Header Ads

Perairan di Titan yang Tenang dan Berombak Kecil

Area kutub utara Titan yang memiliki perairan hidrokarbon cair. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Sejak wahana antariksa pengorbit Cassini dan pendarat Huygens memberikan kita gambaran sekilas pertama dari satelit alami terbesar milik Saturnus, Titan, para astronom telah berkeinginan besar untuk melancarkan misi baru ke satelit alami yang misterius ini.

Dalam pandangan yang dipotret oleh Cassini dan Huygens yang dikirim ke sistem Saturnus, Titan diketahui memiliki danau hidrokarbon, bukit pasir, atmosfer yang sangat padat, dan kemungkinan memiliki lautan dalam. Titan seolah sangat layak untuk diteliti lebih jauh.

Satu-satunya pertanyaan adalah, bentuk misi apa yang akan diambil selanjutnya? Apakah itu pesawat tanpa awak, kapal selam, balon, atau wahana antariksa pendarat lagi seperti Huygens? Dan di mana pula manusia harus menempatkannya?

Menurut sebuah studi baru yang dipimpin oleh astronom dari Universitas Texas di Austin, AS, danau metana Titan memiliki air yang sangat tenang dan tampaknya tidak memiliki gelombang ombak yang tinggi. Dengan demikian, perairan di Titan bisa menjadi sebuah tempat yang ideal bagi misi ke Titan di masa yang akan datang.

Studi baru yang muncul dalam jurnal Earth and Planetary Science Letters terbitan 29 Juni 2017 ini dipimpin oleh Cyril Grima, salah satu astronom di Institut Geofisika Universitas Texas (UTIG). Grima dan rekan-rekannya berusaha untuk menentukan seberapa aktif danau yang tersebar di wilayah kutub utara Titan.

Danau-danau di kutub utara Titan yang dipotret melalui radar oleh Cassini. Kredit: NASA/JPL-Caltech
"Ada banyak rencana untuk suatu hari nanti mengirimkan sebuah wahana antariksa ke danau di Titan. Wahana antariksa tersebut bisa didaratkan pada danau tersebut," tutur Grima dalam siaran pers Universitas Texas, penelitian ini juga menyoroti aktivitas meteorologi di Titan.

"Studi kami juga menunjukkan bahwa karena ombaknya tidak terlalu tinggi, angin cenderung rendah. Dengan begitu, tidak banyak angin di daerah sekitar danau Titan yang dapat mengganggu pendaratan wahana antariksa di misi mendatang," lanjut Grima.

Penelitian ini dilakukan Grima dan rekan-rekannya dengan memeriksa data radar yang diperoleh dari misi Cassini selama musim panas awal Titan. Data-data ini terdiri dari pengukuran danau Titan, yang meliputi Lacus Ontario, Ligeia Mare, Punga Mare, dan Kraken Mare.

Danau terbesar di Titan dikenal dengan nama Kraken Mare. Danau tersebut diperkirakan lebih besar dari Laut Kaspia. Melalui citra radar, telah dihitung bahwa luas Kraken Mare mencapai sekitar 4.000.000 km², sementara Laut Kaspia di Bumi hanya sekitar 3.626.000 km².

Dengan bantuan tim radar Cassini dan kelompok peneliti dari Universitas Cornell, Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins (JHUAPL), Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA, dan beberapa ilmuwan di beberapa tempat lain, Grima dan rekan-rekannya menerapkan teknik yang dikenal sebagai pengintaian statistik radar. Dikembangkan oleh Grima, teknik ini mengandalkan data radar untuk mengukur kekasaran permukaan secara detail.

Teknik ini juga telah digunakan untuk mengukur kerapatan salju dan kekasaran permukaan es di Antartika dan Arktik. Demikian pula, NASA telah menggunakan teknik ini untuk memilih lokasi pendaratan di Mars untuk robot penjelajah baru yang akan mereka luncurkan sebagai penerus robot penjelajah Curiosity pada tahun 2020 mendatang.

Kiri: Kraken Mare dalam citra mozaik, kanan: Kraken Mare dalam inframerah. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Dari sini, Grima dan rekan-rekannya dapat menentukan bahwa ombak di danau-danau Titan cukup kecil, tingginya hanya mencapai 1 cm dan panjangnya sekitar 20 cm. Temuan ini menunjukkan bahwa perairan di Titan merupakan lingkungan perairan yang cukup tenang sehingga wahana antariksa baru nantinya dapat membuat pendaratan yang lembut dengan dijatuhkan ke danau-danau di Titan.

Menariknya, seperti di Bumi, ombak di Titan bisa terdorong angin, terpicu arus pasang surut, hingga menguap dan membuat hujan di permukaan Titan. Hal ini pun membuat para ilmuwan penasaran tentang perubahan musiman di Titan.

Hasil ini juga menarik bagi para ilmuwan yang berharap bisa merencanakan misi masa depan ke Titan, terutama mereka yang berharap bisa mendaratkan kapal selam robotik ke danau di Titan untuk menyelidiki danau-danau itu terkait kemungkinan tanda-tanda kehidupan asing.

Dan siapa yang tahu? Mungkin, mungkin saja, misi kapal selam robotik seperti itu akan menemukan bahwa kehidupan di tata surya kita lebih eksotis daripada yang kita pernah bayangkan, melampaui kehidupan berbasis karbon yang kita kenal.


Sumber: Universitas Texas, Earth and Planetary Science Letters.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.