa di mana manusia tidak tahu keberadaan galaksi lain selain Bimasakti. Dulunya, bahkan galaksi Andromeda (galaksi spiral tetangga terdekat Bimasakti) hanya dianggap sebagai nebula karena tampak seperti awan redup saja di langit dalam pandangan teleskop. Disebutlah ia sebagai nebula Andromeda.

Baca Juga: Kisah Sejarah Penemuan Galaksi Selain Bimasakti

Semua ini berubah pada tahun 1920, ketika astronom Edwin Hubble menunjukkan hasil pengamatannya yang menerangkan bahwa nebula Andromeda sebenarnya adalah sebuah galaksi. Dengan hasil pengamatan Hubble ini, penelitian lebih lanjut pun dilakukan, yang pada akhirnya ada begitu banyak galaksi lain yang ditemukan. Masuk pada tahun 1936, Hubble mengklasifikasikan galaksi.
Saking banyaknya galaksi yang mulai ditemukan, Hubble pun mengelompokkannya menjadi empat kategori utama: galaksi spiral, galaksi lentikular, galaksi elips, dan galaksi tidak beraturan. Pengamatan Hubble lah yang mengungkapkan bahwa galaksi spiral adalah jenis galaksi yang paling umum ditemukan di seluruh alam semesta.

Galaksi spiral umumnya memiliki cakram yang pipih setebal 100-1.000 tahun cahaya dan berputar bersama sebuah tonjolan pusat yang dikelilingi oleh lengan spiral. Gerakan berputar galaksi spiral bisa mencapai kecepatan hingga ratusan kilometer per detik. Hal ini biasanya dapat menyebabkan materi dalam cakram membentuk struktur spiral yang khas.

Pembentukan

Galaksi-galaksi di alam semesta diperkirakan telah terbentuk sekitar 13 hingga 14 miliar tahun yang lalu. Satu hipotesis menyatakan bahwa galaksi dilahirkan ketika awan besar gas dan debu runtuh di bawah tarikan gravitasi mereka sendiri, yang memungkinkan bintang-bintang mulai terbentuk.

Hipotesis kedua mengklaim bahwa alam semesta muda mengandung banyak "gumpalan" materi, yang seiring waktu mulai berkelompok membentuk galaksi. Teleskop Antariksa Hubble telah berhasil mengamati gumpalan seperti itu di alam semesta awal, yang mungkin merupakan prekursor galaksi modern saat ini.
Menurut para astronom, sebagian besar galaksi besar pada awalnya adalah spiral. Namun, seiring waktu, banyak galaksi spiral yang bergabung untuk membentuk galaksi elips. Galaksi terus bergabung satu sama lain untuk menciptakan galaksi yang lebih besar. Bimasakti kita, misalnya, akan bertabrakan dengan galaksi Andromeda di masa depan, 6 miliar tahun lagi.

Baca Juga: Seperti Inilah Saat Bimasakti dan Andromeda Bertabrakan

Meskipun demikian, bagaimana galaksi sebenarnya terbentuk masih terbuka untuk diteliti lebih lanjut. Beberapa astronom percaya bahwa galaksi biasanya terbentuk dari gugusan kecil yang terdiri dari sekitar satu juta bintang, yang dikenal sebagai gugus bola. Astronom lain percaya bahwa galaksi terbentuk pertama dan kemudian melahirkan gugus bola.

Karakteristik dan Struktur

Biasanya, galaksi spiral mengandung tonjolan pusat, dikenal sebagai bulge, yang dikelilingi oleh cakram bintang yang pipih dan berputar. Tonjolan yang terletak di tengah galaksi ini terdiri dari bintang yang lebih tua dan redup (sehingga tampak kuning kemerahan), dan diperkirakan berisi lubang hitam supermasif.
Sekitar dua pertiga galaksi spiral juga mengandung struktur palang yang seolah membelah bagian intinya, salah satunya galaksi Bimasakti kita. Baik di galaksi spiral biasa maupun spiral berpalang, lengan spiralnya selalu mengandung banyak gas dan debu, sehingga banyak bintang muda dilahirkan di daerah ini (yang membuat lengan galaksi berwarna kebiruan).

Klasifikasi Galaksi Spiral

Yup, galaksi spiral rupanya dibagi lagi menjadi beberapa klasifikasi, lho. Galaksi spiral dapat diklasifikasikan menurut seberapa padatnya lengan spiral mereka, kerenggangan lengan mereka, dan ukuran keseluruhan tonjolan pusatnya.

Jumlah gas dan debu yang terkandung di dalam galaksi-galaksi spiral ini juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur perbedaan-perbedaan ini. Apa saja, sih, klasifikasi galaksi spiral? Coba lihat gambar di bawah ini deh:
Gambar di atas dikenal sebagai Garpu Tala Hubble, berisikan jenis-jenis galaksi spiral berdasarkan klasifikasinya. Saat ini, setidaknya ada 3 klasifikasi galaksi spiral klasik dan 3 lainnya untuk galaksi spiral berpalang.

Pertama, galaksi spiral jenis A, atau disingkat sebagai Sa, merupakan galaksi spiral yang memiliki tonjolan pusat besar dan lengan spiral lebar yang tampak "halus". Sekitar 2% dari massa total galaksi spiral Sa hadir dalam bentuk gas dan debu. Itu artinya, hanya sebagian kecil galaksi Sa yang dapat membentuk bintang-bintang baru di alam semesta.

Kedua, galaksi spiral jenis B, atau disingkat sebagai Sb. Jenis galaksi yang satu ini memiliki tonjolan pusat yang berukuran sedang dan lengan spiral yang lebih jelas terlihat dibandingkan tipe Sa. Ada cukup banyak galaksi di alam semesta yang termasuk dalam jenis Sb.

Baca Juga: Kalau Galaksi Lain itu ada, Kenapa Tak Teramati di Langit?

Ketiga, galaksi spiral jenis C, disingkat sebagai Sc, sebuah galaksi spiral yang tonjolan pusatnya berukuran kecil dan memiliki lengan spiral bagian tengah yang sempit sementara lengan spiral bagian tepinya melebar luas. Galaksi Sc ini mengandung sekitar 15% gas dan debu.

Keempat, kita sudah di klasifikasi galaksi spiral berpalang, yakni galaksi spiral berpalang jenis A, yang disingkat sebagai SBa. Galaksi SBa ini memiliki palang besar yang sangat melebar, dengan hanya setidaknya dua lengan spiral di ujung-ujung palangnya.

Kelima, galaksi spiral berpalang jenis B, disingkat SBb, memiliki fitur palang yang erat dan lengan spiral yang longgar. Bedanya dengan SBa adalah, SBb memiliki tonjolan pusat yang berukuran jauh lebih kecil. Bimasakti kita termasuk dalam jenis ini.

Keenam, yang terakhir, galaksi spiral berpalang jenis C, atau SBc. Ketika kita mengamati galaksi SBc ini, kita seperti hanya melihat fitur palangnya saja yang kekuningan, dengan lengan-lengan spiralnya yang seperti terlepas dari palang tersebut, contohnya galaksi NGC 1073 ini:
Biasanya, galaksi spiral diyakini berevolusi menjadi galaksi elips seiring bertambahnya usia. Semua galaksi spiral akan mengubah bentuknya, tidak akan memiliki bentuk yang sama dari awal terbentuknya hingga miliaran tahun setelahnya. Galaksi-galaksi spiral juga berevolusi dengan bertabrakan satu sama lain, sehingga membentuk galaksi yang jauh lebih besar lagi.

Nah, itulah galaksi spiral, struktur megah di alam semesta di mana kita hidup di salah satunya, galaksi spiral berpalang SBb Bimasakti.
BERIKAN KOMENTAR ()