![]() |
| Sempat dikabarkan akan muncul terang, komet C/2026 A1 (MAPS) kini resmi hancur. Gambar ini diambil lewat teleskop antariksa James Webb. Kredit: NASA/ESA/CSA, Melina Thevenot, Qicheng Zhang |
InfoAstronomy - Belakangan ini, banyak pemberitaan di media katanya pada awal April 2026 ini, sebuah komet yang bernama C/2026 A1 (MAPS) akan muncul terang di langit sehingga bisa kita amati. Tadinya, berita ini hampir benar, sampai akhirnya sang komet mencapai perihelion lalu hancur.
Perihelion? Hancur? Kok bisa?
Jadi, pada 4 April 2026 kemarin, komet MAPS ini melesat mendekati titik terdekatnya dari Matahari pada jarak yang nyaris tidak masuk akal, hanya sekitar 160.000 kilometer dari permukaan bintang pusat tata surya kita itu. Fenomena ini dikenal sebagai perihelion.
Sebagai perbandingan, diameter Matahari sendiri mencapai hampir 1,4 juta kilometer. Jarak sedekat itu bukan kunjungan, melainkan lebih mirip bunuh diri kosmis. Dan memang begitulah akhirnya: Komet MAPS hancur sebelum sempat menjauh kembali dari Matahari.
Ditemukan Lewat Teleskop Amatir di Gurun Atacama
Kisah MAPS dimulai dengan cara yang cukup tidak biasa. Komet ini bukan ditemukan oleh observatorium besar yang didanai pemerintah, melainkan oleh sekelompok astronom amatir asal Prancis yang menjalankan program pengamatan mereka sendiri di San Pedro de Atacama, Cili.Nama programnya, MAPS, akronim dari nama belakang keempat orang astronom amatir di baliknya: Maury, Attard, Parrott, dan Signoret. Mereka menggunakan teleskop berdiameter 28 sentimeter, dan pada 13 Januari 2026, mereka menangkap sesuatu yang belum pernah ada yang lihat sebelumnya, sebuah komet baru!
![]() |
| Citra pertama Komet C/2026 A1 dari observatorium MAPS. Kredit: San Pedro de Atacama Celestial Explorations |
Apa yang membuat penemuan ini langsung menarik perhatian adalah kecerahan komet yang tidak wajar sejak awal ditemukan, padahal jaraknya masih sangat jauh dari Bumi dan Matahari. Bayangkan saja, jarak ketika ditemukan masih sekitar 2,056 AU (307,6 juta kilometer) dari Matahari.
Meski begitu, pada jarak yang masih sangat jauh itu, Komet MAPS sudah bersinar di magnitudo visual +18. Angka magnitudo visual ini memang terlalu redup untuk dilihat mata telanjang, tapi luar biasa cerah untuk ukuran komet yang masih berada pada jarak dua kali lipat jarak Bumi ke Matahari.
Para astronom segera memperhatikan bahwa ini bisa menjadi komet besar tahun ini. Estimasi awal menyebutkan diameter intinya mungkin mencapai sekitar 2,4 kilometer, meski pengamatan lanjutan dengan Teleskop Antariksa James Webb merevisinya ke angka yang lebih konservatif, sekitar 400 meter, yang kurang lebih sebanding dengan ukuran komet Lovejoy tahun 2011.
MAPS sendiri diduga merupakan fragmen yang berafiliasi dengan Komet Besar 1843 dan komet Pereyra yang muncul tahun 1963. Lebih menarik lagi, berdasarkan kalkulasi orbitnya, MAPS diperkirakan terakhir mengunjungi bagian dalam tata surya kita antara 1.700 hingga 1.886 tahun yang lalu, ketika di Bumi sedang terjadi puncak masa Pax Romana, periode yang dikenal sebagai masa damai panjang di Kekaisaran Romawi, ekonomi dan infrastruktur mulai berkembang.
Komet Keluarga Kreutz
MAPS bukan komet sembarangan. Orbitnya menempatkannya dalam kategori yang disebut Kreutz sungrazer, sebuah keluarga komet yang dikenal karena kebiasaannya menyelam sangat dekat ke Matahari. Para ilmuwan percaya seluruh keluarga Kreutz ini adalah serpihan dari satu komet induk yang sangat besar, yang hancur berkeping-keping berabad-abad atau bahkan beribu-ribu tahun lalu.MAPS sendiri diduga merupakan fragmen yang berafiliasi dengan Komet Besar 1843 dan komet Pereyra yang muncul tahun 1963. Lebih menarik lagi, berdasarkan kalkulasi orbitnya, MAPS diperkirakan terakhir mengunjungi bagian dalam tata surya kita antara 1.700 hingga 1.886 tahun yang lalu, ketika di Bumi sedang terjadi puncak masa Pax Romana, periode yang dikenal sebagai masa damai panjang di Kekaisaran Romawi, ekonomi dan infrastruktur mulai berkembang.
Astronomer Zdenek Sekanina dari NASA bahkan mengajukan kemungkinan bahwa MAPS bisa jadi adalah komet yang teramati di siang bolong pada tahun 363 Masehi di wilayah yang kini dikenal sebagai Antakya, Turki, sebuah peristiwa yang dicatat oleh sejarawan Yunani-Romawi Ammianus Marcellinus pada masa itu.
Kalau itu benar, maka manusia sudah pernah menyaksikan komet ini sebelumnya, lebih dari 16 abad lalu, jauh sebelum ada teleskop, sebelum ada nama untuk benda-benda seperti ini.
Hal yang membunuhnya bukan hanya panas Matahari yang sangat ekstrem pada jarak sedekat itu, melainkan juga tarikan gravitasi Matahari yang bekerja secara diferensial pada bagian-bagian komet yang berbeda. Artinya, sisi komet yang lebih dekat ke Matahari ditarik dengan jauh lebih kuat dari sisi yang lebih jauhnya dari Matahari. Efek ini, ditambah panas ekstrem yang memaksa material volatil komet menguap secara eksplosif dari permukaan, cukup untuk merobek komet menjadi serpihan.
Kalau itu benar, maka manusia sudah pernah menyaksikan komet ini sebelumnya, lebih dari 16 abad lalu, jauh sebelum ada teleskop, sebelum ada nama untuk benda-benda seperti ini.
Terlalu Dekat untuk Selamat
Perihelion, atau titik terdekat MAPS dengan Matahari, terjadi pada 4 April 2026 sekitar pukul 22:18 WIB. Pada titik itu, komet ini berada hanya 160.000 kilometer dari permukaan Matahari. Itu jauh lebih dekat dari perkiraan semula, dan pada jarak sedekat itu, tidak ada komet sekecil ini yang bisa bertahan utuh.Hal yang membunuhnya bukan hanya panas Matahari yang sangat ekstrem pada jarak sedekat itu, melainkan juga tarikan gravitasi Matahari yang bekerja secara diferensial pada bagian-bagian komet yang berbeda. Artinya, sisi komet yang lebih dekat ke Matahari ditarik dengan jauh lebih kuat dari sisi yang lebih jauhnya dari Matahari. Efek ini, ditambah panas ekstrem yang memaksa material volatil komet menguap secara eksplosif dari permukaan, cukup untuk merobek komet menjadi serpihan.
Hasilnya, menurut pengamatan wahana antariksa SOHO, komet MAPS awalnya terlihat mendekati Matahari, tapi kemudian tidak tampak lagi setelah menyelinap mendekati Matahari yang ditutupi koronagraf. Komet ini pecah, hancur berantakan.
![]() |
| Momen pergerakan komet MAPS mendekati Matahari pada 4 April 2026. Kredit: NASA |
Beberapa komet lain pernah melewati ujian serupa dan mampu bertahan. Komet Ikeya-Seki pada tahun 1965 misalnya, sempat tercatat melintas dalam jarak 450.000 kilometer dari Matahari dan keluar sebagai salah satu komet paling terang abad ke-20, bersinar di magnitudo -10. Ada pula Komet Lovejoy pada tahun 2011 yang bahkan lebih nekat, melintas hanya 140.000 kilometer dari permukaan Matahari dan masih hidup, lalu muncul kembali dengan kecerlangan mendekati magnitudo -3, seterang Venus.
MAPS melintas dekat Matahari mirip Lovejoy, akan tetapi dengan ukuran inti komet yang tampaknya lebih kecil, hal yang akhirnya membuat MAPS menyerah diterjang panas dan gravitasi Matahari.
Jadi, tidak akan ada pemandangan spektakuler Komet MAPS di langit malam, tidak ada ekor terang yang membelah cakrawala setelah senja, yang tersisa hanyalah puing-puing dan, bagi para ilmuwan, data yang sangat berharga tentang apa yang terjadi ketika sebuah komet melintas terlalu dekat ke bintang induk tata surya kita.
Sumber & Referensi:
Jadi, tidak akan ada pemandangan spektakuler Komet MAPS di langit malam, tidak ada ekor terang yang membelah cakrawala setelah senja, yang tersisa hanyalah puing-puing dan, bagi para ilmuwan, data yang sangat berharga tentang apa yang terjadi ketika sebuah komet melintas terlalu dekat ke bintang induk tata surya kita.
Sumber & Referensi:
- Baldwin-Fiebrich, E. & Norman, E. (2026). Potentially bright 'sungrazing' comet discovered. Astronomy Now.
- Burlaka, O. (2026). Comet C/2026 A1 (MAPS) may break apart in the coming days. UniverseMagazine.
- Carter, J. (2026). Rare 'sungrazer' comet MAPS will shine superbright on Saturday — if it survives a dangerous encounter with our star. LiveScience.
- Green, D. W. (2026). Comet C/2026 A1 (MAPS). Central Bureau for Astronomical Telegrams. 5675.
- Irrizary, E. (2026). Sungrazing Comet MAPS breaks up in its near-sun flyby. EarthSky.
- Maury, A. (2026). The discovery of comet C/2026 A1 MAPS. San Pedro de Atacama Celestial Explorations
- Rao, J. (2026). Comet MAPS faces a make-or-break moment as it dives toward the sun on April 4 — could it shine in the daytime sky?. SPACE.


