![]() |
| Bintang bisa muncul dalam beragam warna sesuai suhunya, bisa merah, putih, sampai biru. Tapi adakah bintang hijau?. Kredit: Mark Hollands/University of Warwick |
InfoAstronomy - Di langit malam yang cerah, kamu dapat melihat begitu banyak bintang dengan warna yang beragam. Ada yang warnanya putih, ada yang merah terang kelap-kelip, dan beberapa juga ada yang biru. Namun, pernahkah kamu melihat bintang berwarna hijau?
Tenang, kamu punya banyak teman, sebab memang belum ada satu pun manusia yang pernah melihat bintang berwarna hijau. Penyebabnya bukan karena bintang tidak bisa menghasilkan cahaya hijau. Matahari kita bahkan justru menghasilkan banyak cahaya hijau. Masalahnya adalah, cahaya yang dipancarkan dari sebuah bintang tidak hanya terdiri dari satu warna, mereka memancarkan rentang panjang gelombang yang luas sekaligus.
Tenang, kamu punya banyak teman, sebab memang belum ada satu pun manusia yang pernah melihat bintang berwarna hijau. Penyebabnya bukan karena bintang tidak bisa menghasilkan cahaya hijau. Matahari kita bahkan justru menghasilkan banyak cahaya hijau. Masalahnya adalah, cahaya yang dipancarkan dari sebuah bintang tidak hanya terdiri dari satu warna, mereka memancarkan rentang panjang gelombang yang luas sekaligus.
Nah, baru-baru ini, para astronom katanya baru saja menemukan bintang hijau. Benarkah demikian?
Warna bintang yang kita lihat bergantung pada perbandingan cahaya dari berbagai bagian spektrum. Ketika suhu bintang berubah, distribusi energinya juga berubah. Bintang yang relatif dingin cenderung tampak kemerahan, sedangkan bintang yang sangat panas cenderung tampak kebiruan. Bintang dengan suhu di antara keduanya dapat terlihat putih atau kekuningan.
Menariknya, ada suhu tertentu ketika puncak pancaran sebuah bintang seharusnya berada di wilayah hijau. Namun, pada kondisi tersebut, bintang juga tetap memancarkan banyak cahaya merah dan biru sekaligus. Nah, ketika diamati oleh mata manusia, ketiga warna tersebut masuk ke mata secara bersamaan dan dipersepsikan sebagai putih, bukan hijau.
Itulah sebabnya Matahari tidak tampak hijau meskipun sebagian besar energi cahayanya berada di sekitar wilayah hijau dalam spektrum. Dengan kata lain, warna yang kita lihat pada bintang merupakan hasil gabungan seluruh spektrum cahaya yang diterima oleh mata kita, bukan hanya panjang gelombang tempat pancarannya paling kuat.
Namun, mengatakan bahwa "bintang tidak mungkin terlihat hijau" juga rupanya kurang tepat. Warna sebuah objek tidak selalu ditentukan oleh suhunya saja. Komposisi, kondisi atmosfer, hingga lingkungan di sekitarnya juga dapat mengubah cahaya yang keluar dari permukaan atau lapisan luarnya.
Contoh menarik datang dari WD J1330+6435, sebuah katai putih yang baru-baru ini diperkirakan dapat terlihat berwarna hijau kekuningan atau chartreuse bagi mata manusia. Meski begitu, ia sebenarnya bukan bintang.
Warna bintang yang kita lihat bergantung pada perbandingan cahaya dari berbagai bagian spektrum. Ketika suhu bintang berubah, distribusi energinya juga berubah. Bintang yang relatif dingin cenderung tampak kemerahan, sedangkan bintang yang sangat panas cenderung tampak kebiruan. Bintang dengan suhu di antara keduanya dapat terlihat putih atau kekuningan.
Menariknya, ada suhu tertentu ketika puncak pancaran sebuah bintang seharusnya berada di wilayah hijau. Namun, pada kondisi tersebut, bintang juga tetap memancarkan banyak cahaya merah dan biru sekaligus. Nah, ketika diamati oleh mata manusia, ketiga warna tersebut masuk ke mata secara bersamaan dan dipersepsikan sebagai putih, bukan hijau.
Itulah sebabnya Matahari tidak tampak hijau meskipun sebagian besar energi cahayanya berada di sekitar wilayah hijau dalam spektrum. Dengan kata lain, warna yang kita lihat pada bintang merupakan hasil gabungan seluruh spektrum cahaya yang diterima oleh mata kita, bukan hanya panjang gelombang tempat pancarannya paling kuat.
Namun, mengatakan bahwa "bintang tidak mungkin terlihat hijau" juga rupanya kurang tepat. Warna sebuah objek tidak selalu ditentukan oleh suhunya saja. Komposisi, kondisi atmosfer, hingga lingkungan di sekitarnya juga dapat mengubah cahaya yang keluar dari permukaan atau lapisan luarnya.
Contoh menarik datang dari WD J1330+6435, sebuah katai putih yang baru-baru ini diperkirakan dapat terlihat berwarna hijau kekuningan atau chartreuse bagi mata manusia. Meski begitu, ia sebenarnya bukan bintang.
Suatu objek disebut bintang hanya jika ia masih mengalami reaksi fusi nuklir di intinya, mengalami kesetimbangan hidrostatik agar ia tidak runtuh oleh gravitasinya sendiri. Nah, di sisi lain, katai putih merupakan sisa inti bintang yang telah melewati tahap evolusi sebelumnya dan tidak lagi melakukan fusi hidrogen seperti Matahari.
Katai putih terbentuk ketika bintang di bawah 8 kali massa Matahari kehabisan bahan bakar untuk melakukan reaksi fusi nuklir, menyebabkan kesetimbangan hidrosatiknya hilang, gravitasi menang sehingga membuat bintang tersebut runtuh sampai cuma meninggalkan intinya yang menjadi katai putih.
Nah, WD J1330+6435, katai putih di rasi bintang Draco yang berjarak sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki suhu permukaan sekitar 4.000 °C, secara teoretis bisa terlihat hijau bagi mata manusia karena katai putih ini teramati memiliki unsur-unsur seperti natrium, kalsium, dan litium. Unsur-unsur tersebut kemungkinan berasal dari material berbatu dari sistem planetnya yang hancur ketika bintangnya runtuh dan kemudian jatuh ke permukaan katai putih.
Karena memiliki natrium, kondisi atmosfer katai putih yang sangat padat membuat pola penyerapan spektrumnya berbeda dari bintang sejati pada umumnya. Natrium menyerap cahaya dalam rentang yang lebih lebar, terutama dari kuning, oranye, hingga sebagian merah. Akibatnya, banyak cahaya dengan warna tersebut "dihilangkan" dari spektrum.
Cahaya yang tersisa kemudian menghasilkan persepsi warna hijau kekuningan atau chartreuse jika diamati lewat mata manusia. Tapi ingat ya, ini baru secara teoretis, belum ada satu manusia pun yang melihat warna hijau itu.
Dengan kata lain, katai putih yang satu ini bukan "memancarkan cahaya hijau", akan tetapi cuma "tampak hijau bagi mata manusia", dan ia bukan lagi bintang.
WD J1330+6435 menarik justru karena ia menunjukkan bahwa warna hijau tidak sepenuhnya mustahil bagi objek yang berasal dari bintang. Yang membuatnya berbeda adalah spektrumnya yang tidak biasa, bukan karena suhunya menghasilkan warna hijau seperti lampu.
Karena itu, istilah "katai putih yang tampak hijau" lebih tepat daripada sekadar "bintang hijau pertama berhasil ditemukan". Bintang selama ini memang memancarkan warna hijau, hanya saja mata kita tidak melihatnya. Pun, katai putih ini bukan contoh bintang biasa yang tiba-tiba memiliki warna hijau, melainkan objek sisa bintang dengan karakteristik spektrum yang sangat tidak biasa.
Sumber & Referensi:
- Bédard, A. (2024). The spectral evolution of white dwarfs: Where do we stand? Astrophysics and Space Science, 369, Article 43.
- Harre, J.-V., & Heller, R. (2021). Digital color codes of stars. Astronomische Nachrichten, 342(3), 578–587.
- Hollands, M. A., Gänsicke, B. T., Tremblay, P.-E., & Koester, D. (2026). Any colour you like: The diverse chromaticities of white dwarfs. RAS Techniques and Instruments, 5, Article rzag069.
- Izquierdo, P., Gänsicke, B. T., RodrÃguez-Gil, P., Koester, D., Toloza, O., Gentile Fusillo, N. P., Pala, A. F., & Tremblay, P.-E. (2023). Systematic uncertainties in the characterization of helium-dominated metal-polluted white dwarf atmospheres. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 520(2), 2843–2866.
- NASA. (2021, July 2). Continuous spectra (blackbody curves) of stars. NASA Science.
- Plait, P. (2026, January 16). For stars, it’s not easy being green. Scientific American.
- Saumon, D., Blouin, S., & Tremblay, P.-E. (2022). Current challenges in the physics of white dwarf stars. Physics Reports, 988, 1–63.
- Toonen, S. (2024). White dwarf pollution: One star or two? Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 529(3), 2910–2917.
- Woods, P. (2021). Shifting colours. Nature Astronomy, 5, 229.
