Kiat-kiat untuk Mengamati Peristiwa Hujan Meteor

Hujan meteor Geminid tahun 2012. Kredit: Thomas O'Brian/Flickr
Info Astronomy - Sudah pernahkah kamu mengamati peristiwa hujan meteor? Tak mudah memang melihat peristiwa langit yang satu ini. Selain dibutuhkan langit gelap tanpa polusi cahaya, melihat hujan meteor juga perlu kesabaran. Berikut kiat-kiat khususnya~

Hujan meteor adalah peristiwa ketika Bumi, dalam orbitnya mengelilingi Matahari, memasuki bekas jalur orbit sebuah komet. Di bekas jalur orbit komet ini, terdapat jutaan partikel batuan kecil yang dikenal sebagai meteoroid.

Nah, karena Bumi menerjang jutaan meteoroid ini, maka mereka akan tertarik oleh gravitasi Bumi dan menerobos atmosfer Bumi lalu terbakar, itulah yang kita kenal sebagai meteor. Tapi karena jumlahnya banyak, maka secara kolektif disebut sebagai hujan meteor.

Seperti apa kiat-kiat untuk melihat hujan meteor?

Pertama, pastikan kamu tahu kapan peristiwa hujan meteor akan mencapai puncaknya. Karena Bumi mengelingi Matahari, Bumi selalu melewati garis orbit yang sama setiap tahunnya. Dengan kata lain, Bumi juga melewati bekas jalur komet yang sama, membuat hujan meteor menjadi peristiwa tahunan atau periodik.

Puncak peristiwa hujan meteor adalah titik waktu ketika Bumi diperkirakan akan disusupi sejumlah puing dari komet. Untuk jadwal hujan meteor tahun ini, kamu bisa baca artikel Jadwal Hujan Meteor Sepanjang Tahun 2018.

Kedua, amati mulai atau setelah tengah malam. Tapi, tahukah kamu mengapa harus saat setelah tengah malam? Hal ini dikarenakan meteor-meteor yang akan kita lihat tidak akan terlalu terang. Saat tengah malam, suasana sudah sangat gelap, apa lagi jika kamu tinggal jauh dari perkotaan, hal tersebut membuat lebih banyak meteor yang akan terlihat.

Perhatikan gambar di bawah ini:
Gerak revolusi Bumi yang membawanya berpapasan dengan meteoroid. Kredit: Kalastro.id
Seperti dijelaskan pada Kalastro.id, peristiwa hujan meteor adalah peristiwa ketika Bumi berpapasan terlalu dekat dengan segerombolan meteoroid. Dalam berpapasan itu, sisi Bumi yang searah dengan gerak revolusinya lah yang akan paling banyak terkena meteoroid. Dengan kata lain, sisi Bumi antara tengah malam - matahari terbit - tengah siang yang akan paling banyak terkena meteoroid.

Sebaliknya pada sisi Bumi yang membelakangi arah gerak revolusi, makan akan lebih sedikit terkena meteoroid. Karena meteoroid itu lebih dulu jatuh di sisi Bumi yang searah gerak revolusi. Jadi pada antara sisi tengah siang - matahari tenggelam - tengah malam akan jarang terkena tabrakan antara meteoroid dengan Bumi.

Sederhananya, sisi tengah malam Bumi akan lebih banyak mendapat intensitas masuknya meteor ke atmosfer daripada sisi tengah siang. Hal itu terjadi karena sisi tengah malam "menghadap" langsung ke arah segerombolan meteoroid, sementara sisi tengah siang tidak.

Ketiga, cari tahu titik radian di mana hujan meteor akan muncul. Titik radian adalah titik khayal di langit dari mana seolah meteor-meteor akan muncul saat peristiwa hujan meteor terjadi. Namun, kita tidak perlu terus-terusan menatap ke titik radian ini sebenarnya.

Meteor-meteor akan muncul dari segala arah langit, bisa dari timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, dan timur laut, bahkan bisa muncul di langit atas kepala, tidak hanya muncul dari titik radian. Adanya titik radian adalah agar kita bisa mengetahui kapan sebuah hujan meteor sudah bisa mulai diamati.

Misalkan, kita akan mengamati hujan meteor Orionid yang memiliki titik radian di rasi bintang Orion. Dengan mengetahui seperti apa rasi bintang Orion dan juga tahu kapan rasi bintang tersebut terbit di langit, kita dapat mengatur waktu pengamatan. Jadi misalkan rasi bintang Orion baru terbit pukul 2 dini hari, maka saat itulah meteor-meteor lebih banyak muncul.

Keempat, perhatikan fase Bulan. Jika sebuah peristiwa hujan meteor terjadi ketika Bulan masih berada pada fase kuartal/separuh atau lebih besar, kamu akan kesulitan melihat lesatan meteor. Hal ini dikarenakan pengamatan hujan meteor harus di lokasi dan langit yang gelap dan cerah.

Cahaya Bulan yang terang dapat membuat langit menjadi terang juga, sehingga meredupkan meteor-meteor yang lewat dan kamu justru nantinya tidak melihat apa-apa. Alternatif jika Bulan masih dalam fase yang cahayanya terang, tunggulah hingga Bulan terbenam atau tunggulah hujan meteor berikutnya.

Kelima, persiapan. Mengamati hujan meteor tidak memerlukan bantuan teleskop atau binokuler, melainkan cukup dan wajib dengan mata telanjang saja. Kamu hanya memerlukan kursi santai atau tikar panjang agar bisa berbaring mengamati langit. Sebelum mendapatkan meteor pertama, pastikan kamu telah mengadaptasi mata dengan gelapnya langit selama setidaknya 20 menit.

Selamat berburu meteor!


Sumber: Sky and Telescope.
BERIKAN KOMENTAR ()