Akses artikel Premium dengan Astronomi+, mulai berlangganan.

Saran pencarian

Tidak, Parade Planet Tidak Memiliki Dampak pada Gempa Bumi

Pernah baca nggak katanya konjungsi planet dapat menyebabkan atau memicu terjadinya gempa bumi? Benarkah keterkaitan itu?
Fenomena konjungsi planet adalah ketika dua atau lebih planet terlihat di arah yang sama di langit. Kredit: Science Photo Library

InfoAstronomy - Belakangan ini, fenomena konjungsi planet cukup sering terjadi. Hal ini membuat banyak orang awam yang tadinya tidak tahu-menahu tentang planet yang ternyata bisa diamati dengan mata telanjang menjadi lebih tertarik untuk menyelami lebih dalam.

Namun, banyak berita tidak benar yang beredar terkait fenomena konjungsi planet, salah satunya adalah ada yang bilang bahwa konjungsi planet menyebabkan atau memicu terjadinya gempa bumi. Apakah memang ada kaitannya?

Apa Itu Konjungsi Planet?

Konjungsi adalah ketika dua planet atau lebih tampak berdekatan di langit jika dilihat dari Bumi. Ingat kata kuncinya, "tampak berdekatan". Itu artinya berdekatannya hanya dalam pandangan dari Bumi kita, dengan jarak antara planetnya masih berjauhan satu sama lain.

Konjungsi bisa terjadi karena planet-planet mengitari Matahari pada kecepatan yang berbeda-beda. Bumi bergerak lebih cepat dari Jupiter, sehingga secara berkala Bumi "menyalip" Jupiter dalam orbitnya dan keduanya tampak sejajar dari sudut pandang kita. Ini adalah mekanika orbital biasa.

Ilustrasi posisi planet ketika konjungsi terjadi. Mereka ada di arah yang sama, tapi tetap pada orbitnya masing-masing. Kredit: Timeanddate.com

Dengan kata lain, konjungsi planet adalah fenomena yang sangat umum. Karena sangat sering terjadi, memang mudah sekali untuk mencocoklogikannya dengan gempa bumi, mengingat gempa juga terjadi setiap hari di ratusan titik di seluruh dunia. Namun, ini adalah jebakan logika, bukan hubungan sebab-akibat.

Kenapa Tidak Ada Hubungannya dengan Gempa Bumi?

Gempa bumi terjadi karena satu dan hanya satu sebab utama, yaitu pergerakan lempeng tektonik. Seperti yang pernah kita pelajari sejak bangku sekolah dasar, kerak Bumi terbagi menjadi lempeng-lempeng besar yang bergerak sangat lambat, sekitar beberapa sentimeter per tahun, di atas mantel yang semi-cair.

Ketika dua lempeng bertabrakan, saling menggesek, atau salah satu menyelam ke bawah yang lain, energi terakumulasi dalam batuan. Ketika batuan itu akhirnya patah, energi itu terlepas seketika sebagai apa yang kita sebut sebagai gempa.

Proses ini berlangsung di kedalaman ratusan kilometer di bawah permukaan Bumi, didorong oleh panas internal planet yang sudah terakumulasi miliaran tahun. Tidak ada kekuatan dari luar Bumi, apalagi dari planet yang berjarak ratusan juta kilometer, yang bisa memicu atau menghentikannya secara signifikan.

Seberapa Kecil Pengaruh Planet?

Di sinilah fisika berbicara. Gravitasi bekerja mengikuti hukum yang sangat jelas, yaitu semakin jauh jaraknya, semakin kecil gayanya, secara kuadrat. Artinya, jika jarak digandakan dua kali, gaya gravitasinya menjadi empat kali lebih lemah, seperti rupiah.

Jupiter, planet terbesar di tata surya, pada jarak terdekatnya dengan Bumi, menghasilkan tarikan gravitasi hanya sekitar 1% dari tarikan gravitasi Bulan. Venus, planet terdekat dengan Bumi, berada di angka 0,6%. Planet-planet lainnya bahkan lebih kecil lagi.

Di sisi lain, tarikan gravitasi Bulan terhadap Bumi 50 kali lebih kuat dibanding gabungan seluruh planet di tata surya dalam kondisi paling ideal sekalipun. Dan Bulan sendiri mengorbit Bumi dalam lintasan elips, yang berarti dua kali sebulan ia bergerak mendekati dan menjauh, mengubah tarikannya lebih besar dari gabungan semua planet. Meski begitu, kita tidak merasakan gempa bumi yang katastrofik dua kali sebulan karena gravitasi Bulan ini. Karena memang tidak ada hubungannya.

Bahkan jika semua planet di tata surya berbaris sempurna dan menarik Bumi dalam arah yang sama sekaligus, gabungan tarikan gravitasi mereka tidak akan terdeteksi secara geologis, apalagi memicu gempa bumi.

Bagaimana Para Seismolog Membuktikannya?

Ini bukan sekadar argumen teoretis belaka. Selama puluhan tahun terakhir, para ilmuwan sudah mengujinya secara empiris.

Andrew Michael, seorang geofisikawan dari USGS (United States Geological Survey), menyatakan bahwa seismolog telah menghabiskan banyak waktu mencari pengaruh pasang surut Bulan terhadap gempa bumi. Meski pasang surut mudah diamati di lautan dan bahkan pada deformasi kecil kerak Bumi padat, menemukan dampaknya terhadap gempa memerlukan analisis statistik dataset yang sangat besar, dan hasilnya pun masih kontroversial. Secara keseluruhan, Bulan tidak punya pengaruh cukup besar terhadap gempa untuk bisa digunakan dalam peramalan.

Jika Bulan saja yang gravitasinya 50 kali lebih kuat dari gabungan gravitasi seluruh planet tata surya tidak bisa memengaruhi gempa bumi secara berarti, maka konjungsi planet sudah pasti tidak ada pengaruhnya. Sama sekali.

Sebuah studi yang menganalisis data gempa global selama 69 tahun menemukan bahwa tidak ada korelasi statistik yang signifikan antara konjungsi planet dengan terjadinya gempa bumi. Studi ini secara sistematis membandingkan persentase gempa yang terjadi saat ada konjungsi dengan persentase waktu terjadinya konjungsi, dan hasilnya tidak berbeda dari yang diharapkan secara kebetulan semata.

Mengapa Hoax Ini Terus Beredar?

Hoax ini bertahan dan selalu beredar ketika konjungsi planet terjadi bukan karena ada buktinya, tapi karena cara kerja pikiran manusia yang mana kita cenderung mencari pola dan hubungan bahkan di tempat yang tidak nyambung sama sekali.

Fenomena ini dikenal sebagai Barnum Effect, yaitu kecenderungan untuk menemukan makna dalam pernyataan yang sulit dipahami sehingga siapapun bisa mencocokkannya dengan kejadian nyata. Atau bahasa gaulnya, cocoklogi. Ditambah dengan fakta bahwa gempa terjadi setiap hari di ratusan lokasi di dunia, selalu mudah untuk menemukan "gempa yang terjadi setelah konjungsi" karena memang hampir selalu ada gempa di suatu tempat.
 
Intinya, konjungsi planet adalah fenomena optik yang indah, produk dari mekanika orbital yang presisi dan dapat diprediksi ribuan tahun ke depan. Ia tidak memengaruhi lempeng tektonik Bumi, tidak menyebabkan gempa, dan tidak mengancam kehidupan.

Hal yang benar-benar berbahaya adalah klaim yang tidak berdasar, karena kepanikan sosial akibat misinformasi bisa lebih merusak dari apapun yang bisa dilakukan oleh planet-planet yang jauh di sana.

Jadi ketika ada parade planet di langit malam ini, keluarlah dan lihat. Bawa teleskop jika punya. Tidak perlu menyiapkan persediaan darurat segala karena parade planet tidak memiliki dampak pada gempa bumi. Jangan mau dibohongi pakai planet.

Sumber & Referensi:
  • Romanet, P. (2023). Could planet/sun conjunctions be used to predict large (moment magnitude ≥ 7) earthquakes? Seismica, 2(1).
  • Senapati, B., Kundu, B., Jha, B., & Jin, S. (2024). Gravity-induced seismicity modulation on planetary bodies and their natural satellites. Scientific Reports, 14, 2354.
  • U.S. Geological Survey. (2024). Can the position of the moon or the planets affect seismicity? Are there more earthquakes in the morning/in the evening/at a certain time of the month?. Usgs.gov.
  • Yan, R., Chen, X., Sun, H., Xu, J., & Zhou, J. (2023). A review of tidal triggering of global earthquakes. Geodesy and Geodynamics, 14(1), 35–42.
  • Zaccagnino, D., Telesca, L., & Doglioni, C. (2022). Correlation between seismic activity and tidal stress perturbations highlights growing instability within the brittle crust. Scientific Reports, 12(1), 7109.
  • Zaccagnino, D., Telesca, L., & Doglioni, C. (2023). Global versus local clustering of seismicity: Implications with earthquake prediction. Chaos, Solitons & Fractals, 170, 113419.
Riza adalah astronom amatir yang telah menulis konten astronomi sejak tahun 2012. Riza secara aktif menjadi mentor kelas astronomi di BelajarAstro.com. Hubungi lewat riza@belajarastro.com.

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.