![]() |
| Matematika adalah bahasa universal, yang mungkin kelak akan jadi bahasa komunikasi kita di galaksi. Kredit: InfoAstronomy.org |
InfoAstronomy - Bayangkan suatu hari nanti manusia berhasil menangkap sinyal dari sebuah peradaban cerdas di galaksi lain. Tantangan pertama yang muncul tampaknya bukan jarak planet kita yang jauh dari planet mereka, melainkan komunikasi. Bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan makhluk yang mungkin tidak memiliki bahasa, budaya, indra, atau cara berpikir yang sama dengan kita?
Atau jika situasinya dibalikkan, kehidupan cerdas dari luar Bumi berhasil tiba di Bumi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di planet kita, mereka mungkin terkejut bahwa penghuni planet ini berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda-beda, ada bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Rusia, dan ratusan bahasa lainnya. Hampir pasti mereka tidak akan memahaminya.
Terlebih lagi, bahasa manusia lahir dari sejarah dan budaya yang sangat spesifik. Kata-kata hanya memiliki makna karena ada kesepakatan di antara para penuturnya. Bagi makhluk dari planet lain, kata-kata itu kemungkinan tidak lebih dari sekumpulan simbol tanpa arti.
Lalu, pakai bahasa apa kita ketika kelak menemukan atau bertemu kehidupan asing luar Bumi? Para ilmuwan sejak lama memandang matematika sebagai kandidat terkuat untuk menjadi bahasa universal.
Lalu, pakai bahasa apa kita ketika kelak menemukan atau bertemu kehidupan asing luar Bumi? Para ilmuwan sejak lama memandang matematika sebagai kandidat terkuat untuk menjadi bahasa universal.
Iya, matematika, pelajaran yang mungkin paling kamu tidak sukai di sekolah. Alasannya sederhana, bahasa diciptakan oleh makhluk cerdas, sedangkan hukum dan pola matematis di alam semesta sudah ada jauh sebelum makhluk cerdas muncul. Manusia tidak menciptakan fakta bahwa dua benda ditambah dua benda menghasilkan empat benda. Kita hanya menemukan cara untuk menuliskan dan menghitungnya. Bahkan jika manusia tidak pernah ada, 2+2=4 tetap berlaku di seluruh alam semesta.
Kehidupan asing luar Bumi di galaksi yang jauh dari Bumi mungkin memiliki bentuk tubuh yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mereka mungkin tidak memiliki mata, telinga, atau bahkan tangan. Namun jika mereka mempelajari alam semesta di sekitar mereka, mereka akan menemukan pola matematika yang sama seperti yang kita temukan. Mereka akan melihat bahwa benda-benda dapat dihitung. Mereka akan menemukan keteraturan dalam orbit planet. Mereka akan mengamati siklus bintang dan gerak benda langit yang mengikuti hukum-hukum tertentu.
Dengan kata lain, mereka mungkin tidak mengenal simbol atau kata untuk angka "5", tetapi mereka tetap akan memahami konsep lima seperti yang kita pahami di Bumi.
Hal yang sama berlaku untuk geometri. Bayangkan sebuah peradaban yang mulai mengukur planet mereka sendiri. Cepat atau lambat mereka akan menemukan bahwa lingkaran memiliki sifat tertentu, bahwa segitiga memiliki hubungan antara sisi dan sudut, dan bahwa ruang memiliki aturan yang konsisten. Mereka mungkin memberi nama yang berbeda pada semua konsep itu, mungkin tidak akan menyebut segitiga sebagai "segitiga", tetapi hubungan matematisnya akan tetap sama.
Inilah yang membuat matematika berbeda dari bahasa sehari-hari. Bahasa dapat berubah dari satu tempat ke tempat lain. Di Indonesia "water" adalah air, tapi "air" dalam bahasa Inggris adalah udara. Matematika tidak. Nilai π, misalnya, akan tetap sama di negara mana pun di seluruh Bumi, di Mars, maupun di planet yang mengorbit bintang lain. Tidak ada budaya yang dapat mengubahnya.
Gagasan ini menjadi dasar bagi banyak upaya manusia untuk berkomunikasi dengan peradaban asing luar Bumi. Salah satu contoh paling terkenal adalah Arecibo Message yang dikirim pada tahun 1974. Para ilmuwan tidak memulai pesannya dengan kata "Halo", melainkan dengan rangkaian pola matematika dan informasi ilmiah dasar yang diharapkan dapat dikenali oleh peradaban lain.
Kehidupan asing luar Bumi di galaksi yang jauh dari Bumi mungkin memiliki bentuk tubuh yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mereka mungkin tidak memiliki mata, telinga, atau bahkan tangan. Namun jika mereka mempelajari alam semesta di sekitar mereka, mereka akan menemukan pola matematika yang sama seperti yang kita temukan. Mereka akan melihat bahwa benda-benda dapat dihitung. Mereka akan menemukan keteraturan dalam orbit planet. Mereka akan mengamati siklus bintang dan gerak benda langit yang mengikuti hukum-hukum tertentu.
Dengan kata lain, mereka mungkin tidak mengenal simbol atau kata untuk angka "5", tetapi mereka tetap akan memahami konsep lima seperti yang kita pahami di Bumi.
Hal yang sama berlaku untuk geometri. Bayangkan sebuah peradaban yang mulai mengukur planet mereka sendiri. Cepat atau lambat mereka akan menemukan bahwa lingkaran memiliki sifat tertentu, bahwa segitiga memiliki hubungan antara sisi dan sudut, dan bahwa ruang memiliki aturan yang konsisten. Mereka mungkin memberi nama yang berbeda pada semua konsep itu, mungkin tidak akan menyebut segitiga sebagai "segitiga", tetapi hubungan matematisnya akan tetap sama.
Inilah yang membuat matematika berbeda dari bahasa sehari-hari. Bahasa dapat berubah dari satu tempat ke tempat lain. Di Indonesia "water" adalah air, tapi "air" dalam bahasa Inggris adalah udara. Matematika tidak. Nilai π, misalnya, akan tetap sama di negara mana pun di seluruh Bumi, di Mars, maupun di planet yang mengorbit bintang lain. Tidak ada budaya yang dapat mengubahnya.
Gagasan ini menjadi dasar bagi banyak upaya manusia untuk berkomunikasi dengan peradaban asing luar Bumi. Salah satu contoh paling terkenal adalah Arecibo Message yang dikirim pada tahun 1974. Para ilmuwan tidak memulai pesannya dengan kata "Halo", melainkan dengan rangkaian pola matematika dan informasi ilmiah dasar yang diharapkan dapat dikenali oleh peradaban lain.
![]() |
| Arecibo Message dan arti dari isinya. Kredit: Science Photo Library |
Kenapa pakai pola matematika? Karena menurut para ilmuwan, sebelum dua peradaban cerdas saling bertukar budaya, sejarah, atau teknologi, mereka harus terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka sama-sama mampu mengenali pola yang berasal dari kecerdasan. Nah, matematikalah pola itu.
Program pencarian kehidupan cerdas di luar Bumi juga menggunakan prinsip yang sama. Jika suatu hari teleskop radio menangkap sinyal yang mengandung pola matematis yang sangat teratur dan sulit dijelaskan oleh proses alam, para ilmuwan akan menganggapnya sebagai petunjuk penting. Alam memang dapat menghasilkan banyak pola. Namun pola yang menunjukkan struktur matematis kompleks atau penyandian informasi sering dianggap sebagai salah satu petunjuk terkuat adanya kecerdasan.
Program pencarian kehidupan cerdas di luar Bumi juga menggunakan prinsip yang sama. Jika suatu hari teleskop radio menangkap sinyal yang mengandung pola matematis yang sangat teratur dan sulit dijelaskan oleh proses alam, para ilmuwan akan menganggapnya sebagai petunjuk penting. Alam memang dapat menghasilkan banyak pola. Namun pola yang menunjukkan struktur matematis kompleks atau penyandian informasi sering dianggap sebagai salah satu petunjuk terkuat adanya kecerdasan.
Namun, ada satu hal yang perlu dipahami. Ketika para ilmuwan mengatakan bahwa matematika mungkin adalah bahasa universal, yang dimaksud bukan peradaban cerdas luar Bumi akan berbicara dengan angka sepanjang waktu ya. Mereka hanya berasumsi bahwa siapa pun yang berhasil memahami alam semesta lewat matematika akan sampai pada kesimpulan matematis yang sama.
Karena bintang boleh berbeda, planet boleh berbeda, dan bahasa boleh berbeda. Namun jika matematika memang universal, maka ada beberapa hal yang seharusnya tetap sama di seluruh penjuru kosmos. Salah satunya adalah bahwa 10 ditambah 6 akan tetap menghasilkan 16, baik di Bumi, di sekitar Proxima Centauri, maupun di galaksi yang berjarak jutaan tahun cahaya dari kita.
Sumber & Referensi:
- Huston, M., & Wright, J. (2022). SETI in 2021. Acta Astronautica, 199, 166-173.
- Kocharyan, S. M. (2026). Directed information panspermia as a possible method of interstellar communication. Frontiers in Astronomy and Space Sciences, 13, 1721171.
- Ollongren, A. (2012). Astrolinguistics: Design of a linguistic system for interstellar communication based on logic. Springer Science & Business Media.
- SETI Institute. (2024, Agustus). The Secret Life of the Universe. SETI.org.
- SETI Institute. (2025, November). Do aliens speak physics? And other questions about science and the nature of reality. SETI.org.
- Whyte, J. (2024). Mathematical SETIbacks: Open texture in mathematics as a new challenge for messaging extra-terrestrial intelligence. International Studies in the Philosophy of Science, 38(1), 59-77.

