10 Peristiwa Langit Paling Menarik di Tahun 2019

Kredit foto: VCG
Info Astronomy - Tahun 2019 seharusnya ada gerakan #2019BeliTeleskop. Bagaimana tidak, di tahun tersebut, akan ada banyak peristiwa langit menarik untuk diamati. Nah, di artikel ini, kami telah merangkum 10 di antaranya yang paling menarik. Apa saja ya kira-kira?

Baiklah, mari kita bahas satu per satu~

Hujan Meteor

Pernahkah kamu mengamati hujan meteor? Walaupun terdengar menyeramkan, peristiwa langit yang satu ini sama sekali tidak berbahaya, tetapi justru termasuk yang paling menarik.

Hujan meteor adalah peristiwa munculnya banyak meteor dalam semalam, yakni pada puncaknya. Banyaknya meteor tersebut disebabkan oleh Bumi yang melintasi bekas jalur orbit komet. Ketika komet mendekati Matahari, ia akan terkikis sehingga meninggalkan remah-remahnya di sepanjang jalur orbitnya.

Pada waktu-waktu tertentu, dalam orbitnya mengelilingi Matahari, Bumi kita melintasi bekas jalur komet tersebut, sehingga remah-remah komet tadi akan masuk ke atmosfer menjadi meteor. Karena jumlahnya banyak, maka dijulukilah sebagai hujan meteor.

Di tahun 2019 ini, ada tiga hujan meteor terbaik yang bisa diamati. Mereka adalah:

1. Hujan Meteor Perseid
Inilah hujan meteor terbaik setiap tahunnya, termasuk untuk tahun 2019. Dengan intensitas kemunculan meteor yang berkisar 50-100 meteor per jam, kita bisa menikmati puncaknya pada tanggal 13 Agustus 2019.

Mengamatinya cukup mudah. Mulailah pengamatan pada tengah malam, lalu tengok arah langit timur laut untuk menemukan rasi bintang Perseus. Meteor-meteor akan tampak memancar dari rasi bintang tersebut. Pengamatan hujan meteor tidak membutuhkan teleskop, tetapi hanya perlu cuaca cerah dan kondisi langit bebas polusi cahaya.

2. Hujan Meteor Orionid
Mencapai puncaknya pada 21 Oktober 2019, hujan meteor Orionid termasuk dalam hujan meteor terbaik setiap tahunnya. Meteor-meteor pada hujan meteor Orionid ini berasal dari remah-remah Komet Halley, dan akan mencapai intensitas 10-20 meteor per jam pada puncaknya.
Titik radian hujan meteor Orionid. Kredit: Skyandtelescope.com
Bagaimana cara mengamatinya? Kenakan jaket, lalu berbaringlah sambil menatap langit. Meteor-meteor akan tampak memancar dari rasi bintang Orion, rasi yang memiliki ciri khas tiga bintang sejajarnya. Pengamatan bisa dilakukan mulai tengah malam.

3. Hujan Meteor Geminid
Dari namanya, kita bisa tahu kalau titik radian hujan meteor ini adalah rasi bintang Gemini. Akan muncul sekitar 80 meteor per jam pada puncaknya, 14 Desember 2019. Tapi, berbeda dengan Perseid dan Leonid yang bisa diamati sejak tengah malam, Leonid paling baik diamati mulai pukul 2 dini hari sampai menjelang Matahari terbit.

Gerhana

Di tahun 2018 ini, ada empat gerhana yang telah kita amati di Indonesia. Lalu, bagaimana di tahun 2019 mendatang? Nah, 2019 akan menyajikan dua gerhana untuk Indonesia, yakni gerhana Bulan parsial dan gerhana Matahari cincin, yang masing-masing terjadi pada tanggal 17 Juli 2019 dan 26 Desember 2019.

Gerhana Bulan Parsial 17 Juli 2019
Gerhana Bulan parsial, atau dikenal juga sebagai gerhana Bulan sebagian, merupakan peristiwa ketika hanya sebagian wajah Bulan saja yang terhalangi oleh bayangan umbra Bumi. Di tahun 2019, kita bisa menyaksikan fenomena ini pada 17 Juli.
Gerhana Bulan Parsial 2017. Kredit: Riza
Gerhana Bulan parsial ini akan berlangsung selama 5 jam 34 menit, dengan fase parsial berlangsung selama 2 jam 58 menit. Nantinya, kita akan melihat sekitar 65% wajah Bulan akan masuk bayangan umbra Bumi.

Gerhana ini akan bisa diamati mulai pukul 01:34 WIB, ketika Bulan memasuki bayangan penumbra Bumi. Gerhana parsial sendiri akan dimulai pukul 03:01 WIB, puncaknya terjadi pada 04:30 WIB, dan akan berakhir pada pukul 05:59 WIB.

Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019
Sambil memperingati 15 tahun peristiwa tsunami Aceh, kita berkesempatan mengamati peristiwa gerhana Matahari cincin.

Ya, Matahari akan tampak seperti cincin sehingga dijuluki sebagai "Ring of Fire" pada puncak peristiwa gerhana ini. Namun, hanya wilayah-wilayah yang dilalui jalur cincin saja yang bisa mengamatinya. Di luar jalur itu, kamu hanya bisa melihat gerhana Matahari parsial.

Perhatikan peta visibilitas gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019 di bawah ini:
Jalur gerhana Matahari cincin 26 Desember 2019. Kredit: Fred Espenak
Dari peta visibilitas di atas, kita bisa melihat ada dua pulau besar di Indonesia yang dilalui jalur gerhana cincin, yakni Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Untuk wilayah-wilayahnya, yang dilalui jalur cincin adalah Pulau Simeulue, Sinabang, Aceh Singkil, Sibolga, Padangsidempuan, Balaipungut, Tanjungpinang, Kijang, Sungai Raya, Pemangkat, Singkawang, Tanjung Selor, hingga Derawan.

Selain wilayah-wilayah di atas, pengamat hanya bisa melihat gerhana Matahari parsial. Sebagai perbandingan Derawan akan berkesempatan melihat gerhana cincin sebesar 92%, sementara Jakarta hanya melihat gerhana Matahari parsial sebesar 72%.

Jadi, menabunglah dari sekarang untuk bisa melakukan trip ke wilayah-wilayah yang dilalui jalur cincin tersebut apabila kamu tidak mau melewatkan peristiwa langit langka yang satu ini~

Mengamati Planet

Di langit malam yang cerah, kita bisa melihat setidaknya lima planet terang, yakni Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Nah, ada waktu-waktu tertentu di mana planet-planet ini berada di posisi terbaiknya untuk diamati, salah satunya adalah ketika planet berada di titik oposisi.

Apa itu oposisi? Secara harfiah, oposisi adalah berlawanan. Dalam astronomi, ketika sebuah planet berada pada titik oposisi, maka dengan kata lain sang planet sedang berada pada posisi yang berlawanan dari Matahari di langit Bumi. Dalam hal ini, konfigurasinya di tata surya adalah Matahari-Bumi-planet berada segaris lurus.

Planet-planet yang bisa mengalami oposisi adalah planet-planet luar yang terang, yakni Mars, Jupiter, dan Saturnus. Nah, di tahun 2019 ini, tanggal berapa saja oposisi ketiga planet akan terjadi?

Oposisi Mars
Planet Merah, sayangnya, tidak akan mengalami oposisi di tahun 2019. Hal itu disebabkan periode Mars untuk mengalami oposisi terhadap Matahari bervariasi antara 765 hingga 800 hari.

Planet tetangga Bumi kita tersebut sudah berada di titik oposisi pada 27 Juli 2018 kemarin, sehingga oposisi berikutnya baru akan terjadi lagi pada 13 Oktober 2020. Walau begitu, Mars masih bisa diamati di sepanjang tahun 2019 dengan rona merahnya yang khas.

Oposisi Jupiter
Sang planet raksasa gas yang juga merupakan planet terbesar setata surya kita tersebut akan mengalami oposisi pada 10 Juni 2019. Ketika itu, Jupiter akan berada pada jarak sekitar 4,28 AU (1 AU = 150 juta kilometer) dari Bumi, jarak terdekat di antara kedua planet.

Ini adalah saat terbaik untuk mengamati Jupiter. Dalam pandangan mata telanjang, ia akan muncul bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip di langit. Sementara bila diamati melalui teleskop, kamu bisa melihat badai merah besar di atmosfernya beserta empat bulan terbesar Jupiter: Ganimede, Io, Europa, dan Kalisto.

Oposisi Jupiter akan membuat planet ini muncul dengan diameter sudut selebar 45 detik busur dan akan mencapai magnitudo -2,6.

Oposisi Saturnus
Planet bercincin akan mencapai oposisi pada 9 Juli 2019. Nantinya, Saturnus akan mencapai jarak sejauh 9,03 AU dari Bumi, jarak terdekatnya. Akan muncul dengan diameter sudut selebar 18,4 detik busur, oposisi juga akan membuat Saturnus mencapai magnitudo 0,1.

Sayangnya, karena jaraknya masih cukup jauh dari Bumi, kita belum bisa melihat cincin Saturnus bila pengamatan dilakukan tanpa teleksop. Jadi, siapkan teleksopmu untuk melihat Saturnus yang lengkap dengan cincinnya nanti.

Supermoon

Supermoon, atau Bulan purnama perigee, merupakan peristiwa yang terjadi ketika Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi dalam jalur orbitnya yang elips. Nah, tanggal berapa Supermoon akan terjadi untuk tahun 2019?
Supermoon vs Minimoon. Kredit: Timeanddate.com
Catat tanggalnya: 19 Februari 2019. Di tanggal itu, Bulan akan berada pada jarak sekitar 356.800 kilometer dari Bumi, jarak terdekatnya di sepanjang tahun 2019. Bulan yang mencapai fase purnama tersebut akan muncul 30% lebih terang dan 14% lebih besar daripada seluruh Bulan purnama yang akan terjadi di tahun 2019.

Galaksi Bimasakti

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu terbaik untuk mengamati bentangan galaksi Bimasakti adalah saat musim kemarau. Di tahun 2019 ini, kamu bisa mulai berburu Bimasakti pada bulan Juni hingga Agustus.

Bagaimana cara mengamatinya? Rencanakanlah perjalanan atau trip ke daerah yang masih minim polusi cahaya, seperti pegunungan, pantai, atau pedesaan. Kuncinya cuma satu: minim polusi cahaya. Itu saja, dan kamu bisa melihat bentangan Bimasakti.
Infografik memotret Bimasakti. Kredit: InfoAstronomy.org
Kenampakan galaksi Bimasakti akan sangat berbeda dengan hasil jepretan kamera bila kamu mengamatinya dengan mata telanjang. Dalam pengamatan mata, bentangan galaksi Bimasakti hanya seperti kabut putih tipis yang membentang dari barat daya ke timur laut.

Perbedaan yang terjadi tersebut disebabkan karena kamera memiliki kemampuan pengumpulan cahaya yang jauh lebih canggih daripada yang mata manusia bisa lakukan. Kamera memiliki fitur yang dikenal sebagai eksposur. Semakin tinggi nilai eksposur, semakin banyak cahaya dari bentangan galaksi Bimasakti yang bisa dikumpulkan.

Nah, itulah 10 peristiwa langit paling menarik yang akan terjadi di sepanjang tahun 2019. Peristiwa-peristiwa langit di atas bukan prediksi, melainkan pasti akan terjadi karena sudah diperhitungkan secara astronomis.

Untuk jadwal peristiwa langit lainnya, kamu bisa membeli Kalender Astronomi 2019, klik gambar di bawah ini untuk membelinya:

BERIKAN KOMENTAR ()