-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Salah Satu Bintang Tertua Sejagad Ditemukan

Info Astronomy - Baru-baru ini, para astronom menemukan sebuah bintang raksasa merah yang berjarak 16.000 tahun cahaya jauhnya dari Bumi. Menurut penelitian yang telah dilakukan, ia termasuk dalam jenis bintang generasi kedua di alam semesta.

Penelitian dilakukan dengan menganalisis kelimpahan unsur kimianya, yang mana tampaknya bintang ini mengandung unsur-unsur yang dihasilkan dalam hidup dan mati dari satu bintang generasi pertama. Oleh karena itu, dengan penemuan ini, kita mungkin menemukan bintang generasi pertama di alam semesta, yang sejauh ini belum ada yang ditemukan satu pun.

3 Kategori Bintang

Menurut astronom Ethan Siegel seperti dilansir Forbes.com, ketika para astronom mengklasifikasikan bintang, mereka biasanya membaginya menjadi tiga kategori, yang masing-masing disebut Populasi I, Populasi II, dan Populasi III.

Bintang Populasi I adalah bintang seperti Matahari kita, jenis bintang-bintang pertama yang pernah ditemukan karena berada di alam semesta kini. Mereka adalah bintang dengan fitur serapan kuat dalam spektrumnya, fitur yang menunjukkan bahwa sekitar 1% massa mereka terdiri atas unsur-unsur berat, yaitu inti atom selain hidrogen dan helium.

Bintang Populasi II, di sisi lain, adalah jenis bintang-bintang kedua yang ditemukan sejak manusia telah mampu melihat alam semesta lebih jauh. Mereka adalah bintang dengan fitur penyerapan yang jauh lebih lemah dalam spektrumnya. Alasannya, hanya sekitar 0,1% atau kurang dari massanya yang terdiri dari unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen atau helium.

Dan bintang Populasi III, menurut penelitian yang dilakukan per tahun 2019, sejauh ini masih dalam batas teoretis. Mereka dianggap merupakan bintang-bintang generasi pertama yang terbentuk sejak alam semesta tercipta. Pada masa awal semesta, 99,999999% unsur yang ada adalah hidrogen dan helium. Maka dari itu, bintang-bintang generasi pertama atau Populasi III ini kemungkinan besar benar-benar murni dan bebas logam (unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium) sama sekali.

Apa Manfaat Mempelajari Bintang Ini?

Kembali ke salah satu bintang tertua sejagad yang sedang kita bahas, para astronom telah melakukan analisis terhadap bintang tersebut menggunakan fotometri, teknik yang mengukur intensitas cahaya dari bintang untuk mengetahui informasi yang ada padanya, terutama unsur yang dikandungnya.

Hasilnya, menurut para astronom dalam makalah ilmiah yang mereka terbitkan, bintang yang diberi nama SPLUS J210428.01−004934.2 (atau disebut SPLUS J2104−0049 saja biar lebih singkat ke depannya) merupakan jenis bintang yang super miskin logam. Usianya diperkirakan 13,7 miliar tahun, massanya mencapai 29,5 kali massa Matahari.

Dengan kata lain, bintang SPLUS J2104-0049 ini tidak benar-benar murni dari unsur logam, sehingga bisa dikategorikan sebagai bintang Populasi II, bintang dengan komposisi yang paling mirip dengan Populasi III yang selama ini belum pernah ditemukan satu pun (karena mereka berada di alam semesta awal, butuh teleskop canggih untuk mengamatinya).

Unsur logam pada bintang Populasi II dan Populasi I terbentuk dari masa hidup bintang Populasi III, dalam proses fusi termonuklir di intinya. Pertama, hidrogen berfusi menjadi helium, kemudian helium menjadi karbon, dan seterusnya hingga menjadi besi, tergantung pada massa bintang.

Bintang dengan massa rendah tidak memiliki cukup energi untuk fusi helium menjadi karbon. Sedangkan bintang yang paling masif pun tidak memiliki cukup energi untuk melakukan fusi besi. Ketika inti bintang-bintang masif seluruhnya sudah membentuk besi, mereka meledak dalam supernova.

Ledakan supenova tersebut lah yang berperan memuntahkan semua materi dari bintang ke seluruh penjuru luar angkasa. Selain itu, ledakannya yang sangat energik juga menghasilkan serangkaian reaksi nuklir yang membentuk unsur-unsur yang bahkan lebih berat, seperti emas, perak, torium, dan uranium. Bintang-bintang baru yang kemudian terbentuk dari supernova inilah yang akhirnya mengandung unsur dengan tingkat logam yang lebih tinggi.

Dengan meneliti bintang Populasi II seperti SPLUS J2104-0049 lebih jauh, kita kemungkinan dapat menemukan bintang Populasi III, yang mana jenis bintang ini sangat penting dalam studi kosmologi untuk mempelajari bagaimana semesta terbentuk dan berevolusi menjadi seperti hari ini, bagaimana kehidupan seperti yang ada di Bumi bisa ada.

Dan ya, tidak ada manfaat langsungnya memang bagi kehidupan kita sehari-hari, karena inilah sains. Sains adalah cara berpikir untuk memahami realitas di sekitar kita dengan benar. Sains bukan sebuah alat yang kita jadikan acuan baik dan buruk dalam kehidupan.

Dengan memahami perbedaan antara benar-salah (ranah sains) dengan baik-buruk (bukan ranah sains), kita dapat menemukan jawaban dengan banyak pembuktian.