-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Mengapa Melihat ke Semesta Sama Saja Melihat Masa Lalu?

Info Astronomy - Katanya, semakin jauh kita melihat ke alam semesta, itu artinya sama saja kita sedang melihat ke masa lalu. Kenapa bisa seperti itu ya? Dan apakah hal ini benar adanya?

Hal itu ternyata benar. Fenomena ini terjadi karena kecepatan cahaya yang terbatas. Saat kita melihat objek yang jaraknya sangat jauh dari kita, cahaya yang kita lihat sekarang adalah cahaya yang dipancarkan dari objek tersebut sejak lama tergantung seberapa jauh ia berada. Jadi pada dasarnya kita tidak melihat kondisi objek itu saat ini, melainkan melihat kondisinya beberapa waktu yang lalu (saat cahayanya dipancarkan).

Sebelum membahasnya lebih jauh, kita kenalan dulu deh dengan kecepatan cahaya. Dalam ruang vakum seperti alam semesta, kecepatan cahaya yang disimbolkan dengan huruf c memiliki nilai 299.792.458 meter per detik. Nilai ini merupakan konstanta universal yang penting dalam banyak bidang fisika.

Berdasarkan teori reativitas khusus Albert Einstein, c adalah kecepatan maksimum bagi semua materi dan informasi di alam semesta dapat bergerak. Dengan kata lain, tidak ada yang bisa melebihi kecepatan cahaya di alam semesta.

Nah, kecepatan cahaya ini menjadi satuan jarak dalam astronomi. Kamu mungkin pernah mendengar atau membaca "tahun cahaya", kan? 1 tahun cahaya artinya adalah waktu yang ditempuh cahaya selama 1 tahun. Perhitungannya adalah 299.792.458 meter per detik × 60 detik per menit × 60 menit per jam × 24 jam per hari × 365,25 hari = 9.460.730.472.580.800 meter, atau 9,46 triliun kilometer!

Sebagai contoh, Proxima Centauri, yang merupakan bintang terdekat dari planet kita (selain Matahari), berjarak sekitar 4 tahun cahaya (9.460.730.472.580 kilometer × 4). Itu berarti, cahaya yang kita lihat darinya sekarang telah dipancarkan bintang itu sekitar 4 tahun yang lalu. Sesuatu yang sangat dahsyat bisa saja sedang terjadi pada bintang itu dalam 4 tahun terakhir, tetapi kita belum bisa mengetahuinya karena butuh 4 tahun lagi untuk melihatnya.

Bahkan cahaya dari Matahari membutuhkan waktu sekitar 8 menit untuk mencapai kita di Bumi ini. Jadi ketika kita sedang merasakan panas cahaya Matahari saat ini, cahaya itu adalah yang dipancarkan Matahari 8 menit yang lalu. Dan jika saja tiba-tiba Matahari menghilang, entah karena ditelan lubang hitam, kita tidak akan menyadarinya sampai 8 menit kemudian.

Demikian pula, cahaya yang kamu lihat dari objek di sekitarmu, misalnya ponsel yang kamu pegang atau layar komputer yang kamu lihat untuk membaca artikel ini sekarang, mengalami sedikit penundaan. Namun, karena jarak mereka dekat darimu, cahaya dari mereka hanya butuh nanodetik (sepersejuta detik) untuk bisa kamu lihat.

Atau, pernahkah kamu ketika sedang menonton siaran langsung di TV yang melibatkan komunikasi antara pembawa acara di studio dengan jurnalis di lokasi ia mengabarkan mengalami penundaan? Itu terjadi karena butuh waktu bagi sinyal dari satu orang untuk mencapai yang lain.

Kesimpulannya, iya, melihat semakin jauh ke semesta sama saja melihat semakin jauh ke masa lalu.