Menanti Puncak Hujan Meteor Orionid 2019

Info Astronomy - Pekan ini, hujan meteor Orionid akan mulai muncul menghiasi langit malam, dengan puncaknya pada 21 Oktober 2019 mendatang. Bisakah diamati di Indonesia? Apakah ini merupakan peristiwa yang aman?

Jawaban singkatnya, ya dan ya.

Hujan meteor tidak seseram namanya. Ini merupakan peristiwa ketika ada begitu banyak meteor yang muncul dalam suatu waktu, sehingga seolah bagaikan dihujani meteor. Tapi tenang, karena berasal dari debu dan puing komet yang kecil-kecil, ukuran meteor yang akan diamati juga kecil-kecil.

Peristiwa hujan meteor terjadi ketika ada begitu banyak kerikil kecil atau puing-puing dari sebuah komet yang masuk ke atmosfer Bumi. Ketika komet mendekati Matahari, mereka akan menguap karena radiasi dari Matahari. Penguapan itu membuat material pada tubuh komet terkelupas, tertinggal di sepanjang jalur orbit yang ia lewati.

Baca Juga: Mengapa Komet Jarang Muncul di Langit?

Setiap tahunnya dalam mengelilingi Matahari, Bumi kita sering melintasi bekas jalur orbit komet-komet tersebut, sehingga gravitasi Bumi yang kuat menarik material-material komet yang terkelupas untuk menjadi peristiwa hujan meteor.

Material-material komet yang memasuki atmosfer Bumi ini biasanya sudah terbakar habis pada ketinggian 100 kilometer, sehingga tidak ada satu pun dari meteor-meteor ini yang bisa mencapai permukaan Bumi.

Cukup mudah dipahami, kan? Nah, hujan meteor yang akan kita amati kali ini dinamai sebagai "Orionid". Namanya diambil dari nama rasi bintang di mana meteor-meteor ini seolah berasal, yakni rasi bintang Orion, rasi bintang paling terkenal dan mudah ditemukan karena memiliki ciri khas tiga bintang berjejernya, Alnilam, Alnitak, dan Mintaka.
Terjadi dalam rentang waktu mulai 2 Oktober hingga 7 November setiap tahunnya, pada masa-masa itulah Bumi melewati jalur yang berisikan puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet Halley. Walau begitu, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah pada saat puncaknya, 21 Oktober, ketika Bumi berada tepat di tengah-tengah area puing Halley.

Nantinya, persis seperti pada gambar ilustrasi rasi bintang Orion di atas, kita bisa melihat hujan meteor ini mulai jam 10 malam ketika titik radian Orionid sudah berada lebih tinggi dari 20 derajat dari cakrawala timur. Titik radian ini tidak akan diam saja, melainkan bergerak ke barat 15 derajat per jam akibat rotasi Bumi.

Sayangnya, pada puncak Orionid 2019 ini, Bulan akan berada pada fase perbani keduanya, sehingga cahayanya yang masih cukup terang agak mengganggu, meredupkan meteor-meteor yang pada dasarnya sudah redup.

Tanpa ada gangguan Bulan, kita sebenarnya bisa melihat hingga 20 meteor per jam. Namun, karena tahun ini ada Bulan, menurut EarthSky.org intensitasnya bisa menurun hingga 5-10 meteor per jam saja, itu pun hanya kalau diamati dari lokasi pengamatan yang cerah dan bebas polusi cahaya.

Oh iya, meteor-meteor pada Orionid ini terkenal sebagai meteor yang bergerak sangat cepat. Mereka bisa melesat jatuh melewati atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik. Jadi, kenampakannya di langit akan sekedipan mata saja, disertai dengan cahaya yang sangat terang dan kadang bisa terpecah menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil.

Baca Juga: Tips Melihat Hujan Meteor Agar Berhasil

Cara terbaik untuk melihat hujan meteor Orionid adalah carilah lokasi dengan area pengamatan yang terbuka, bisa itu di lapangan terbuka, pantai, di atas gunung, dan lain sebagainya asalkan medan pandangnya luas. Selain itu, pastikan lokasinya masih cukup gelap, minimal kamu bisa melihat begitu banyak bintang di langit, jadi bukan di sekitar perkotaan besar.

Gunakan juga jaket biar kamu tetap hangat. Ingat, pengamatan meteor paling baik dilakukan pada tengah malam sampai menjelang Matahari terbit, waktu-waktu di mana suhu begitu dingin, terlebih bagi kamu yang memutuskan untuk ke gunung.

Bagaimana? Sudah siap untuk berburu hujan meteor Orionid tahun ini?
BERIKAN KOMENTAR ()