![]() |
| Matahari dalam berbagai panjang gelombang pada 19 Januari 2026. Kredit: NASA |
InfoAstronomy - Bumi saat ini sedang dihujani oleh salah satu kategori badai geomagnetik terkuat yang bisa dilepaskan oleh Matahari. Berkat letusan suar raksasa di Matahari dan lubang besar di atmosfernya, kita sedang mengalami kondisi G4.
Ini adalah badai geomagnetik parah yang cukup kuat untuk mengganggu jaringan listrik karena energi dari gangguan cuaca antariksa mendorong arus listrik melalui medan magnet Bumi dan tanah. Para ahli mengatakan badai ini bahkan bisa mencapai level G5, kategori ekstrem yang bertanggung jawab atas aktivitas aurora spektakuler yang terlihat pada Mei 2024. Namun, apa artinya semua ini? Bahaya kah bagi manusia?
Biro cuaca antariksa di seluruh dunia memperkirakan akan adanya kondisi aurora yang kuat. Beberapa bahkan menyatakan bahwa aurora bisa terlihat di garis lintang yang sangat rendah, berpotensi menyaingi jangkauan badai super bersejarah tahun 2024.
Biro cuaca antariksa di seluruh dunia memperkirakan akan adanya kondisi aurora yang kuat. Beberapa bahkan menyatakan bahwa aurora bisa terlihat di garis lintang yang sangat rendah, berpotensi menyaingi jangkauan badai super bersejarah tahun 2024.
![]() |
| Aurora di langit Berlin, Jerman, pada 20 Januari 2026. Kredit: Laura Kranich |
Apa Penyebabnya Badai Geomagnetik?
Matahari sedang menunjukkan sisi paling aktifnya. Pada 18 Januari 2026 kemarin, Matahari melepaskan solar flare atau suar surya kelas X1.9, jenis suar paling kuat dalam klasifikasi ilmiah. Peristiwa ini menjadi pemicu badai geomagnetik yang dampaknya terasa hingga ke Bumi.
Suar surya adalah ledakan energi besar yang terjadi akibat perubahan mendadak medan magnet di permukaan Matahari. Dalam peristiwa ini, suar X1.9 disertai Pelepasan Massa Korona, atau Coronal Mass Ejection (CME). CME adalah lontaran raksasa berupa miliaran ton partikel bermuatan yang terikat medan magnet dan melaju ke ruang antariksa dengan kecepatan tinggi.
Ketika CME bergerak ke arah Bumi, partikel-partikel tersebut dapat menghantam magnetosfer, yaitu perisai magnetik yang melindungi planet kita. Hantaman ini mengganggu keseimbangan magnetosfer dan mempercepat partikel bermuatan yang sudah terperangkap di dalamnya. Partikel itu kemudian diarahkan mengikuti garis medan magnet menuju atmosfer atas, terutama di wilayah kutub.
Di atmosfer wilayah kutub, partikel bermuatan ini bertabrakan dengan atom oksigen dan nitrogen. Tabrakan inilah yang menghasilkan cahaya aurora dengan warna hijau, merah, dan ungu yang terlihat di langit malam wilayah sekitar kedua kutub Bumi belakangan ini.
![]() |
| Aurora di langit Selandia Baru, 21 Januari 2026. Kredit: Minoru Yoneto |
Kekuatan badai geomagnetik kali ini tidak hanya berasal dari CME. Peristiwa ini juga diperkuat oleh angin surya berkecepatan tinggi yang keluar dari sebuah lubang korona besar di Matahari. Lubang korona adalah wilayah di mana medan magnet Matahari melemah dan terbuka, sehingga partikel bermuatan dapat mengalir lebih bebas ke tata surya.
Pada saat pengamatan, kecepatan angin surya tercatat mencapai sekitar 1.070 kilometer per detik. Angka ini hampir tiga kali lipat dari kecepatan normal angin surya yang berkisar 400 kilometer per detik. Aliran secepat ini sudah cukup untuk memicu aurora yang terang. Ketika digabung dengan CME, efeknya menjadi jauh lebih kuat dan meluas.
Cuaca antariksa seaktif ini tidak hanya menghasilkan pemandangan indah. Radiasi sinar-X dari suar surya dapat menyebabkan gangguan radio sementara di Bumi. Gangguan geomagnetik akibat CME juga berpotensi memengaruhi komunikasi radio jarak jauh, sistem satelit, operasi wahana antariksa, dan jaringan listrik di darat. Belakangan ini apakah GPS di ponsel kamu saat mau pesan ojol agak melenceng jauh? Semua merasakannya, karena adanya badai geomagnetik ini.
![]() |
| Lubang korona pada atmosfer Matahari tanggal 19 Januari 2026. Kredit: NASA/SDO |
Itu karena aktivitas Matahari yang kuat ini juga mengganggu lapisan ionosfer, yang menyebabkan sinyal satelit GPS menjadi terdistorsi, tidak akurat, atau bahkan hilang, memengaruhi navigasi dan komunikasi berbasis satelit. Gangguan ini terjadi karena perubahan kepadatan elektron di ionosfer yang memengaruhi waktu tempuh sinyal, sehingga sistem GPS salah menghitung posisi.
Selain itu, peristiwa ini juga memicu badai radiasi. Badai ini terjadi ketika letusan Matahari mempercepat partikel energi tinggi, terutama proton, yang melaju lebih cepat daripada CME itu sendiri. Partikel-partikel ini mencapai Bumi lebih dulu dan menjadi ancaman serius bagi astronaut, peralatan elektronik satelit, serta penerbangan di lintang tinggi. Sebagian besar radiasi ini berhasil ditahan oleh atmosfer Bumi, tetapi risikonya tetap signifikan di luar perlindungan tersebut.
Badai radiasi diukur dengan skala S. Peristiwa Januari 2026 ini mencapai level S4, yang termasuk sangat kuat dan menjadi yang terparah sejak 2003 menurut Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA. Seiring waktu, intensitasnya menurun ke level S2, meskipun aktivitas geomagnetik masih berlanjut.
Saat ini, medan magnet Bumi masih terus merespons aliran angin surya yang tersisa. Selama kondisi ini bertahan dan langit cerah, jika kamu kebetulan tinggal di area lintang tinggi Bumi, kamu memiliki kesempatan untuk menyaksikan aurora.
Apakah Badai Geomagnetik Bahaya Bagi Manusia?
Secara ilmiah, badai geomagnetik tidak berdampak langsung pada tubuh manusia. Alasannya sederhana dan dapat dijelaskan dengan fisika dasar.Bumi memiliki atmosfer yang tebal dan medan magnet yang kuat. Dua lapisan ini berfungsi sebagai pelindung alami dari partikel bermuatan dan radiasi berenergi tinggi yang berasal dari Matahari. Ketika badai geomagnetik terjadi, sebagian besar partikel surya dibelokkan oleh magnetosfer atau diserap di lapisan atmosfer atas sebelum mencapai permukaan Bumi.
Radiasi yang berbahaya, seperti proton berenergi tinggi dalam badai radiasi, memang meningkat selama peristiwa Matahari yang ekstrem. Namun, radiasi ini tidak sampai menembus ke permukaan dalam jumlah yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Itulah sebabnya manusia di darat tidak mengalami peningkatan risiko radiasi saat badai geomagnetik berlangsung.
Dampak langsung baru muncul ketika manusia berada di luar perlindungan alami Bumi. Astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional, misalnya, dapat menerima paparan radiasi yang lebih tinggi saat badai surya kuat. Maka dari itu, NASA cukup ketar-ketir mengingat sebentar lagi akan ada misi peluncuran manusia ke Bulan dalam Artemis II.
Kesimpulannya, badai geomagnetik tidak memengaruhi manusia secara biologis dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh terbesarnya justru terjadi pada sistem teknologi yang kita gunakan. Selama berada di permukaan Bumi, kamu berada dalam perlindungan alami yang efektif dari aktivitas Matahari, sementara aurora menjadi satu-satunya dampak yang bisa dinikmati secara langsung oleh mata manusia.
Sumber & Referensi:
- Dobrijevic, D. (2026). Severe G4 geomagnetic storm sparks jaw-dropping northern lights worldwide (photos). SPACE.
- Gonzalez‐Esparza, J. A., Sanchez‐Garcia, E., Sergeeva, M., Corona‐Romero, P., Gonzalez‐Mendez, L. X., Valdes‐Galicia, J. F., ... & Hernandez‐Quintero, E. (2024). The mother's day geomagnetic storm on 10 May 2024: Aurora observations and low latitude space weather effects in Mexico. Space Weather, 22(11), e2024SW004111.
- Lakhina, G. S., & Tsurutani, B. T. (2016). Geomagnetic storms: Historical perspective to modern view. Geoscience Letters, 3(1), 5.
- NOAA. (2026). Update: G4 (Severe) Geomagnetic Storm Alert Issued. National Oceanic and Atmospheric Administration.
- SANSA. (2026). Elevated Geomagnetic Storm Activity Expected. South African National Space Agency.
- Tang, L., Pan, Y., Yu, Y., Xu, W., Hao, Y., & Ma, L. (2026). The impact of energetic electron precipitation on nighttime atmospheric ozone during geomagnetic storms. Science China Earth Sciences, 69(1), 278-287.
- Young, C. A., Triggs, W., Ortiz, C. (2026). Severe geomagnetic storm! What happened to the auroras?. EarthSky.



