-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Kata Siapa Gerhana Bulan Terjadi 195 Tahun Sekali?

Info Astronomy - Kemarin, 26 Mei 2021, kita baru saja menyaksikan fenomena gerhana Bulan total. Selepas gerhana berakhir, banyak yang bilang, beberapa bahkan media mainstream di Indonesia, kalau gerhana Bulan berikutnya baru terjadi 195 tahun mendatang. Ah, kata siapa?

Memangnya, gerhana Bulan itu apa, sih? Sederhananya, gerhana Bulan adalah fenomena ketika Matahari-Bumi-Bulan berada segaris lurus di bidang tata surya, dengan Bumi berada di tengah-tengah antara Matahari dan Bulan. Hal itu, pada akhirnya membuat sinar Matahari yang seharusnya menyinari Bulan malah tertutup oleh Bumi.

Namun, alih-alih gelap, Bulan justru bisa muncul kemerahan saat puncak gerhana Bulan total. Itu terjadi karena sinar Matahari masih ada yang menerobos atmosfer Bumi, lalu dibiaskan atmosfer planet kita itu menuju umbra, atau bayangan gelapnya, di mana Bulan berada.

Nah, ada tiga jenis gerhana Bulan yang bisa terjadi, perhatikan gambar ini deh:
Jika seluruh Bulan masuk bayangan umbra Bumi, maka akan terjadi gerhana Bulan total. Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk umbra, yang terjadi adalah gerhana Bulan parsial. Dan jika Bulan hanya masuk bayangan penumbra, gerhana Bulan penumbra akan muncul.

Sampai di sini, paham ya kalau tidak hanya ada satu jenis gerhana Bulan saja? Baik, mari kita kembali lagi ke pertanyaan awal, benarkah gerhana Bulan terjadi 195 tahun sekali?

Kalau kamu sudah mengikuti astronomi sejak lama, kamu mungkin ingat pada tahun 2018 silam pernah terjadi 2 kali gerhana Bulan total. Lantas, kalau kemarin (26 Mei 2021) ada gerhana Bulan total lagi, bukankah selang waktunya hanya 3 tahun? Bukan 195 tahun? Di sini, kita bisa melihat kekeliruannya.

Gerhana Bulan bukanlah fenomena langka yang terjadi sekali setiap 195 tahun. Faktanya, menurut perhitungan matematis oleh astronom Jean Meeus dan Fred Espenak, dalam rentang 5.000 tahun dari tahun 2000 SM hingga 3000 M, ada total 12.064 kali terjadi gerhana Bulan, dengan 3.479 di antaranya adalah gerhana Bulan total, sisanya adalah gerhana parsial maupun penumbra.

Mari kita hitung.

Kita akan cari tahu dulu berapa kali rata-rata gerhana Bulan terjadi berdasarkan perhitungan dua astronom di atas. Diketahui, ada 12.064 gerhana, dibagi 5.000 tahun, maka hasilnya akan terjadi 2,4 gerhana Bulan per tahun. Dengan 3.479 di antaranya gerhana Bulan total, dibagi 5.000 tahun, maka ada 0,7 gerhana Bulan total per tahun.

Dengan kata lain, akan terjadi gerhana Bulan total, yang terlihat di suatu tempat di Bumi (tidak harus di Indonesia), sekali setiap 17 bulan. Serta akan terjadi gerhana Bulan parsial maupun gerhana Bulan penumbra sekali setiap 5 bulan.

Semuanya menjadi jelas sekarang. Hasil perhitungan tidak menunjukkan sama sekali bahwa gerhana Bulan hanya terjadi 195 tahun sekali!

Lalu, dari mana narasi yang menyatakan bahwa "gerhana Bulan terjadi 195 tahun sekali" itu? Usut punya usut, kami menemukan sumbernya dari situs web Edukasi Sains Antariksa LAPAN. Dalam artikel tentang gerhana Bulannya, LAPAN menjelaskan bahwa gerhana Bulan total yang terjadi pada 26 Mei 2021 cukup langka karena terjadi 195 tahun sekali.

Namun, perlu digarisbawahi, gerhana Bulan total 26 Mei 2021 yang dimaksud langka itu karena terjadi bertepatan dengan perigee, atau jarak terdekat Bulan dari Bumi, sekaligus bertepatan dengan Hari Waisak. Gerhana Bulan total yang bertepatan dengan perigee dan Waisak memang tidak terjadi setiap tahun.

Sebelum 26 Mei 2021, gerhana-Bulan-total-perigee-Waisak pernah terjadi pada 21 Mei 1826. Dan setelah 26 Mei 2021, gerhana sejenis baru akan terjadi lagi pada 21 Mei 2217. Inilah yang dianggap sebagai "gerhana Bulan terjadi 195 tahun sekali" itu.

Dengan kata lain, gerhana Bulan lain selain gerhana-Bulan-total-perigee-Waisak bisa terjadi tanpa harus menunggu 195 tahun. Ya kali harus menunggu hampir 2 abad? Padahal 3 tahun lalu kita baru saja menyaksikan gerhana yang sama dengan yang kemarin malam.

Setelah gerhana Bulan total 26 Mei 2021 kemarin, 5 gerhana Bulan dalam waktu dekat yang akan terjadi di Indonesia adalah:
  • 18 November 2021: Gerhana Bulan Penumbra
  • 8 November 2022: Gerhana Bulan Total
  • 6 Mei 2023: Gerhana Bulan Penumbra
  • 29 Oktober 2023: Gerhana Bulan Parsial
  • 24 Maret 2024: Gerhana Bulan Penumbra

Masih mau menyebarkan misinformasi?