Akses artikel Premium dengan Astronomi+, mulai berlangganan.

Saran pencarian

Kapan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah? Ini Menurut Data Hisab

Kapan Idulfitri 1 Syawal 1447 H? Kita bisa dengan mudah mengetahuinya berdasarkan hisab. Cari tau lebih lanjut yuk!
Hilal selalu dicari saat menjelang Ramadan atau Idulfitri, apa itu hilal sebenarnya?. Kredit: Pexels / dushenkovsky

InfoAstronomy - Setiap tahun, menjelang akhir Ramadan, sebuah pertanyaan yang sama pasti selalu muncul: Idulfitri jatuh tanggal berapa? Jawabannya tidak sesederhana kita membuka kalender karena semuanya bergantung pada satu hal, yaitu hilal. Apa itu hilal sebenarnya?

Hilal adalah Bulan sabit yang pertama kali muncul setelah konjungsi, yaitu momen ketika Bulan dan Matahari berada di titik yang sejajar, dan baru bisa dihitung sejak terlihat setelah Matahari terbenam. Tidak semua Bulan sabit bisa disebut hilal, dan itulah yang membuat penentuannya tidak bisa asal-asalan.

Dalam fikih Islam, hilal adalah penanda resmi pergantian bulan dalam kalender Hijriah, sehingga baik yang menggunakan rukyat (pengamatan langsung) maupun hisab (perhitungan astronomis), keduanya tetap harus merujuk pada kapan hilal terbentuk.

Pencarian hilal selalu dilakukan di tanggal ke-29 bulan Hijriah, karena di situlah konjungsi biasanya terjadi. Ini berkaitan dengan cara kalender Hijriah bekerja, yaitu mengikuti siklus sinodis Bulan yang lamanya 29,5 hari. Tanggal 29 adalah titik paling logis untuk memeriksa apakah bulan baru sudah dimulai atau belum.

Untuk 1 Syawal 1447 H, perhitungan hisab menunjukkan bahwa konjungsi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, tepatnya pukul 08.23 WIB. Saat Matahari terbenam di hari yang sama, posisi Bulan memang sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia, tapi ketinggiannya masih sangat rendah. Di Jakarta misalnya, Bulan hanya berada di ketinggian sekitar 1°57' dengan elongasi 5°42', angka yang jauh di bawah ambang batas yang disyaratkan untuk bisa diklaim sebagai hilal yang terlihat.

Dari data itulah dua metode berbeda menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.

Metode pertama adalah imkan rukyat, yang digunakan pemerintah melalui Kemenag. Metode ini mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat Matahari terbenam. Karena data 19 Maret 2026 tidak memenuhi syarat tersebut di wilayah Indonesia, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Syawal kemungkinan akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Metode kedua adalah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang digunakan Muhammadiyah. Metode ini tidak bergantung pada pengamatan lokal, melainkan menganggap seluruh Bumi sebagai satu kesatuan wilayah penentuan. Cukup ada satu titik di mana pun di permukaan Bumi yang memenuhi syarat ketinggian 5 derajat dan elongasi 8 derajat sebelum pukul 00.00 UTC, maka pergantian bulan dianggap berlaku secara global. Ternyata, pada 19 Maret 2026, ada satu titik di barat laut Rusia yang memenuhi syarat tersebut. Maka menurut KHGT, 1 Syawal jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Jadi keduanya berbeda, dan keduanya benar. Bukan karena salah satu salah hitung, tapi karena keduanya menggunakan kerangka ilmiah yang berbeda dengan parameter yang berbeda pula. Rukyat dan hisab sama-sama diakui secara syariat, dan perbedaan seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Ramadan dan Syawal.

Bulan-bulan Hijriah lain seperti Muharram, Safar, atau Rabiulawal juga sering berbeda penetapannya. Hanya saja karena tidak ada ibadah serentak yang sensitif terhadap tanggal di bulan-bulan itu, perbedaannya tidak pernah terasa. Ramadan dan Syawal berbeda karena kita semua terlibat langsung, dan tiba-tiba perbedaan itu terasa sangat nyata.

Sumber & Referensi:
  • Akbar, R., Nurhafiza, N., & Katsirin, K. (2026). Menjaga Wajah Islam Asia Tenggara: Peran MABIMS dalam Harmonisasi Hilal, Halal, dan Ideologi Wasathiyah. Jurnal Global Futuristik, 4(1), 1-18.
  • Einstein, A. (2026). Perhitungan Astronomis Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H / 2026 M. Kafapet Unsoed.
  • Fitriyani, F., Isfihani, I., & Octasari, A. (2024). Implikasi Kriteria Imkanur Rukyat Mabims Baru Terhadap Penyatuan Awal Bulan Kamariah Di Indonesia. Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah, 7(2), 462-482.
  • Ilham. (2026). Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal, 1 Syawal 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026 Muhammadiyah.or.id.
  • Noryanti, W. (2024). Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal Perspektif Muhammadiyah (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).
  • Sado, A. B. (2014). Imkan Al-rukyat Mabims (solusi penyeragaman kelender hijriyah). Istinbath: Jurnal Hukum Islam IAIN Mataram, 13(1), 22-36.
Riza adalah astronom amatir yang telah menulis konten astronomi sejak tahun 2012. Riza secara aktif menjadi mentor kelas astronomi di BelajarAstro.com. Hubungi lewat riza@belajarastro.com.

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.