Mengukur Seluruh Cahaya Bintang di Alam Semesta

Ilustrasi. Kredit: InfoAstronomy.org
Info Astronomy - Seberapa banyak cahaya bintang yang dihasilkan alam semesta kita? Menurut sebuah studi terbaru, bintang-bintang telah memancarkan 4×10^84 foton (angka 4 dengan 84 angka nol di belakangnya) sejak alam semesta terbentuk 13,7 miliar tahun yang lalu.

Tunggu, tunggu. Bagaimana cara astronom tahu? Ngarang aja!

Dilansir EarthSky, sekelompok astronom internasional menghasilkan makalah ilmiah yang menjelaskan bahwa mereka telah mengukur semua cahaya bintang yang pernah dihasilkan sepanjang sejarah alam semesta yang teramati.

Studi baru yang diterbitkan pada 30 November 2018 di jurnal Science ini menyatakan bahwa jumlah foton (partikel cahaya tampak) yang telah dihasilkan bintang-bintang di alam semesta mencapai 4.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000, 000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 foton cahaya.

Tentu saja, ada banyak variabel yang digunakan dalam studi ini, sehingga angka yang didapat ini hanyalah angka kasar saja. Walau begitu, studi ini cukup mengesankan, bukan?

Para astronom percaya bahwa alam semesta kita dimulai dalam Big Bang, yang terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu. Sejak saat itu, alam semesta mulai membentuk bintang dengan sangat cepat. Hingga pada saat ini, diperkirakan ada sekitar dua triliun galaksi dan sekitar satu triliun triliun bintang yang telah terbentuk.

Mengukur semua cahaya bintang di alam semesta yang luas ini jelas merupakan tugas yang rumit dan bisa dibilang kurang kerjaan. Tapi, hei, setidaknya para astronom melakukan hal yang mereka cinta: meneliti.

Tim astronom internasional yang dipimpin oleh Marco Ajello dari Clemson College of Science ini mengatakan mereka mendapatkan angka 4 dengan 84 angka nol di belakangnya setelah menganalisis data dari wahana antariksa Fermi Gamma-ray Space Telescope milik NASA.

Perhitungan tersebut didasarkan pada pengukuran cahaya radiasi latar belakang ekstragalaksi, yang juga dikenal sebagai EBL. Sederhananya, EBL adalah sebuah kabut kosmis yang terdiri dari semua sinar ultraviolet, cahaya tampak, dan inframerah yang pernah dipancarkan oleh bintang. Jika kita bisa menganalisis EBL, kita telah mengambil langkah besar untuk mengukur semua cahaya bintang di alam semesta.

Tetapi, tidak semudah itu, Ferguso. Salah satu astronom dalam studi ini, Abhishek Desai, mengatakan, "Para astronom telah mencoba mengukur EBL sejak lama. Namun, gangguan-gangguan pengamatan langit seperti polusi cahaya telah membuat pengukuran ini sangat menantang."

Data dari Fermi Gamma-ray Space Telescope sendiri berisi data analisis cahaya dari 739 blazar, sebuah lubang hitam supermasif yang memancarkan pancaran sinar gamma yang kuat, yang cahayanya telah dipancarkan sejak alam semesta awal dan telah menghabiskan miliaran tahun untuk tiba di Bumi.

Blazar mampu melepaskan pancaran partikel jet energik untuk melintasi alam semesta dalam kecepatan cahaya. Ketika salah satu dari jet ini secara langsung bergerak ke arah Bumi, ia dapat dideteksi. Nah, foton sinar gamma yang dihasilkan dalam jet pada akhirnya akan bertabrakan dengan kabut kosmis (atau EBL tadi), sehingga akan meninggalkan jejak yang dapat diamati.

Dengan demikian, ketika para astronom mampu menganalisis EBL, mereka tidak hanya sedang melihat peristiwa kosmis yang sedang terjadi di masa sekarang, tetapi juga pada waktu tertentu dalam sejarah alam semesta. Mereka melihat seluruh bintang!

Itulah yang berhasil dilakukan oleh Ajello dan rekan-rekannya. Mereka menganalisis EBL dengan sangat teliti hingga mendapati hasil angka yang sangat besar tadi. Walau begitu, hasil perhitungan mereka ini masih bisa dikoreksi oleh para astronom lain di masa yang akan datang. Karena seperti yang kita tahu, sains adalah proses, bukan kumpulan fakta.

Untuk saat ini, setidaknya kita bisa tahu gambaran seberapa banyak cahaya bintang yang telah dihasilkan di sepanjang sejarah alam semesta.
BERIKAN KOMENTAR ()