Peristiwa Langit Oktober 2019: Melihat Planet dan 2 Hujan Meteor

Peristiwa langit Oktober 2019
Info Astronomy - Peristiwa langit Oktober 2019 siap untuk diamati. Mulai dari konjungsi planet-planet dengan Bulan hingga dua peristiwa hujan meteor, langit Oktober akan sangat ramai setiap malamnya.

Seperti biasa, InfoAstronomy.org telah merangkum jadwal peristiwa langit yang sudah ditunggu-tunggu olehmu maupun oleh media-media mainstream untuk disalin. Daripada penasaran Oktober ini ada peristiwa langit apa saja, langsung simak yuk.

3-4 Oktober 2019: Konjungsi Bulan dengan Jupiter
Dalam dua malam berturut-turut, planet Jupiter akan tampak berada di dekat Bulan dalam pandangan dari Bumi. Peristiwa ini dikenal sebagai konjungsi, atau yang memiliki arti "searah". Dengan kata lain, Bulan dan Jupiter akan berada dalam arah pandangan yang sama saat kita mengamatinya.

Dekatnya Bulan dan Jupiter pada 3 Oktober 2019 akan sejauh 5 derajat, sementara pada 4 Oktober 2019 akan berada sejauh 7 derajat, persis seperti gambar berikut ini:
Peristiwa langit Oktober 2019
Kamu bisa mengamati peristiwa ini mulai 30 menit setelah Matahari terbenam. Nantinya, kedua benda langit itu akan berada lebih tinggi dari 40 derajat dari cakrawala barat. Itu artinya, arahkan pandanganmu ke arah barat selepas Magrib ya.

Untuk melihat Jupiter lebih jelas, kamu membutuhkan teleskop. Dalam pandangan mata, Jupiter hanya akan tampak bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip di dekat Bulan.

Baca Juga: Mengapa Bintang Berkelap-kelip Tapi Planet Tidak?

5-6 Oktober 2019: Konjungsi Bulan dengan Saturnus
Setelah Jupiter, giliran Saturnus yang akan menemani Bulan. Dan sama seperti Jupiter, planet Saturnus akan dua malam tampak dekat dengan Bulan, walau sebenarnya berjauhan di tata surya kita (iya, kayak kamu dan dia, tampak dekat tapi sebenarnya berjauhan, hhe).

Perhatikan gambar di bawah ini deh. Pada 5 Oktober, Saturnus akan berada sejauh 4 derajat dari Bulan, lalu pada 6 Oktober akan berada sejauh 7 derajat dari Bulan:
Peristiwa langit Oktober 2019
Untuk mengamatinya, kamu hanya perlu melihat ke langit atas kepala saja sekitar setengah jam setelah Matahari terbenam. Kedua benda langit ini akan ada di sana dengan Saturnus yang akan muncul bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip. Kamu butuh teleskop untuk bisa melihat Saturnus ya!

Keduanya bisa diamati sampai menjelang tengah malam dalam dua malam berturut-turut. Pastikan cuaca cerah saja deh pokoknya.

11 Oktober 2019: Hujan Meteor Selatan Taurid
Tenang, tenang... hujan meteor bukan peristiwa yang berbahaya kok!

Pernah melihat bintang jatuh? Nah, hujan meteor adalah peristiwa ketika ada banyak sekali bintang jatuh dalam suatu waktu tertentu. Tapi walaupun namanya bintang jatuh, yang nantinya melesat di langit bukan benar-benar bintnag ya, melainkan sebuah batuan angkasa kecil yang berasal dari puing-puing komet.

Ketika mendekati Matahari, komet akan menguap tuh. Ia akan membentuk ekor sehingga jalur orbit yang dilaluinya akan terdapat serpihan atau puing-puing yang lepas dari ekornya itu. Ketika orbit Bumi membawanya melintasi bekas jalur orbit komet tadi, maka puing-puingnya akan masuk ke atmosfer, terbakar sebagai meteor.

Ukurannya kecil-kecil kok. Batuan angkasa tersebut bahkan akan habis terbakar di atmosfer sebelum bisa mencapai permukaan Bumi. Jadi, yang kita lihat nanti justru akan menjadi fenomena yang sangat menarik!

Baca Juga: Kiat-kiat Melihat Hujan Meteor

Hujan meteor Selatan Taurid sendiri berasal dari debris komet 2P/Encke. Tapi walaupun namanya mengandung "Taurus", titik radian ini ada di dekat rasi bintang Cetus, bukan rasi bintang Taurus. Akan ada 5 meteor per jam saat puncaknya. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah mulai pukul 01:00 dini hari, saat titik radianya berada pada posisi paling tinggi di langit.
Peristiwa langit Oktober 2019
Indonesia sendiri merupakan lokasi paling optimal untuk melihat hujan meteor ini karena titik radiannya berada di dekat ekliptika. Untuk mengamati hujan meteor, kamu tidak perlu teleskop, cukup mata telanjang dan gunakan jaket biar tetap hangat. Semoga cuaca cerah!

14 Oktober 2019: Bulan Purnama
Fase di mana wajah Bulan akan tersinari sepenuhnya oleh Matahari akan terjadi pada 14 Oktober 2019 pukul 04:09 WIB. Dengan kata lain, kita bisa melihat Bulan purnama mulai selepas Matahari terbenam tanggal 13 Oktober hingga menjelang Matahari terbit 14 Oktober 2019.

Saat mencapai fase purnama ini, Bulan akan terletak pada deklinasi +03°13' di arah rasi bintang Pises. Jaraknya dari Bumi adalah sekitar 402.000 km. Tentunya, seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikan Bulan purnama sepanjang malam.

20 Oktober 2019: Merkurius di Elongasi Tertinggi
Apa itu elongasi? Dalama astronomi, sederhananya elongasi adalah jarak sudut suatu benda langit dari Matahari dalam pandangan dari Bumi. Semakin besar angkasa elongasinya, semakin jauh letak benda langit itu posisinya dari Matahari, sehingga bisa diamati saat Matahari sudah terbenam atau sebelum Matahari terbit.
Peristiwa langit Oktober 2019
Nah, pada tanggal ini, Merkurius akan mencapai sudut elongasi tertingginya dari Matahari, yakni sekitar 22 derajat dari arah timur Matahari. Dengan kata lain, tepat saat Matahari terbenam di tanggal ini, Merkurius akan berada pada ketinggian sekitar 22 derajat dari cakrawala barat.

Hal ini pun menjadi waktu terbaik untuk mengamati Merkurius, mengingat sang planet merupakan planet terdekat dari Matahari sehingga tidak bisa lebih tinggi dari 22 derajat. Walau begitu, kenampakannya akan sangat kecil. Dengan magnitudo tampak 0,1, perlu kejelian sekelas mata elang untuk bisa menemukan planet ini dengan mata telanjang.

21 Oktober 2019: Hujan Meteor Orionid
Sudahkah kamu menemukan rasi bintang Orion? Oktober adalah waktu terbaik untuk melihat rasi bintang paling ikonik ini. Dan pada tanggal 21 Oktober 2019, sebuah hujan meteor akan memancar darinya: Orionid.

Tidak perlu menunggu tengah malam, hujan meteor Orionid bisa diamati mulai pukul 10 malam ketika rasi bintang Orion terbit di cakrawala timur. Kamu bisa terus mengamatinya hingga menjelang Matahari terbit, dengan waktu terbaik pengamatannya adalah pukul 04:00 dini hari ketika rasi bintang Orion berada di langit atas kepala.
Peristiwa langit Oktober 2019
Berasal dari debris komet Halley, 15 meteor per jam bisa kamu amati sepanjang malam asalkan cuaca cerah dan lokasi pengamatan bebas polusi cahaya.

28 Oktober 2019: Fase Bulan Baru
Kebalikan dari Bulan purnama, pada fase ini Bulan tidak akan teramati dari Bumi karena sudut elongasinya hampir 0 derajat dari Matahari. Kenapa dikatakan hampir? Karena kalau 0 derajat, yang terjadi adalah gerhana Matahari. Tapi karena bidang orbit Bulan yang miring 5 derajat dari ekuator Bumi, maka gerhana tidak akan selalu terjadi setiap fase purnama atau Bulan baru.

Secara astronomis, fase Bulan baru akan dicapai pada pukul 10:40 WIB.

28 Oktober 2019: Uranus di Titik Oposisi
Sesuai nama peristiwa langitnya, planet Uranus akan berada di titik oposisi atau titik berlawanan. Tapi berlawanan dari apa ya?

Tentunya dari Matahari. Dengan kata lain, pada tanggal ini Uranus akan terbit saat Matahari terbenam. Di bidang tata surya Matahari-Bumi-Uranus akan berada segaris lurus sehingga jarak antara Bumi dan Uranus mencapai paling dekatnya untuk tahun ini, yakni sekitar 18,8 AU, dengan 1 AU setara 150 juta km.
Peristiwa langit Oktober 2019
Walau begitu, sulit untuk melihat Uranus dengan mata telanjang. Menjadi planet paling jauh ketujuh dari Matahari, kenampakan Uranus sangat redup. Magnitudonya hanya +5,7 dan muncul di langit Bumi dengan diameter sudut 3,7 detik busur. Sangat kecil dan redup bila kamu tidak menggunakan teleskop untuk mengamatinya.

29 Oktober 2019: Konjungs Bulan, Merkurius, dan Venus
Bagaimana jadinya jika dua planet sekaligus akan tampak berdekatan dengan Bulan? Pada 29 Oktober, kira-kira akan seperti ini:

Bulan sabit muda yang baru saja melewati fase Bulan baru itu akan tampak berada sejauh 4 derajat dari enus dan 7 derajat dari Merkurius. Ya, mereka akan membentuk sebuah garis yang tidak lurus, tetapi akan sangat mudah ditemukan, persis seperti ini:
Peristiwa langit Oktober 2019
Mulailah pengamatan sekitar 15 menit setelah Matahari terbenam, tengok arah barat dan temukan Bulan sabit tipis terlebih dahulu yang berada di atas 10 derajat dari cakrawala barat. Planet Merkurius dan Venus akan muncul di dekatnya.

Peristiwa ini menandai kembalinya Venus ke langit barat saat senja, di mana ia dikenal sebagai Bintang Senja. Hari ke hari setelah konjungsi ini, posisi Venus akan semakin meninggi dari cakrawala barat saat Matahari terbenam, sementara Merkurius akan semakin menurun.

31 Oktober 2019: Konjungsi Bulan dengan Jupiter
Dibuka dengan konjungsi Bulan dan Jupiter, Oktober ini juga akan ditutup dengan peristiwa sejenis. Bedanya, kali ini hanya terjadi satu malam saja, dengan Jupiter yang akan berada sejauh 2 derajat dari Bulan.
Peristiwa langit Oktober 2019
Perbedaan lainnya adalah, waktu pengamatan kedua benda langit ini akan lebih sebentar. Pasangan kosmis ini sudah tidak bisa lagi diamati pada pukul 8 malam waktu setempat daerahmu karena sudah berada di bawah 10 derajat dari cakrawala barat.

Nah, itulah peristiwa langit Oktober 2019 yang bisa kita amati bersama-sama di seluruh Indonesia. Mana nih peristiwa langit yang kamu tunggu-tunggu?

Sebagai bonus, kamu bisa simpan infografik di bawah ini sebagai kalender astronomi peristiwa langit Oktober 2019:
Peristiwa langit Oktober 2019
BERIKAN KOMENTAR ()