"Menyentuh" Matahari dengan Wahana Antariksa

Ilustrasi. Kredit: NASA
Info Astronomy - Lembaga Antariksa AS (NASA) pekan ini akan meluncurkan wahana antariksa terbarunya, Parker Solar Probe. Wahana antariksa nirawak itu akan didekatkan ke Matahari, lebih dekat daripada objek buatan manusia manapun yang pernah ada sebelumnya.

Apa tujuan misinya? Sederhana saja: mengumpulkan data-data mengenai properti dan kondisi atmosfer bintang terdekat dari Bumi kita itu selama periode tujuh tahun.

Nama wahana antariksa ini sendiri dinamai untuk menghormati fisikawan AS, Eugene Parker, yang pertama kali berspekulasi tentang sifat angin matahari pada tahun 1958. Ini juga merupakan pertama kalinya misi NASA dilakukan untuk menghormati orang yang masih hidup.

Kapan dan di mana Peluncurannya?

Parker Solar Probe akan menumpang roket Delta IV Heavy buatan United Launch Alliance (ULA). Peluncurannya sendiri akan dilakukan dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di Florida, AS pada pagi hari waktu setempat, Sabtu 11 Agustus 2018. Roket Delta IV Heavy sendiri berada di urutan kedua setelah Falcon Heavy milik SpaceX dalam hal kekuatan.

Memiliki ukuran sebesar mobil, wahana antariksa ini akan "dipaksa" untuk bertahan pada panasnya Matahari. Namun berkat Sistem Perlindungan Termalnya, sebuah pelindung panas berserat karbon setebal 11 sentimeter, wahana antariksa ini akan menjadi tahan panas. Bahkan suhu mesinnya bisa ditahan paling panas hingga 30 derajat Celsius saja.

Menariknya, wahana antariksa ini akan menjadi wahana antariksa yang tercepat yang pernah dibuat. Bagaimana tidak, ia diperkirakan akan melakukan perjalanan di luar angkasa dengan kecepatan hampir 700.000 kilometer per jam, atau 200 kilometer per detik. Bahan bakarnya? Tidak perlu bahan bakar, wahana antariksa ini akan memanfaatkan pentalan gravitasi.

Wahana antariksa Parker dijadwalkan untuk melewati planet Venus pada 2 Oktober 2018, yang nantinya gravitasi Venus akan mengubah jalurnya dan memungkinkan ruang kontrol di Bumi melakukan manuver lebih mudah. Hingga pada 5 November 2018, Parker akan mencapai perihelion pertamanya, atau jarak terdekatnya dari Matahari.

Saat tiba di orbit yang diinginkan, yakni 6,16 juta kiloemeter dari Matahari, wahana antariksa Parker akan mengorbit Matahari sekitar 24 kali hingga akhir tahun 2025. Setiap sekali orbitnya akan membutuhkan 88 hari.

Apa yang Akan Diteliti?

"Kita telah mempelajari Matahari selama beberapa dekade terakhir, dan sekarang kita akhirnya akan pergi kesana," kata Dr. Nicky Fox, salah satu astronom dalam misi ini dari John Hopkins University Applied Physics Laboratory, pada konferensi pers yang dilakukan pekan lalu di Pusat Antariksa Kennedy, AS.

Secara khusus, misi wahana antariksa ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi baru tentang "kondisi cuaca antariksa dari Matahari" yang berdampak pada Bumi; apa yang menyebabkan angin matahari menjadi panas dan berakselerasi; dan meneliti lontaran massa korona saat aktifitas tertinggi Matahari dalam siklus tahunannya.

"Energi Matahari selalu mengalir melewati planet kita. Meskipun angin matahari tidak terlihat secara langsung, kita dapat melihatnya di kedua kutub Bumi sebagai aurora yang indah," Kata Dr. Fox. "Sejauh ini, kita belum memiliki pemahaman yang kuat tentang mekanisme yang mendorong angin matahari bisa bergerak ke arah planet kita, dan itulah yang ini diketahui dengan Parker ini."

Parker akan mengeksplorasi dan meneliti korona Matahari -- plasma yang mengelilingi Matahari -- dan cukup dekat untuk mengamati angin matahari yang berakselerasi dari tingkat subsonik ke supersonik. Parker juga akan mengukur medan listrik dan magnet Matahari dari orbitnya.

Semoga sukses, Parker (dan NASA)~
BERIKAN KOMENTAR ()