-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Mengapa Matahari Terasa Panas Padahal Ada di Ruang Vakum?

Info Astronomy - Luar angkasa adalah ruang vakum yang nyaris sempurna. Bagaimana bisa panas Matahari merambat dan terasa sampai Bumi? Bukankah panas membutuhkan medium untuk bergerak?

Jawabannya ternyata cukup sederhana: panas adalah suatu bentuk energi yang dilepaskan dari Matahari dan bergerak melalui radiasi, itulah sebabnya Matahari terasa panas bagi kita di Bumi. Nah, biar kamu tidak bingung, kami akan jelaskan secara sederhana pada artikel ini.

Apa Itu Panas?

Pertanyaan ini mungkin cukup konyol, siapa juga yang tidak tahu apa itu panas? Meski begitu, ada hal yang perlu diluruskan. Konsep "panas" jauh lebih dari sekadar "sesuatu yang diukur dengan alat bernama termometer".

Dalam terminologi sehari-hari, kita mengatakan bahwa sesuatu memancarkan panas saat kita merasakan panas ketika menyentuh benda tersebut, atau kita dapat mengatakan bahwa udara sedang terasa panas akibat efek pemanasan global. Namun, apa definisi "panas" yang paling mendasar sebenarnya?

Panas adalah salah satu bentuk energi. Ini adalah energi yang dimiliki suatu benda berdasarkan pergerakan partikel penyusunnya. Partikel-partikel ini terus bergerak, saling menabrak dan memantul satu sama lain. Semakin cepat partikel-partikel ini bergerak dan saling menabrak, semakin panas benda tersebut.

Ketika kamu memanaskan suatu benda menggunakan korek api (atau sumber panas apa pun), yang kamu lakukan pada dasarnya adalah meningkatkan energi kinetik rata-rata partikel benda tersebut, yang pada gilirannya menaikkan suhu keseluruhannya.

Perpindahan Panas

Kalau kamu benar-benar menyimak pelajaran ilmu pengetahuan alam di bangku sekolah dulu, kamu mungkin sudat tahu bahwa panas dapat mengalami perpindahan dengan tiga cara berbeda, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.

Konduksi terjadi ketika dua benda bersentuhan satu sama lain. Ini adalah metode perpindahan panas yang paling umum, terjadi ketika partikel yang bergerak cepat dalam suatu benda berinteraksi dengan partikel dari benda lainnya, sehingga berpindahlah sebagian energinya ke benda lainnya tersebut.

Contoh konduksi yang mungkin sudah pernah kamu rasakan adalah ketika kamu tidak sengaja memegang gagang panci yang sedang panas saat kamu sedang memasak mi instan. Tangan kamu akan merasakan panas yang berpindah dari gagang panci tersebut.
Di sisi lain, konveksi terjadi ketika fluida yang dipanaskan (misalnya udara, air, dll) menjauh dari sumber panas dan bersentuhan dengan zat lain, sehingga terjadi perpindahan panas.

Contohnya seperti sedang memasak mi instan tadi, kamu pasti pernah menaruh tanganmu di atas panci untuk mengetahui airnya sudah panas atau belum. Kalau tanganmu terasa panas, artinya air di panci sudah mendidih, seonggok mi siap ditenggelamkan.

Nah, cara ketiga untuk perpindahan panas adalah lewat radiasi. Cara inilah yang menyebabkan Bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya merasakan panas dari Matahari.

Di luar angkasa, hampir tidak ada partikel (menjadikannya sebagai ruang vakum yang hampir sempurna), tetapi ada radiasi, yang diubah menjadi panas saat bertabrakan dengan suatu benda. Radiasi bahkan tidak hanya memanaskan benda-benda yang berada di Bumi, tetapi juga benda yang tidak (secara fisik) melekat pada planet kita, seperti ISS, Bulan, dan benda-benda langit lainnya.
Lalu, pertanyaannya sekarang adalah, mengapa Matahari bisa menyala di ruang vakum? Seperti yang kita tahu, api di Bumi bisa menyala karena proses yang dikenal sebagai oksidasi, merupakan suatu proses suatu zat menjadi bentuk zat yang lain. Api hanya bisa menyala kalau ada bahan bakar dan oksigen yang dipanaskan ke titik nyala. Dan di luar angkasa yang nyaris vakum itu tidak ada oksigen.

Pada Matahari, proses yang terjadi tidak seperti itu, bukan oksidasi. Matahari bisa menyala karena terjadinya reaksi fusi nuklir di intinya, yaitu mengubah hidrogen menjadi helium. Reaksi ini melepaskan sejumlah besar energi sepanjang waktu, yang kemudian dilepaskan ke sekeliling Matahari melalui gelombang elektromagnetik. Jadi, sama sekali tidak butuh oksigen.

Matahari memancarkan radiasi pada banyak panjang gelombang di seluruh spektrum elektomagnetik, termasuk inframerah, ultraviolet, dan sinar-X. Matahari juga memancarkan gelombang elektromagnetik dalam rentang spektrum cahaya tampak yang terlihat kasatmata, itulah mengapa kita bisa melihat Matahari.

Sekarang, kalau kamu masih ingat pelajaran tentang gelombang atau radiasi elektromagnetik yang dipelajari pada bangku sekolah menengah dulu, maka kamu mungkin ingat satu fakta tentang mereka: Gelombang elektromagnetik tidak membutuhkan medium untuk merambat.

Itu artinya, gelombang tersebut bisa bergerak melalui ruang vakum. Inilah mengapa kita dapat melihat Matahari dan merasakan panas dari Matahari di planet kita. Radiasi Matahari terdiri dari "paket" energi kecil dan tidak bermassa yang disebut foton. Mereka berjalan lurus di luar angkasa, yang setiap kali menabrak suatu benda, benda tersebut akan menyerap foton dan energinya meningkat, yang kemudian memanaskan bendanya.

Jadi, pada dasarnya foton-foton ini berjalan melalui ruang vakum tanpa tujuan, tetapi begitu mereka bertabrakan dengan suatu benda, seperti Bumi atau benda langit lainnya, foton tersebut akan diserap dan memberikan energi panas ke benda yang ditabraknya.

Untungnya, Bumi kita memiliki atmosfer yang sangat baik dalam menjaga planet tetap hangat dengan menjebak 50% energi panas Matahari yang diterimanya untuk mencegahnya keluar kembali ke luar angkasa.

Saban hari kalau ada seseorang yang bertanya kepada kamu bagaimana panas dari Matahari dapat merambat melalui ruang vakum, ingatlah bahwa panas tersebut tidak merambat melalui ruang vakumnya, melainkan melalui radiasi elektromagnetik yang tidak membutuhkan medium untuk perambatannya.