5 Alasan Mengapa Kita Harus ke Bulan daripada Mars

Info Astronomy - Bulan dan Mars sama-sama tetangga Bumi. Bisa menjelajahi kedua benda langit tersebut tampaknya menjadi impian terbesar umat manusia. Namun, untuk saat ini, kembali ke Bulan sepertinya adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada harus ke Mars.

Memang, ada begitu banyak inovasi yang bermunculan yang diklaim dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia di Mars. Salah satunya, teraformasi, sebuah proses yang membuat planet Mars lebih laik huni bagi manusia dengan mengubah atmosfernya hingga menjadi nyaman untuk bernafas dan memiliki suhu yang bersahabat.

Namun, ada sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature yang meragukan gagasan teraformasi tersebut, menyimpulkan bahwa teraformasi memang ide yang brilian, tetapi tidak mungkin bisa dilakukan dengan teknologi saat ini.

Menjelajahi Mars tampaknya harus ditahan dulu, dan inilah saat yang tepat untuk kembali mempererat silaturahmi dengan tetangga kosmis terdekat kita, Bulan.

Sejak manusia berhasil mendaratkan wahana antariksa nirawak pertama di Bulan, yakni Luna 9 milik Rusia pada tahun 1966, studi mengenai satu-satunya satelit alami milik Bumi kita ini begitu melimpah tiada habisnya.
Citra permukaan Bulan dari Luna 9. Kredit: Wikimedia Commons
Setidaknya, sampai artikel ini diterbitkan, ada lebih dari 60 misi sukses yang mendarat di Bulan, dengan 8 di antaranya adalah misi berawak yang masing-masing ada 2 manusia yang menginjakkan kaki di Bulan. Total, selusin astronaut sudah pernah merasakan sensasi berjalan-jalan di permukaan Bulan. Yang paling terkenal adalah Apollo 11, yang pada Juli 1969 menjadi misi manusia pertama di Bulan.

Baca Juga: Mengapa Tidak Ada Pendaratan Astronaut di Bulan Lagi?

Para pelopor misi antariksa ini telah begitu berjasa dalam memperluas pemahaman kita tentang Bumi dan alam semesta. Misi Apollo 15 tahun 1971, misalnya, menemukan apa yang disebut sebagai "Batu Genesis", salah satu sampel batuan tertua yang pernah ditemukan dari kawah di Bulan. Analisis terhadap batu tersebut mendukung hipotesis tumbukan raksasa, yang kini menjadi teori bagaimana Bulan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu.

Namun, sejak kita merasa bahwa pemahaman mengenai Bulan sudah begitu banyak, Mars menjadi incaran kedua. Hal itu dimulai pada tahun 1990-an, ketika Lembaga Antariksa AS (NASA) berhasil mendaratkan wahana antariksa Mars Pathfinder di permukaan Mars. Gambar-gambar yang dipotret dari permukaan planet merah oleh Mars Pathfinder sejak saat itu telah banyak menghidupkan imajinasi publik, membangkitkan minat pada misi-misi ke Mars berikutnya.

Tapi, daripada langsung melakukan misi berawak ke Mars, setidaknya inilah lima alasan mengapa kembali ke Bulan adalah pilihan yang jauh lebih baik. Semoga saja ada lembaga-lembaga antariksa yang membaca artikel ini lalu mempertimbangkan misi ke Marsnya.

1. Bulan Bisa Jadi Tempat Transit

Tidak cuma naik KRL di Jabodetabek saja yang bisa transit-transit, Bulan juga bisa dijadikan tempat transit, lho. Eits, bukan transit dari Manggarai mau ke Tangerang ya, itu mah kamu turun saja di stasiun Duri. Bulan bisa jadi tempat kita untuk transit menuju Mars.

Jadi gini. Untuk bisa berangkat ke luar angkasa, atau bahkan Mars, kita perlu mencapai kecepatan tertentu sejak dari Bumi. Perjalanan ke Mars dari permukaan Bumi membutuhkan kecepatan total minimum hampir sekitar 13,1 kilometer per detik. Untuk mencapai kecepatan itu, jelas dibutuhkan roket besar, berton-ton bahan bakar, dan rencana manuver orbital yang kompleks.

Namun, kalau peluncuran ke Mars dilakukan dari Bulan, niscaya jauh lebih "sederhana". Karena medan gravitasi Bulan yang lebih lemah (16% gravitasi Bumi), perjalanan ke Mars dari permukaan Bulan akan "hanya" membutuhkan 2,9 kilometer per detik, atau kira-kira sepertiga dari yang diperlukan untuk mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional dari permukaan Bumi.
Peluncuran Sputnik, satelit pertama buatan manusia. Kredit: NASA
Tidak cuma itu, Bulan juga memiliki kekayaan sumber daya mineral yang melimpah, termasuk keberadaan logam berharga dan bahan-bahan untuk membuat bahan bakar roket, yang bisa diproduksi dengan memecah es air yang ada di permukaan Bulan menjadi bahan bakar hidrogen dan pengoksidasi.

Mineral troilite, senyawa besi-belerang yang langka di Bumi, juga ada di kerak Bulan. Sulfur dari troilite dapat diekstraksi dan dikombinasikan dengan tanah Bulan untuk menghasilkan bahan bangunan yang kuat. Dengan begitu, mendirikan rumah di Bulan tidak perlu bawa-bawa semen dari Bumi, cukup bawa tim Bedah Rumah.

Sumber daya yang begitu banyak di Bulan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun pangkalan di Bulan untuk meluncurkan misi-misi luar angkasa secara besar-besaran tanpa membuang banyak biaya dalam setiap misinya.

Baca Juga: Bulan Bisa Memiliki Bulan yang Disebut Bulanbulan

2. Energi untuk Masa Depan

Fusi nuklir, proses yang membuat bintang bisa bersinar, dapat menyediakan pasokan energi bagi masa depan umat manusia. Nah, reaktor fusi nuklir di masa depan akan menggunakan Helium-3, versi helium yang lebih ringan yang digunakan dalam balon ulang tahun. Sayangnya, isotop yang satu ini cukup langka di Bumi, tetapi berlimpah di Bulan di mana ia bisa ditambang untuk dikirim ke Bumi.

Asalkan penambangan dilakukan tanpa ada keserakahan oleh oknum tertentu, Bulan bisa menjamin masa depan energi bagi manusia.

3. Bulan Lebih Aman

Di Bumi, permukaannya bisa berubah-ubah secara dinamis akibat adanya hujan, pasang surut air laut, angin, atau bahkan pertumbuhan tanaman. Namun, Bulan adalah dunia yang tidak aktif. Tidak ada perubahan geologis besar yang terjadi dalam tiga miliar tahun terakhir.

Hal tersebut membuat Bulan dianggap lebih aman dari bencana akibat perubahan geologis. Ditambah lagi, lanskap Bulan siap untuk diteliti, menawarkan sejarah tata surya yang yang siap untuk kita jelajahi.

4. Mengamati Alam Semesta

"Lah, ngamat bukannya juga bisa di Mars, min? Atau di Bumi juga gas aja tuh?"

Wah, kamu pasti belum tahu nih. Melakukan pengamatan di Bulan jauuuuuuh lebih bikin nagih, lho!

Bagaimana tidak, kerapatan atmosfer Bulan begitu tipiiiiis, cuma sepersepuluh dari atmosfer Bumi. Para astronom bahkan menganggap Bulan tidak punya atmosfer. Nah, absennya atmosfer di Bulan ini menyediakan kondisi sempurna untuk mengamati alam semesta di seluruh spektrum elektromagnetik.

Bahkan, kalau kita membangun observatorium radio di sisi jauh Bulan, pengamatan alam semesta akan sepenuhnya terlindung dari gelombang radio dari Bumi. Atmosfer berkerapatan rendah juga memungkinkan teleskop sinar-X atau sinar gamma berbasis-darat mengamati alam semesta dengan jernih.

Bagaimana dengan Mars? Walaupun juga memiliki atmosfer yang tipis, lagi-lagi jarak antara Bumi dan Mars yang saat ini masih menjadi penghalang terbesar misi manusia ke sana.

5. Manusia di Antariksa

Salah satu rintangan utama untuk misi manusia ke Mars adalah memahami bagaimana kesehatan manusia dapat dipengaruhi oleh perjalanan jangka panjang di luar angkasa. Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, persediaan atau penyelamatan harus menunggu lebih dari dua tahun karena dikirim dari Bumi.

Bulan bisa menjadi titik uji coba. Dengan menguji bagaimana manusia pertama yang hidup di Bulan bisa beradaptasi dengan lingkungan non-Bumi, eksplorasi lebih lanjut ke Mars atau bahkan yang lebih jauh lagi akan jauh lebih praktis. Jika saja ada keadaan darurat terjadi di pangkalan Bulan, Bumi hanya berjarak tiga hari.

Kekhawatiran utama lainnya tentang pergi ke Mars adalah kontaminasi organisme Bumi yang tidak disengaja ke lingkungan Mars. Alih-alih menemukan kehidupan asing di Mars, kita malah menemukan kehidupan Bumi yang telah mengontaminasi Mars.

Sebelum kita dapat mengambil lompatan besar lain ke luar angkasa, mungkin ada baiknya mengambil beberapa langkah kecil ke benda langit yang lebih dekat dari planet rumah kita, Bulan.
BERIKAN KOMENTAR ()