Kesalahpahaman Tentang Pluto yang Mungkin Dianut Olehmu

Pluto dari jarak dekat. Kredit: NASA/JHUAPL/SwRI
Info Astronomy - Planet kerdil Pluto selalu menarik untuk dibahas. Planet mungil yang terletak di luar orbit planet Neptunus itu kini masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan.

Walau beberapa hal mengenai Pluto mulai terungkap setelah wahana antariksa New Horizons milik Lembaga Antariksa AS (NASA) terbang lintas dekat Pluto pada Juli 2015 silam, tampaknya masih banyak juga kesalahpahaman mengenai Pluto di masyarakat awam, mungkin salah satunya kamu.

Apa saja kesalahpahaman itu? Nyoh, simak~

Pluto hilang atau hancur, sih?

Apakah kamu yang berpikir bahwa Pluto kini hilang atau hancur? Faktanya, Pluto tidak hilang ataupun hancur. Dia baik-baik saja.

Kesalahpahaman ini kemungkinan muncul ketika Persatuan Astronomi Internasional (IAU) merombak definisi "planet" pada tahun 2006, yang berimbas pada diturunkannya status Pluto dari "planet" ke "planet kerdil" karena dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai planet.

Menurut definisi planet IAU, syarat benda langit bisa disebut planet adalah yang berada di orbit mengitari Matahari; memiliki massa yang cukup agar gravitasinya melebihi gaya benda tegar sehingga memiliki kesetimbangan hidrostatik (nyaris bulat); dan telah membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya.

Untuk syarat pertama dan kedua, Pluto memang menyanggupi. Ia mengorbit Matahari dan bentuknya bulat (yang datar cuma Bumi, kan?). Tapi untuk syarat ketiga, Pluto gagal memehuninya. Karena dalam mengitari Matahari, orbitnya masih dipenuhi oleh asteroid-asteroid kecil.

Walaupun definisi itu tampak cukup kontroversial, namun banyak astronom yang menyetujuinya. Hal itulah yang kini membuat Pluto tetap pada status planet kerdil. Entah mengapa, kabar yang beredar justru Pluto dikatakan hilang atau hancur, padahal sebenarnya mah cuma turun status saja.

Planet, planet kerdil, atau komet?

Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa Pluto yang awalnya dianggap planet kini menjadi planet kerdil. Tapi, menurut penelitian terbaru seperti yang dilansir New Scientist, Pluto dikatakan merupakan kumpulan komet yang bergabung menjadi satu. Waduh, makin runyam~

Penelitian itu terungkap setelah kandungan kimia pada Pluto diteliti melalui wahana antariksa New Horizons. Ditambah data dari wahana antariksa Rosetta yang berhasil mengorbiti komet 67P/Churyumov-Gerasimenko beberapa tahun silam.

Dari dua data wahana antariksa nirawak ini, diketahui bahwa kandungan kimia Pluto dan komet 67P memiliki kesamaan, yang kesamaan ini jelas bukan hanya kebetulan belaka. Jadi, alih-alih terbentuk dari batuan yang saling bergabung, Pluto mungkin terbentuk dari jutaan komet yang menyatu.

Pluto benda langit terjauh di tata surya?

Berada pada jarak rata-rata sekitar hampir 6 miliar kilometer jauhnya dari Matahari, rupanya tidak membuat Pluto menjadi benda langit atau anggota terjauh di tata surya kita, lho!

Objek trans-Neptunus. Kredit: Wikimedia Commons
Tata surya kita tidak hanya berakhir di Pluto. Masih banyak benda-benda langit lain yang berjarak lebih jauh dari Pluto, yakni benda-benda yang dikenal sebagai Objek Trans-Neptunus, mulai dari Haumea (berjarak 6,4 miliar km dari Matahari), Quaoar (6,5 miliar km), Makemake (6,8 miliar km), Eris (1 triliun km), dan Sedna (7 triliun km).

Wah, berarti tata surya kita luas juga, yha~

Betul. Tata surya sangatlah luas. Gravitasi dari Matahari bahkan bisa menjaga cikal-bakal komet yang berada di Awan Oort, yang luasnya 1.000 kali jarak Matahari-Pluto. Jadi, Pluto bukan benda langit terjauh di tata surya kita, karena masih banyak benda langit lain yang lebih jauh daripadanya.

Apakah Pluto laik huni?

Berada jauh di luar zona Goldilocks atau zona laik huni Matahari mungkin membuat mudah saja kita menganggap bahwa Pluto tidak mendukung kehidupan. Tapi, apakah memang benar demikian?

Sebagai permulaan, mari kita cari tahu dulu di mana posisi Pluto. Menurut penelitian yang sudah dilakukan para astronom, Pluto diketahui mengorbit Matahari pada jarak ekstrem, yakni mulai dari 29,6 AU (4.437.000.000 km) di perihelion hingga 48,8 AU (7.311.000.000 km) di aphelion. Pada jarak ini, suhu permukaannya bisa mencapai serendah -240° Celsius.

Tidak hanya air yang membeku pada suhu ini, tetapi cairan dan gas lain yang ada di permukaan Pluto, seperti metana (CH4), gas nitrogen (N²), dan karbon monoksida (CO), juga membeku. Senyawa-senyawa ini memiliki titik beku lebih rendah daripada air, dan kesempatan untuk ada kehidupan yang mampu bertahan hidup di bawah kondisi ini sangat tipis, bahkan nol.

Walau begitu, ketidaklaikhunian Pluto ini hanya berlaku untuk kehidupan seperti yang kita kenal di Bumi. Bisa jadi, ada kehidupan asing di sana yang bisa bertahan di suasana Pluto yang begitu ekstrem. Kita tidak pernah tahu, kan?

Pluto, anjingnya Miki Tikus. Kredit: Istimewa

Asal muasal nama Pluto

Meski mirip, nama planet kerdil (atau komet) Pluto bukan diambil dari nama karakter anjing sang teman Miki Tikus, lho ya.

Nama Pluto diambil dari nama dewa dunia bawah, diusulkan oleh Venetia Burney (1918–2009), yang kala itu merupakan seorang gadis mungil berusia 11 tahun asal Oxford, Inggris. Nama Pluto diusulkan oleh Burney saat sedang mengobrol bareng kakek tercintanya, Falconer Madan.

Madan yang merupakan mantan pustakawan di Universitas Oxford itu terkenal dekat dengan banyak ilmuwan, salah satunya dosen astronomi Herbert Hall Turner. Nama Pluto diusulkan oleh Madan ke Turner, dan selanjutnya Turner mengusulkannya ke rekan-rekan sejawatnya di Amerika Serikat.

Nama usulan Burney pun langsung diterima secara luas, bahkan hingga saat ini. Nah, barulah pada tahun 1930, Walt Disney mulai terinspirasi oleh nama ini, sehingga digunakanlah sebagai nama karakter anjing pendamping Miki Tikus.

Nah, jangan sampai salah paham lagi mengenai Pluto, ya. Tanya aku kalau kamu bingung atau ingin tahu lebih banyak.
BERIKAN KOMENTAR ()