Saran pencarian

Bintik Merah Besar di Planet Jupiter Mencapai Ukuran Terkecilnya

Bintik Merah Besar di Jupiter menyusut. Badai abadi ini ukurannya tidak lagi 3 kali lipat Bumi, tetapi mulai lebih kecil daripada Bumi!
Bintik Merah Besar di permukaan Jupiter. Kredit: NASA/JPL-Caltech

InfoAstronomy - Bintik Merah Besar, badai abadi yang teramati di permukaan teratas planet Jupiter, ternyata ukurannya menyusut dari waktu ke waktu. Dan kini, kita sedang mengamati ukuran terkecilnya dalam sejarah pengamatan. Apa penyebabnya?

Alasan ilmiah di balik menyusutnya salah satu keunikan alam ini belum sepenuhnya dipahami oleh para astronom. Walau begitu, kumpulan awan badai raksasa ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Jadi walaupun menyusut, ia tidak akan hilang.

Bintik Merah Besar adalah badai raksasa yang berputar-putar di belahan selatan Jupiter. Diameternya sangat besar sehingga bisa muat beberapa planet seukuran Bumi sekaligus. Di dalam hamparan awan badai raksasa yang dahsyat ini, angin berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan melebihi 643 kilometer per jam.

Asal-usulnya pembentukannya tidak diketahui, bahkan kapan terbentuknya pun kita tidak tahu. Hanya ada catatan suatu fitur permukaan Jupiter yang berasal dari abad ke-17 saat manusia mulai mengamati sang planet terbesar di tata surya itu. Namun apakah itu Bintik Merah Besar sejauh ini masih diperdebatkan karena catatan pengamatannya kurang lengkap.

Yang jelas, badai raksasa tersebut telah menyusut selama satu abad terakhir. Seiring dengan penyusutan ini, bentuk badai tersebut pun menjadi tidak terlalu lonjong lagi, melainkan lebih melingkar.

Perubahan ukuran Bintik Merah Besar tahun 1891, 1961, 2003, dan 2023. Kredit: Lick Observatory/Catalina Observatory/Damian Peach

Pada abad ke-19, para astronom memperkirakan bahwa Bintik Merah Besar membentang dengan diameter sekitar 41.000 kilometer. Ketika wahana antariksa Voyager terbang lintas dekat Jupiter pada tahun 1979 dan 1980, lebar badai tersebut mengecil menjadi 23.335 kilometer. Dan pada tahun 2014, teleskop antariksa Hubble mengukur bahwa diameter badai tersebut hanya di bawah 16.500 kilometer.

Lalu bagaimana dengan diameternya pada tahun 2023 ini? Menurut pengamatan terbaru yang dilakukan oleh pengamat planet yang juga merupakan seorang astrofotografer, Damian Peach, diketahui bahwa ukuran Bintik Merah Besar saat ini hanya 12.500 kilometer. Ukuran terkecil dalam sejarah pengamatan!

Dari ukurannya yang masih besar hingga menjadi kecil seperti sekarang, Bintik Merah Besar merupakan sebuah teka-teki. Kita bahkan belum sepenuhnya memahami ramuan kimiawi apa yang membuatnya memancarkan warna merah-oranye yang begitu kaya. Dengan teleskop super tajam saat ini, mustahil untuk mengintip jauh ke dalam badai untuk melihat ada apa di baliknya.

Bintik Merah Besar dipotret dari dekat oleh wahana antariksa Juno, 2016. Kredit: NASA/SwRI/MSSS

Uniknya, meskipun ukurannya menyusut, tampaknya Bintik Merah Besar tidak akan punah. Pada tahun 2021, penelitian menunjukkan bahwa angin terluar Bintik Merah Besar semakin cepat. Beberapa astronom percaya bahwa badai tersebut bisa ada karena akan terus dipicu oleh pola pemanasan dan pendinginan di sekitar pusaran.

Jadi, jika kamu ingin melihat Bintik Merah Besar sebelum semakin menyusut lagi, inilah waktu yang tepat. Kamu bisa melihatnya dengan teleskop dari permukaan Bumi. Beberapa teleskop yang cocok tersedia di InfoAstronomy Store, lho!

Dapatkan teleskopnya di sini: InfoAstronomystore.com

Sumber:
  • Galanti, E., Kaspi, Y., Simons, F. J., Durante, D., Parisi, M., & Bolton, S. J. (2019). Determining the depth of Jupiter’s great red spot with Juno: A Slepian approach. The Astrophysical Journal Letters, 874(2), L24.
  • Reneke, D. (2015). Jupiter's great red spot is shrinking. Australasian Science, 36(10), 45.
  • Simon, A. A., Tabataba-Vakili, F., Cosentino, R., Beebe, R. F., Wong, M. H., & Orton, G. S. (2018). Historical and contemporary trends in the size, drift, and color of Jupiter's great red spot. The Astronomical Journal, 155(4), 151.
  • Simon, A. A., Wong, M. H., Rogers, J. H., Orton, G. S., De Pater, I., Asay-Davis, X., ... & Marcus, P. S. (2014). Dramatic change in Jupiter's Great Red spot from spacecraft observations. The Astrophysical Journal Letters, 797(2), L31.
  • Wong, M. H., Marcus, P. S., Simon, A. A., de Pater, I., Tollefson, J. W., & Asay‐Davis, X. (2021). Evolution of the horizontal winds in Jupiter's Great Red Spot from one Jovian year of HST/WFC3 maps. Geophysical Research Letters, 48(18), e2021GL093982.
Ada perlu? Hubungi saya lewat riza@belajarastro.com

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.