Mengapa Tidak Ada Pendaratan Astronot di Bulan Lagi?

Info Astronomy - Dari rentang tahun 1969 hingga 1972, setidaknya telah ada 12 astronot mulai dari Neil Armstrong hingga Eugene Cernan yang mendarat di permukaan Bulan. Tapi, mengapa tidak ada pendaratan di Bulan lagi, padahal teknologi sudah semakin canggih?

Secara logika, bila teknologi semakin canggih, kita seharusnya bisa dengan mudah saat ini ke Bulan. Ah, tapi apa benar logika "dengan mudah" itu?

Sebenarnya, alasan utama mengapa tidak ada misi ke Bulan lagi bukan karena teknologi, melainkan pendanaan. Secanggih apapun teknologi yang kita miliki sekarang, bila pendanaan minim, bagaimana bisa mencapai Bulan?

Pergi ke Bulan sangat mahal. Sebagai contoh (ya, sepertinya hanya satu-satunya contoh mengingat hanya mereka yang pernah ke Bulan), NASA mendapatkan pendanaan misi ke Bulan pada tahun 1969-1972 dari Kongres AS.

NASA pada saat itu perlu membuat alasan yang masuk akal dan meyakinkan kepada Kongres untuk mengapa program pendaratan manusia ke Bulan harus didanai. Mendarat di Bulan bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan di tahun 80-an dan 90-an, bahkan juga saat ini.

Kongres AS rupanya menyetujui. Alasan utama pendaratan di Bulan oleh NASA didasari oleh politik. Amerika Serikat ingin membuktikan kepada dunia bahwa mereka lebih baik daripada Uni Soviet dalam masa Perang Dingin kala itu, yang sebelumnya mengalahkan AS dalam perlombaan luar angkasa (Soviet berhasil mengorbitkan manusia pertama ke luar angkasa, Yuri Gagarin).

Dengan alasan politik itu, ada banyak dukungan publik AS untuk misi pendaratan di Bulan oleh NASA. Yang memang pada akhirnya AS memenangkan perlombaan ke Bulan. Tidak hanya sekali, mereka telah beberapa kali, mulai dari misi Apollo 11 (1969), Apollo 12 (1969), Apollo 14 (1971), Apollo 15 (1971), Apollo 16 (1972), dan Apollo 17 (1972), dengan masing-masing misi membawa tiga astronot, dua di antaranya menginjakan kaki di Bulan.

Uni Soviet bergeming. Mereka seolah mengakui bahwa memang AS telah selangkah lebih maju dalam mendaratkan para astronotnya di Bulan.

Pascapendaratan di Bulan yang berkali-kali dilakukan NASA, Perang Dingin memudar. Pergi ke Bulan tidak lagi memiliki dukungan dan urgensi politik yang besar. Pada tahun-tahun berikutnya, NASA pun lebih fokus pada proyek-proyek lain, seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional dan misi pengiriman wahana antariksa ke sekitar tata surya.

Sekarang ini, NASA juga kemungkinan tidak akan pergi ke Bulan lagi kecuali ada alasan politik yang kuat untuk melakukannya. Misalnya, ketika akhirnya Tiongkok mendaratkan astronotnya di Bulan, mungkin AS akan berambisi mengalahkan rekor itu.

Tapi sejauh ini, belum ada lagi rencana misi pendaratan manusia di Bulan dalam waktu dekat oleh negara atau lembaga antariksa manapun.

Selain urgensi politik, tidak adanya lagi misi pendaratan di Bulan untuk sekadar menginjakan kaki lalu mengambil sampel tanahnya karena memang tidak harus dilakukan lagi. NASA sudah enam kali mendaratkan astronot di sana, dan jelas sudah banyak ilmu dan pengetahuan yang didapat mengenai Bulan dari misi-misi itu.

Bila kita telah lulus sekolah dan mendapatan banyak ilmu dari sana, untuk apa kita balik ke sekolah lagi? Bukankah seharusnya melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi?

Misi yang seharusnya dilakukan adalah membangun basis tempat tinggal permanen manusia di Bulan saja. Bumi yang telah penuh sesak oleh manusia bisa sedikit lebih lega bila sebagian kecil manusia dipindahkan ke Bulan.

Tapi, berbicara saja memang gampang. Pada kenyataannya, misi ke Bulan tergolong sulit dilakukan. Persiapan, perhitungan orbit, perancangan roket dan kendaraan antariksa, pelatihan astronot, hingga pendanaan adalah faktor-faktornya, terlebih bila misinya hanya sekadar mendaratkan kaki di Bulan.

Misi-misi ke Bulan saat ini justu lebih banyak direncanakan oleh perusahaan-perusahaan antariksa swasta, seperti SpaceX. Bahkan tidak hanya ke Bulan, mereka telah bekerja untuk membangun roket yang memungkinkan manusia untuk pergi ke Mars.

Ya, kita sudah hidup di masa depan. Peluncuran manusia ke luar angkasa bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Bulan sudah pernah dikunjungi, saatnya kita menatap yang lebih jauh dan menantang: Mars.
BERIKAN KOMENTAR ()