-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Panduan Berburu Bentangan Bimasakti Selama Ramadan 2021

Info Astronomy - Tinggal di dalam galaksi Bimasakti, membuat kita bisa melihat bagian dari galaksi sendiri di langit malam. Diamati dari Bumi, bagian dari galaksi Bimasakti itu akan tampak membentang dari satu cakrawala ke cakrawala lainnya. Nah, Ramadan ini, kita berkesempatan melihatnya, lho!

Melihat bentangan Bimasakti merupakan hal yang sangat sulit dilakukan di area sekitaran kota besar. Itu terjadi karena polusi cahaya dari lampu-lampu kota sudah membuat langit malam menjadi terlalu terang, sehingga meredupkan sebagian besar objek angkasa, termasuk bentangan Bimasakti.

Dengan begitu, kalau kamu mau berburu bentangan Bimasakti selama Ramadan 2021 ini, disarankan melakukan pengamatan pada area yang jauh dari kota besar, atau sumber polusi cahaya yang berlebihan, menuju tempat pengamatan yang lebih gelap dan minim polusi cahaya.

Memangnya, kapan saja sih kita bisa melihat bentangan Bimasakti itu?

Pekan Pertama Ramadan
Pada artikel ini, kami akan membagi-bagi nih waktu pengamatan Bimasaktinya. Karena seiring Bumi yang bergerak mengitari Matahari di tata surya, waktu terbit dan terbenam bentangan Bimasakti di langit juga selalu berbeda.

Oh iya, di sini kita samakan persepsi dulu ya. Bentangan Bimasakti memang membentang dari satu cakrawala ke cakrawala lainnya, tetapi yang biasa diabadikan oleh astrofotografer adalah arah pusat galaksi Bimasaktinya, yakni yang terletak di antara rasi bintang Sagitarius dan Skorpius.

Nah, pada pekan pertama Ramadan, rasi bintang Sagitarius tempat pusat galaksi Bimasakti berada sudah terbit di tenggara sekitar jam 23.30 malam waktu setempat daerah kamu:
Kenapa harus tau waktu terbit bentangan Bimasakti? Hal ini sangat penting kalau kamu mau melakukan pemotretan. Ketika bentangan Bimasakti masih rendah dari cakrawala (saat baru terbit atau mau terbenam), kamu jadi bisa memotretnya bersama dengan latar depan seperti pegunungan.

Karena terbit jam 23.30 malam, akibat rotasi Bumi, bentangan Bimasakti sudah akan pindah ke langit atas kepala sekitar jam 04.30 dini hari waktu setempat daerahmu, sekitar waktu sahur. Kemudian, bentangan Bimasakti akan terbenam menjelang tengah hari, yang sayangnya tidak bisa diamati karena sudah kalah terang dari cahaya Matahari.

Pekan Kedua Ramadan
Seiring Bumi yang terus bergerak mengitari Matahari, waktu terbit bentangan Bimasakti pun semakin awal. Pada pekan kedua Ramadan ini misalnya, bentangan Bimasakti sudah terbit 30 menit lebih awal, yakni pada jam 23.00 malam waktu setempat daerah kamu.
Yup, seperti yang sudah kamu duga, bentangan Bimasakti pada pekan kedua Ramadan akan berada di langit atas kepala pada sekitar jam 04.00 dini hari waktu setempat daerah kamu, 30 menit lebih awal daripada pekan pertama.

Pekan Ketiga Ramadan
Jangan lupa, waktu terbaik untuk mengamati bentangan Bimasakti adalah dari fase Bulan Baru hingga perbani awal. Selepasnya, Bulan akan teramati di langit tengah malam. Seperti pekan ketiga Ramadan ini, pada 27 April 2021, Bulan sudah masuk fase purnama.

Cahaya Bulan purnama bertindak seperti sumber polusi cahaya alami bagi langit malam. Hal ini pada akhirnya akan meredupkan kenampakan Bimasakti di langit. Dengan kata lain, pekan ketiga Ramadan bukan waktu yang bagus untuk mengamati atau memotret bentangan Bimasakti karena sedang ada Bulan purnama dan pascapurnama selama sepekan.

Bahkan pada tanggal 30 April 2021, Bulan akan berada tepat di depan bentangan Bimasakti. Ini merupakan malam yang harus paling dihindari dalam pengamatan Bimasakti.
Pekan Terakhir Ramadan
Bentangan Bimasakti sudah terbit pada jam 22.00 malam waktu setempat daerah kamu pada pekan terakhir Ramadan tahun ini. Dengan begitu, kamu tidak perlu begadang terlalu malam untuk bisa mendapatkan foto Bimasakti yang baru saja terbit.

Dan, ya, bentangan Bimasakti akan berada di langit atas kepala pada jam 03.00 dini hari waktu setempat daerah kamu pada pekan terakhir Ramadan ini, lalu akan terbenam pada sekitar jam 10.00 pagi di hari yang sama.
Gimana Cara Memotret Bentangan Bimasakti?
Tidak afdol rasanya memberikan informasi kapan waktu terbit bentangan Bimasakti tanpa informasi cara memotretnya. Untungnya, InfoAstronomy.org selalu memberikan informasi yang lengkap buat kamu.

Sebelum memotret, pastikan kamu sudah memiliki tripod untuk kamera kamu ya. Karena jujur saja, tripod benar-benar dibutuhkan. Kalau perlu, beli tripod yang agak mahal agar bisa stabil. Tanpa tripod atau punya tripod tapi tidak stabil akan menyebabkan hasil jepretan Bimasakti kamu menjadi blur.

Selain itu, pastikan juga kamera yang kamu miliki bisa diatur dengan mode manual. Dalam hal ini, mode manual berarti kamu bisa secara manual menyesuaikan ISO, aperture, dan kecepatan rana pada kamera.

Memotret bentangan Bimasakti sama seperti memotret area yang gelap. Jadi, untuk mendapatkan fokusnya, carilah titik cahaya terjauh yang bisa kamu temukan di langit pada malam hari, lalu kunci fokusnya di objek itu.

Pertama-tama, aturlah bukaan, f-stop, atau dikenal juga sebagai aperture ke angka terkecil. Semakin kecil f-stop, semakin banyak cahaya yang dapat ditangkap lensa kamera kamu. Dalam pengaturan aperture, kamu lah sebagai astrofotografer yang bisa menentukan sebesar apa f-stop yang dibutuhkan sesuai gear yang kamu miliki.

Di sini, kamu akan menggunakan teknik eksposur panjang. Seberapa lamanya waktu eksposur tergantung dari lensa yang kamu gunakan. Misalnya, lensa 16mm biasanya dapat memotret dengan eksposur sekitar 30 detik, sedangkan lensa 50mm lebih dekat ke 10 detik.

Untuk mencegah munculnya star trail (bintang-bintang jadi bergaris di hasil fotonya), kamu bisa pakai rumus 500: Kamu dapat menghitung waktu eksposur terpanjang yang dapat kamu lakukan berdasarkan jarak fokus lensa kamera kamu. Ingat, rumus 500 hanyalah rumus praktis dan bukan ilmu pasti. Aperture dan ISO tidak berpengaruh pada rumus 500.

Seperti apa sih rumus 500 itu? Cukup mudah kok, kamu hanya perlu membagi 500 berdasarkan panjang fokus kamera. Misalnya lensa 16mm, maka 500/16 = 31,25 detik. Sementara lensa 50mm, 500/50 = 10 detik. Detik ini adalah waktu untuk eksposur kamu.

Selain eksposur, ada juga pengaturan ISO. ISO ini biasanya merupakan pengaturan terakhir yang perlu kamu sesuaikan setelah kamu mengatur f-stop dan menemukan waktu eksposur yang cocok. Untuk menemukan ISO terbaik, diperlukan beberapa tes pemotretan.

Mulailah dengan ISO sekitar 1600 dan ambil bidikan. Jika hasil bidikan tersebut terlalu gelap, cobalah langsung tingkatkan angka ISO. Lakukan hal itu berulang-ulang hingga mendapatkan hasil jepretan di mana Bimasakti tampak jelas.

Biasanya, pengaturan ISO 6400 merupakan "sweet spot". Tapi hal ini akan berbeda-beda tergantung pada kamera. Dengan ISO 6400, beberapa kamera mungkin akan mendapati hasil jepretan yang banyak noise (bintik-bintik).

Yuk langsung mulai mengabadikan bentangan Bimasakti sepanjang Ramadan ini. Jangan lupa unggah ke Instagram dan tandai @infoastronomy ya!