Mengenal Plunet, Istilah Baru untuk Bulan Pengembara

Info Astronomy - Saat para astronom masih memperdebatkan definisi "planet", mereka mengeluarkan sebuah definisi baru yang disebut sebagai "plunet". Hemm, benda langit apa lagi itu, ya?

Dalam sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan dalam Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society, "plunet" adalah benda langit yang dulunya merupakan bulan yang mengitari sebuah planet, namun karena suatu peristiwa, ia terlempar dari orbitnya sehingga tidak lagi mengitari sang planet, melainkan mengitari bintang induk di sistem bintangnya.

Kata "plunet" sendiri merupakan serapan dari kata aslinya dalam bahasa Inggris, "ploonet". Menariknya, Bulan yang mengelilingi Bumi kita nantinya juga akan berubah statusnya menjadi plunet mengingat saat ini ia bergerak menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahunnya. Diperkirakan, Bulan akan menjadi plunet dalam 5 miliar tahun dari sekarang.

Kenapa Bisa Ada Plunet?
Dalam beberapa dekade terakhir, para astronom telah menemukan lebih dari 4.000 eksoplanet, planet asing yang mengitari bintang selain Matahari. Satu hal yang dipelajari dari temuan itu adalah, para astronom lebih sering menemukan jenis planet gas raksasa panas, atau yang disebut seagai "jupiter panas".

Jupiter panas merupakan kelas planet seukuran planet Jupiter di tata surya kita namun terletak sangat dekat dengan bintang induknya, sehingga suhu permukaannya bisa sangat panas.

Rupanya, banyaknya penemuan kelas planet jupiter panas ini membuat para astronom bingung. Bagaimana bisa planet raksasa seukuran Jupiter bisa terletak sangat dekat dengan bintang induk mereka? Sebab menurut teori pembentukan planet yang berdasarkan tata surya kita sendiri, planet-planet raksasa seharusnya berada lebih jauh dari bintang induknya.

Dengan temuan sejumlah besar planet jupiter panas ini, model teori pembentukan planet pun harus sedikit diubah. Planet-planet besar di sistem bintang lain kemungkinan mengalami migrasi besar yang membawa mereka menjadi lebih dekat dengan bintangnya dari waktu ke waktu.

Selama periode migrasi ini, ada begitu banyak efek gravitasi yang dirasakan oleh sang planet. Sampai ketika sebuah planet terlalu dekat dengan bintangnya, gravitasi bintang itu pada akhirnya dapat "menendang" beberapa bulan yang mengitari planet-planet tadi untuk menjadi plunet.

Mario Sucerquia dari Universitas Antioquia di Kolombia dan rekan-rekannya ingin mengetahui apa yang akan terjadi ketika sebuah planet besar mendekat ke bintang induknya dalam peristiwa migrasi. Dalam hal ini, mereka menjalankan sejumlah simulasi komputer.

Mereka menemukan, ketika migrasi planet terjadi, sekitar 44 persen bulan akhirnya akan menabrak planetnya, dan 6 persen lainnya dimakan oleh bintang induknya. Sementara itu, 48 persen bulan akan terpisah dari planet mereka, tetapi tetap berada di orbit sekitar bintang. Itulah yang dikenal sebagai plunet.

Walau begitu, plunet tidak selamanya ada di alam semesta. Masih berdasarkan simulasi, kebanyakan plunet (sekitar 54 persen) akan terletak lebih jauh posisinya dari bintang daripada planet induknya dulu.

28 persen plunet juga diperkirakan bisa memiliki orbit yang sangat eksentrik, hingga memotong orbit planet. Untuk hal ini, tabrakan plunet dengan planet mungkin bisa terjadi.

Nah, sekarang tentunya sudah kenal dengan plunet kan. Jadi, selain istilah Bulanbulan, kita sekarang juga memiliki istilah baru bernama plunet.
BERIKAN KOMENTAR ()