-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Perbedaan Kenampakan Asteroid, Komet, atau Meteor

Info Astronomy - Pernahkah kamu ketika sedang santai mengamati langit malam, tiba-tiba ada objek bergerak cepat di langit? Kamu pun penasaran, objek yang kamu lihat itu asteroid, komet, atau meteor. Nah, dalam artikel ini, mari kita mengenal perbedaan kenampakan ketiga objek tersebut di langit.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita cari tahu dulu apa yang dimaksud dengan asteroid, komet, dan meteor ya. Pada dasarnya, ketiganya merupakan objek batuan kecil di tata surya, tetapi memiliki penyebutan yang berbeda-beda tergantung asalnya dan lokasi kemunculannya.

Asteroid

Kita mulai dari asteroid dulu deh. Menurut definisi yang disepakati oleh para astronom, asteroid merupakan objek batuan kecil yang berdiameter maksimal sekitar 1.000 km, yang mengorbit Matahari terutama di antara orbit Mars dan Jupiter dalam sebuah area yang disebut sabuk asteroid. Dengan kata lain, asteroid adalah objek yang terlalu kecil untuk dikategorikan sebagai planet, meskipun mereka mengitari Matahari.

Nah, di tata surya, ada pula asteroid yang masuk dalam kategori Asteroid Dekat Bumi. Asteroid dalam kategori ini juga berasal dari sabuk asteroid, tetapi ia "tertendang" oleh gravitasi Jupiter sehingga bisa memiliki orbit yang lebih dekat ke Matahari, bahkan sampai memotong orbit Bumi.

Asteroid Dekat Bumi inilah yang bisa sangat berbahaya karena dapat menabrak Bumi. Namun, untungnya hingga 1 abad ke depan, tidak ada Asteroid Dekat Bumi yang akan berada terlalu dekat dengan Bumi atau bahkan sampai menabrak planet kita.

Karena asteroid hanyalah objek batuan, mereka tidak memiliki ekor, dan sangat sulit untuk diamati dengan mata telanjang karena jaraknya biasanya sangat jauh. Dengan begitu, asteroid bisa kamu keluarkan dari daftar objek yang kemungkinan kamu lihat di langit malam.

Komet

Selanjutnya mari kita mengenal komet. Walaupun sama-sama mengitari Matahari seperti asteroid,  sebagian besar komposisi komet terdiri atas es yang mudah menguap, sedangkan asteroid biasanya dari bebatuan padat.

Ketika komet mendekati Matahari, es penyusunnya akan menyublim (berubah dari padat ke gas) dan bersama dengan partikel debu pada permukaannya, membentuk atmosfer yang terang di sekitar inti komet yang dikenal sebagai koma.

Saat debu dan gas dalam koma mengalir bebas ke luar angkasa, komet pun akan membentuk dua ekor, satu ekornya terdiri dari ion dan satu lagi dari debu. Inilah yang membedakan komet dengan asteroid. Komet dapat memiliki ekor yang sangaaaaat panjang.

Meski begitu, karena komet memiliki jalur orbit tersendiri dalam mengitari Matahari sehingga terletak di luar atmosfer Bumi kita, pergerakannya di langit sangat lambat, bahkan mengalami terbit dan terbenam akibat rotasi Bumi. Dalam pandangan mata telanjang pun, komet biasanya hanya muncul bagai titik hijau kecil, dengan ekornya yang baru bisa diamati kalau kamu mengamatinya lewat teleskop.

Maka dari itu, komet pun bisa kamu keluarkan dari daftar objek langit yang kemungkinan kamu amati saat malam hari, jika kamu tidak mengamatinya lewat teleskop.

Meteor

Tahukah kamu dari mana asal meteor? Jawabannya, meteor berasal dari pecahan asteroid maupun komet! Dan sepertinya, meteor lah objek yang kamu amati di langit malam itu.

Ketika mendekati Matahari, radasi bintang terdekat dari planet kita itu dapat membuat permukaan asteroid maupun komet terkelupas, sehingga banyak dari puing-puingnya itu tertinggal di sepanjang jalur orbit yang pernah dilewati asteroid atau kometnya.

Puing-puing ini disebut sebagai meteoroid, kelas objek yang terlalu kecil untuk disebut sebagai asteroid. Di luar angkasa sana, ada jutaan bahkan miliaran meteoroid yang mengambang bebas. Dan sewaktu-waktu, dalam orbitnya mengitari Matahari, Bumi kita bisa menerobos meteoroid-meteoroid tersebut.

Ketika itu terjadi, tertarik lah meteoroid itu oleh gravitasi Bumi. Karena Bumi memiliki atmosfer, meteoroid yang mencoba masuk ke Bumi akan mengalami gesekan di atmosfer, memanas lah ia dan terbakar menjadi objek yang disebut sebagai meteor.

Meteor dapat bergerak sangat cepat di langit, biasanya 66 kilometer per detik. Saking cepatnya, meteor akan terbakar habis di atmosfer sehingga tidak ada yang sempat untuk mencium permukaan Bumi. Meteor juga lah yang berhasil diabadikan oleh fotografer Gunarto Song di Merapi.
Meteor pada gambar di atas itu tidak benar-benar jatuh di puncak Gunung Merapi, melainkan berada jauuuuh di atmosfer, pada ketinggian sekitar 100 kilometer. Meteor tersebut seolah jatuh ke puncak gunung karena posisi fotografernya tidak terlalu tinggi, sehingga posisi meteor ada di balik gunung tersebut.

Karena jika saja meteor itu memang jatuh ke puncak gunung, sang fotografer saat ini sudah luka-luka akibat gelombang kejut yang akan sangat parah ketika meteor menabrak suatu objek di permukaan Bumi.

Nah, kesimpulannya adalah, jika objek yang kamu lihat di langit malam bergeraknya sangat cepat (hanya 1-2 detik) dan memiliki ekor, maka objek itu adalah meteor, bukan asteroid ataupun komet. Meteor-meteor memang bisa muncul secara sporadis setiap malam karena jumlah meteoroid yang sangat banyak di luar angkasa. Ini adalah fenomena biasa yang mungkin terlihat langka jika kamu jarang mengamati langit malam.

Bukan tanda bencana.