Fenomena Langit November 2019

Info Astronomy - Fenomena langit November 2019 menunggu untuk kamu amati. Di sepanjang bulan ini, cuaca mungkin akan banyak berubah menjadi mendung, tapi tetap masih ada kesempatan untuk melakukan pengamatan kok!

Seperti biasa, InfoAstronomy.org telah merangkum akan ada fenomena langit apa saja pada November ini. Semua yang dirangkum di bawah ini bisa diamati di seluruh Indonesia asalkan cuaca cerah ya. Penasaran ada apa saja?

2 November 2019: Konjungsi Bulan dengan Saturnus
Tengok langit barat mulai pukul 18:15 waktu setempat daerahmu pada 2 November ini, kamu berkesempatan untuk melihat fenomena dekatnya Bulan dengan planet Saturnus dalam fenomena yang dikenal sebagai konjungsi.

Pada momen konjungsi ini, Saturnus akan berada sejauh 1 derajat dari Bulan. Dalam pandangan mata telanjang, kamu akan melihat Saturnus muncul seperti bintang saja. Gunakan teleskop untuk bisa melihat Saturnus lebih jelas ya. Konjungsi ini akan berlangsung hingga jam 10 malam saat keduanya terbenam di ufuk barat.
12 November 2019: Fase Bulan Purnama
Untuk November ini, fase Bulan purnama terjadi pada tanggal 12. Walau begitu, hanya 99,9% wajah Bulan akan tersinari oleh Matahari dalam pandangan dari Bumi. Hal itu terjadi karena posisi Matahari-Bumi-Bulan tidak benar-benar segaris lurus, bidang orbit Bulan miring 5 derajat terhadap Bumi.

Kalau saja Matahar-Bumi-Bulan benar-benar segaris lurus, maka yang akan terjadi adalah fenomena gerhana Bulan total. Sayangnya, tidak ada gerhana apapun di November ini. Bulan purnama bisa diamati sejak Matahari terbenam hingga Matahari terbit keesokan harinya.

18 November 2019: Hujan Meteor Leonid
Termasuk dalam hujan meteor mayor (intensitas meteor per jamnya cukup banyak), Leonid akan mencapai puncaknya pada tanggal ini, 18 November 2019. Kita semua di Indonesia bisa menyaksikannya, lho!

Dilihat dari Indonesia, hujan meteor Leonid bisa mulai diamati pada sekitar pukul 00:30 malam waktu setempat daerah masing-masing. Pada waktu itu, titik radian hujan meteor ini (rasi bintang Leo) baru saja terbit, sehingga arahkan pandanganmu ke arah timur. Seiring Bumi berotasi, titik radian akan bergerak semu ke barat. Kamu bisa terus menyaksikan meteor-meteor melesat hingga menjelang Matahari terbit.
Akan ada 15 meteor per jam saat puncaknya. Namun, karena ada Bulan di dekat titik radian Leonid, intensitasnya bisa menurun jadi 5-10 meteor per jam saja.

Tidak perlu menggunakan teleskop untuk bisa melihat hujan meteor. Pengamatan wajib dilakukan dengan mata telanjang. Walau begitu, pastikan lokasi pengamatan kamu bebas polusi cahaya dan cuaca sedang cerah ya. Lakukan pengamatan minimal satu jam untuk bisa melihat meteor pertama kamu. Pengamatan 1-2 menit saja tidak akan menghasilkan apapun.

Baca Juga: Apakah Fenomena Hujan Meteor Bisa Habis?

24 November 2019: Konjungsi Bulan dengan Mars
Pada November ini, kenampakan planet Mars semakin jelas terlihat. Tepat pada 24 November 2019, Bulan akan jadi pemandu kamu untuk menemukan sang planet merah.
Kalau mau melihat fenomena yang satu ini, bangunlah lebih pagi. Mulai pukul 04:30 pagi waktu setempat daerahmu, amatilah langit timur. Nantinya kamu akan menemukan Bulan sabit di sana. Sekitar 2 derajat di arah timur Bulan sabit, kamu akan menemukan bintang kemerahan terang yang tidak berkelap-kelip. Bintang tersebut adalah Mars saat kamu mencoba mengamatinya lewat teleskop.

24 November 2019: Konjungsi Venus dengan Jupiter
Ketika pagi harinya menikmati pemandangan Mars dengan Bulan, di tanggal 24 November ini sorenya kamu bisa melihat kenampakan dua planet paling terang di langit Bumi yang tampak berdekatan satu sama lain: Venus dan Jupiter!

Langsung tengok langit arah barat mulai pukul 18:00 sore waktu setempat daerah kamu. Walaupun Jupiter berukuran lebih besar dari Venus, tetapi Venus jauh lebih dekat jaraknya dari Bumi, dengan begitu kenampakan Venus akan jauh lebih terang daripada Jupiter, persis seperti gambar di bawah ini:
Konjungsi antara Venus dan Jupiter bisa kamu amati hingga pukul 19:45 waktu setempat daerahmu, atau sekitar 1 jam 55 menit setelah Matahari terbenam.

26 November 2019: Fase Bulan Baru
Tiap 29,5 hari, Matahari-Bulan-Bumi berada segaris lurus. Ya, memang tidak benar-benar segaris lurus sih karena lagi-lagi bidang orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap Bumi. Alih-alih terjadi gerhana Matahari, pada 26 November ini yang terjadi adalah Bulan yang masuk fase Bulan baru.

Secara astronomis, Bulan baru terjadi pada pukul 22:07 WIB. Peristiwa ini menandai satu bulan menuju fenomena yang paling ditunggu-tunggu tahun ini: gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019.

28 November 2019: Konjungsi Bulan dengan Jupiter
Setelah bersama Venus pada 24 November, pada tanggal 28 November ini giliran Bulan yang menemani Jupiter. Mereka berdua akan tampak sangat dekat satu sama lain dalam pandangan dari Bumi, kurang dari 1 derajat.

Pengamatan mata telanjang hanya akan memperlihatkan Jupiter yang tampak bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip di dekat Bulan sabit. Kamu perlu menggunakan teleskop agar pengamatan Jupiter lebih jelas, lengkap dengan empat bulan terbesarnya pula yakni Ganimede, Kalisto, Io, dan Europa.
Konjungsi Bulan dengan Jupiter bisa terus diamati hingga pukul 19:30 waktu setempat daerahmu. Kamu cukup lakukan pengamatan ke arah barat saja.

Baca Juga: Mengapa Kita Bisa Melihat Planet di Langit Malam?

29 November 2019: Konjungsi Bulan dengan Venus
Seolah cemburu Jupiter didekati Bulan, Venus malah merebut Bulan di hari berikutnya, 29 November 2019. Mulai Matahari terbenam pada tanggal ini, di langit barat kamu bisa menemukan Venus yang berada sekitar 2 derajat di arah barat Bulan sabit.

Venus akan muncul sebagai bintang paliiiiiiing terang dalam pandangan mata telanjang. Kamu butuh teleskop setidaknya 10 inci untuk bisa melihat Venus lebih jelas. Fenomena konjungsi ini bisa diamati hingga pukul 19:30 waktu setempat daerahmu saat Venus terbenam lebih dulu.
30 November 2019: Konjungsi Bulan dengan Saturnus
Dibuka dengan dekatnya Bulan dan Saturnus, November ini juga ditutup oleh fenomena yang sama. Dari sini kita bisa lihat, bahwa fenomena konjungsi Bulan dengan planet-planet tata surya bukanlah fenomena yang berbahaya, melainkan hanya fenomena biasa yang sudah terjadi sejak lama, bahkan mungkin manusia purba dan manusia modern pertama sudah bisa melihatnya juga.

Lakukan pengamatan ke arah barat mulai pukul 18:15 waktu setempat daerahmu, kamu nantinya bisa melihat Saturnus muncul sejauh 2 derajat dari Bulan. Eits, Saturnus tidak akan muncul dengan cincinnya kalau kamu cuma mengamati tanpa teleskop ya. Gunakan teleskop untuk bisa melihat cincin tersebut.
Nah, itulah fenomena langit November 2019 yang bisa diamati. Kalau kamu mau membeli teleskop, kamu bisa cek katalognya di InfoAstronomy Store. Selamat melakukan pengamatan!
BERIKAN KOMENTAR ()