Apa Saja Persyaratan untuk Benda Langit Disebut Planet?

Info Astronomy - Tidak semua benda langit bisa dikategorikan sebagai "planet". Sejak tahun 2006, para astronom melalui International Astronomical Union (IAU) telah membuat definisi baru mengenai persyaratan sebuah benda langit agar bisa disebut planet. Apa saja, sih?

Bukan, bukan... sebuah benda langit tidak perlu harus lulusan S1 atau punya pengalaman kerja dulu. Persyaratan untuk bisa disebut "planet" sebenarnya sederhana saja. Namun, dari persyaratan itulah Pluto tidak dianggap sebagai planet lagi.

Kita nostalgia sedikit deh. Sejak pertama kali ditemukan pada 18 Februari 1930, Pluto langsung dikategorikan sebagai sebuah planet, yang mana pada masa itu merupakan planet kesembilan setelah Neptunus. Tata surya saat itu beranggotakan sembilan planet utama mulai dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto.

Baca Juga: Sejarah Penemuan Pluto

Namun, seiring perkembangan zaman, terutama memasuki tahun 1990-an, teknologi teleskop pun ikut berkembang. Tepat pada tahun 1992, dua orang astronom bernama D. Jewitt dan J. Luu menemukan adanya benda langit lain yang mengitari Matahari namun berjarak lebih jauh dari Pluto. Mereka menamakannya QB1.

QB1 tidak dianggap sebagai planet, tapi bukan juga asteroid atau komet. Ia kurang cocok untuk disebut planet dan terlalu besar untuk diklasifikasikan sebagai objek Trans-Neptunus, benda-benda langit kecil di tata surya yang mengitari Matahari dengan melintasi atau di luar orbit Neptunus. Walau begitu, QB1 rupanya lebih memiliki kemiripan sifat-sifat dinamikanya dengan Pluto.

Kemudian, pada tahun 2002, para astronom menemukan lagi benda-benda langit sejenis QB1, yang mereka namai Quaoar, Sedna, dan Xena. Ya, benda-benda sejenis QB1 ternyata ada banyak di tata surya. Diskusi para astronom pun dimulai, mereka ingin menentukan akan disebut atau diklasifikasikan sebagai apa benda-benda langit yang mirip Pluto ini.

Melalui mekanisme voting, IAU mengadakan sidang umumnya di Praha, Ceko pada 24 Agustus 2006 silam. Hasil voting mengumumkan bahwa ada definisi baru sebuah benda langit bisa disebut "planet".

Menurut IAU, sebuah planet haruslah secara independen mengorbit Matahari (yang berarti bulan-bulan tidak dapat dianggap sebagai planet, karena mereka mengorbit planet), harus memiliki massa yang cukup sehingga gravitasinya bisa menarik dirinya ke dalam bentuk yang hampir bulat, dan harus cukup besar untuk "mendominasi" orbitnya dari benda langit lainnya (tidak boleh ada benda-benda langit lain di jalur orbitnya).

Baca Juga: 5 Kesalahpahaman Tentang Pluto

Karena Pluto tidak cukup besar untuk bisa "mendominasi" orbitnya dari benda langit lain (orbitnya masih dihuni banyak segerombolan asteroid kecil), maka Pluto pun tidak masuk dalam persyaratan sebagai planet tersebut. Ia menyandang status baru: internship eh... planet kerdil.

Persyaratan di atas hanya berlaku bagi benda-benda langit di tata surya kita saja. Untuk benda langit lain yang mengorbit bintang lain selain Matahari, dikenal dengan sebutan yang lain juga, yakni planet ekstrasurya.

Pluto sejatinya memang pantas menyandang status planet kerdil mengingat karakteristiknya yang berbeda dari delapan planet utama tata surya saat ini.

Empat planet terdekat Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, diketahui memiliki komposisi yang serupa, yakni terdiri dari silikat dan logam. Lalu empat planet berikutnya, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, merupakan sama-sama planet raksasa gas dengan komposisi utamanya terdiri dari hidrogen, helium, argon, karbon, oksigen, dan nitrogen.

Sementara Pluto, terdiri dari 70 persen batuan dan 30 persen es. Komposisi ini sangat aneh kalau dibandingkan dengan planet raksasa gas yang terdekat darinya. Para astronom berpendapat, semestinya semakin jauh posisi benda langit dari Matahari, kalau proses pembentukannya sama, maka akan terbentuk menjadi planet raksasa gas. Pluto sayangnya tidak.

Jadi, itulah bagaimana benda langit bisa disebut "planet".
BERIKAN KOMENTAR ()