-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Sahur Sambil Mengamati Hujan Meteor Lyrid

Info Astronomy - Ada fenomena menarik untuk menemani sahur kamu besok (22 April 2021), hujan meteor Lyrid akan mencapai puncaknya. Eits, berbahaya atau tidak ya fenomena ini? Bisa diamati di Indonesia kah? Simak artikel selengkapnya, ya.

Hujan meteor adalah peristiwa masuknya meteoroid-meteoroid kecil ke dalam atmosfer Bumi. Meteoroid ini sendiri berasal dari komet, yang ketika mendekati Matahari membuat material di permukaannya menguap dan tertinggal di sepanjang jalur orbit yang ia lewati.

Nah, dalam orbitnya mengitari Matahari, Bumi sesekali akan melewati bekas jalur orbit komet tersebut, sehingga meteoroid yang tertinggal dari komet akhirnya tertarik gravitasi planet kita, masuk ke atmosfer dan terbakar sebagai meteor. Dan karena jumlahnya sangat banyak, maka secara kolektif disebut sebagai "hujan meteor".

Menurut EarthSky.org, komet Thatcher (C/1861 G1) adalah sumber dari hujan meteor Lyrid. Setiap tahun, mulai tanggal 16 hingga 25 April, planet kita melintasi bekas jalur orbit komet ini. Namun, puncaknya adalah pada 22 April 2021, ketika Bumi berada di tengah-tengah gerombolan meteoroid dari komet C/1861 G1.

Komet induk Lyrid sendiri memiliki orbit 415 tahun dalam mengitari Matahari. Terakhir kali, komet Thatcher mengunjungi tata surya bagian dalam pada tahun 1861. Komet ini diperkirakan baru akan kembali lagi pada tahun 2276 mendatang.

Hujan meteor adalah fenomena yang aman bagi Bumi. Meteoroid-meteoroid dari komet Thatcher berukuran kecil-kecil, sehingga nantinya akan terbakar habis di atmosfer sebelum bisa mencapai permukaan Bumi.

Di mana pun kamu berada di Bumi, waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Lyrid adalah antara tengah malam dan fajar. Pada tahun 2021 ini, Bulan sudah terbenam pada jam tengah malam, sehingga prospek pengamatan Lyrid sangat baik.

Kiat-kiat Biar Berhasil Mengamati Lyrid

Kiat #1: Cari tahu titik radian hujan meteor Lyrid. Hujan meteor selalu muncul dari satu arah langit, yang biasanya bisa lebih mudah ditentukan berdasarkan rasi bintang. Nah, menurut UniverseToday, Lyrid memancar dari rasi bintang Lyra, dekat bintang paling cerahnya Vega. Yup, itulah mengapa hujan meteor ini dinamai "Lyrid".
Rasi bintang Lyra akan terbit di langit arah timur laut sekitar jam 01.00 dini hari waktu setempat daerahmu. Dengan begitu, kamu bisa mengamati arah langit tersebut untuk mulai mengamati hujan meteornya.

Namun, perlu diketahui juga nih kalau rasi bintang Lyra tidak akan menetap di arah timur laut saja semalaman. Karena gerak rotasi Bumi, rasi bintang di langit mengalami gerak semu, bisa terbit dan terbenam.

Kiat #2: Amati di wilayah yang bebas polusi cahaya. Kami bisa pastikan kamu tidak akan bisa menemukan satu pun meteor jika melakukan pengamatan di kota besar atau sekitarnya. Itu karena kota besar memiliki tingkat polusi cahaya yang tinggi sehingga akan meredupkan kenampakan meteor.

Bagi yang tinggal di area yang minim bahkan bebas polusi cahaya, kamu sungguh beruntung. Area yang seperti itulah yang sangat ideal untuk mengamati hujan meteor apapun, termasuk Lyrid.

Kiat #3: Jangan lupa adaptasi mata kamu dengan gelapnya langit malam. Lakukan pengamatan awal minimal 30 sampai 40 menit agar mata kamu bisa beradaptasi dengan gelap. Hal ini akan memudahkan kamu dalam menemukan meteor-meteor Lyrid.

Jika kamu baru mengamati 1-5 menit, sudah pasti kamu tidak akan menemukan apapun di langit malam. Intensitas hujan meteor Lyrid sendiri mencapai 10 sampai 15 meteor per jam saja, itu pun untuk daerah yang minim polusi cahaya.

Oh iya, pengamatan hujan meteor Lyrid juga tidak butuh teleskop, ya. Yang kamu butuhkan adalah area dengan medan pandang luas karena meteor bisa muncul di segala penjuru langit. Selain itu, pastikan juga cuaca sedang cerah, tidak mendung apa lagi hujan air.

Selamat berburu meteor!