Redupnya Bintang Tabby Mulai Terungkap

Ilustrasi. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Masih ingatkah Anda dengan bintang Tabby? Bintang paling misterius di alam semesta ini akhirnya mengungkapkan beberapa rahasianya. Berkat penelitian selama berbulan-bulan, kini kita bisa dengan yakin menyatakan bahwa meredupnya bintang Tabby jelas tidak disebabkan oleh megastruktur asing.

Setelah banyak spekulasi yang berkembang selama tahun-tahun terakhir ini, para astronom telah mengumumkan pengamatan terbaru bintang Tabby, atau dikenal juga sebagai KIC 8462852, yang misterius ini.

Pengamatan baru ini menunjukkan satu hal secara pasti: tidak ada megastruktur asing. Sebaliknya, debu kosmik lah yang mungkin merupakan penyebab di balik perilaku aneh bintang ini. Walau begitu, pengamatan ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa bintang ini meredup.

Misteriusnya Bintang Tabby

Pada tahun 2016, Tabetha Boyajian dan rekan-rekannya dari Universitas Negeri Louisiana, AS mengumumkan penemuan "bintang paling misterius di galaksi". Bintang ini pun lantas dinamakan sebagai bintang Tabby berdasarkan penemunya. Bintang tersebut terdeteksi memiliki banyak perilaku aneh.

Dalam data yang dikumpulkan oleh teleskop antariksa Kepler, kecerahan bintang Tabby tampak berubah-ubah dengan cara yang tidak mudah dijelaskan. Ia sesekali meredup, sesekali cerah. Beberapa peredupan bahkan mampu mengurangi kecerahan bintang Tabby hingga 22% selama beberapa hari dalam satu waktu, dan peredupan ini pun tidak terjadi secara periodik atau simetris.

Penemuan itu memicu kebingungan. Para astronom yang melakukan pelacakan data sang bintang melalui arsip astronomi menemukan bahwa bintang Tabby ini rupanya memang telah meredup dalam garis waktu yang jauh lebih lama, ia perlahan meredup selama beberapa abad terakhir.

Terlepas dari tingkah lakunya yang aneh, bintang Tabby sendiri terlihat sangat biasa. Ia merupakan sebuah bintang yang sedikit lebih besar daripada Matahari, serta juga sedikit lebih muda, tapi bintang tersebut tidak menunjukkan radiasi inframerah tambahan yang menjadi tanda adanya cakram puing atau planet besar yang mengelilinginya. Spektrum juga tidak menunjukkan garis spektral aneh yang akan mengindikasikan adanya material yang masuk ke bintang (atau dikeluarkan dari bintang).

Lantas, Boyajian dan rekan-rekannya mengusulkan sebuah skenario yang tidak mungkin terjadi tapi kemungkinan juga terjadi: ada sejumlah besar debu, berpotensi dari kawanan komet, yang masuk ke orbit mengelilingi bintang Tabby. Kawanan komet bersar ini dianggap bertanggung jawab atas peredupan bintang Tabby.

Ilustrasi kawanan komet yang menutupi bintang Tabby. Kredit: NASA
Para astronom lain mengusulkan hipotesis lain; debu kosmik yang berperan besar dalam menghalangi pandangan kita ke arah bintang Tabby sehingga sang bintang tampak meredup, sementara yang lain menyarankan bahwa bintang tersebut mungkin baru saja menelan sebuah planet. Yang mana yang benar?

Satu hal yang jelas: lebih banyak data diperlukan untuk membuktikan seluruh hipotesis ini. Pengumpulan data dan fakta pun dilakukan dengan tatapan tajam teleskop antariksa Kepler yang ditugaskan untuk melakukan observasi yang sangat rinci terhadap bintang tersebut selama empat tahun, namun misi utama Kepler telah berakhir pada tahun 2013, sebelum makalah penelitiannya diterbitkan.

Data dari Kepler pun disimpan sementara sebagai arsip, sementara para astronom melakukan observasi tambahan dengan beberapa teleskop berbasis darat lainnya. Apa yang benar-benar dibutuhkan para astronom kala itu adalah pengamatan dalam periode waktu yang panjang. Namun sayangnya, hal itu membutuhkan biaya yang besar.

Kampanye Kickstarter

Boyajian dan rekan-rekannya pun berinisiatif melakukan urun dana untuk observasi bintang yang telah mereka temukan. Mereka menggunakan kampanye Kickstarter untuk mendapatkan dana yang nantinya dipakai untuk pengamatan menggunakan Las Cumbres Observatory (LCO), jaringan teleskop robotik di seluruh dunia.

LCO bisa memantau bintang 24 jam 7 hari, menyediakan semua data yang dibutuhkan untuk menangkap misteriusnya bintang ini dan memicu pengamatan tindak lanjut yang komprehensif.

Urun dana sukses dilakukan. Pengamatan dimulai pada bulan Maret 2016 dan berlanjut sampai Desember 2017. Pada bulan Mei tahun lalu, Boyajian beruntung: bintangnya mulai redup. Seketika, hampir selusin jaringan teleskop LCO di Bumi berputar untuk menatapnya, dan para astronom ini dengan sigap dan hati-hati mengumpulkan data di hampir setiap panjang gelombang cahaya.

Setelah berbulan-bulan dan empat putaran pengamatan berbeda (yang masing-masing disebut sebagai Elsie, Celeste, Scara Brae, dan Angkor), bintang itu tidak lagi terlihat oleh teleskop di belahan Bumi utara.

Data Menjawab

Boyajian dan rekan-rekannya mendapatkan begitu banyak data dari LCO. Data tersebut utamanya menunjukkan bahwa bintang tersebut tidak meredup dengan cara yang sama pada semua panjang gelombang.

Sebagai contoh, panjang gelombang cahaya biru bintang ini sedikit lebih redup dari pada panjang gelombang cahaya merah, menunjukkan bahwa peredupan kemungkinan besar disebabkan oleh material yang tidak padat.

Dari sini, Boyajian bisa secara yakin bahwa "megastruktur asing" bukanlah penyebab utama peredupan bintang Tabby. Keluaran cahaya inframerah bintang juga tidak berubah selama peredupan, yang menjadi serangan lain terhadap hipotesis "megastruktur asing" ini.

Fakta bahwa lebih banyak cahaya biru meredup  menunjukkan bahwa debu kosmik memang adalah penyebabnya. "Jika meamng benda padat dan buram seperti megastruktur asing lewat di depan bintang, itu akan menghalangi cahaya pada seluruh panjang gelombang bintang," kata Boyajian. "Ini bertentangan dengan apa yang kami amati."

Walau telah diketahui bahwa debu kosmik yang berperan dalam meredupkan cahaya bintang Tabby, bagaimana debu kosmik tersebut bisa sampai di orbit sekitar bintang ini masih menjadi misteri berikutnya yang diharapkan bisa segera dipecahkan.

Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa segerombolan komet, asteroid, atau planetesimal meninggalkan banyak debu kosmik ketika berada dekat dengan bintang Tabby. Debu itu bisa secara singkat hingga pada periode waktu yang lama dalam meredupkan cahaya bintang sebelum bergerak menjauh.

Sekali lagi, pengamatan lebih lanjut masih dibutuhkan untuk mengungkap misteri debu. Dalam makalah para astronom ini yang diterbitkan pada tahun 2016, Boyajian dan rekan-rekannya sempat memprediksikan bahwa peredupan berikutnya akan dimulai pada bulan Mei 2017, dan ini benar. Jika sinyal ini benar-benar periodik, peredupan akan terjadi lagi pada Juni 2019. Setiap periodisitas akan membantu menjelaskan sumber debu dan bagaimana ia berinteraksi dengan cahaya bintang.

Sementara ini, hasil data pengamatan terbaru telah menyingkirkan alien sebagai penyebab meredupnya bintang Tabby. Kita mungkin perlu mencari alien di tempat lain lagi. Dan walau sedikit demi sedikit mulai terungkap, bintang Tabby tetaplah misterius.


Sumber: National Geographic, Penn State Science, Astrophysical Journal Letters.
BERIKAN KOMENTAR ()