-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

5 Fenomena Langit untuk Sahur Pertama

Info Astronomy - Besok dini hari (13/4), sahur pertama untuk Ramadan tahun ini sudah dilaksanakan. Untuk menemani sahurmu, kamu berkesempatan untuk melihat 5 fenomena langit menarik, lho. Penasaran ada apa saja?

Sahur pada umumnya dimulai sejak jam 03.00 dini hari. Nah, pada jam itu, ada beberapa objek langit yang bisa diamati nih. Mulai dari planet, gugus bintang, hingga hujan meteor. InfoAstronomy.org sudah merangkumnya untuk kamu berikut ini.

Planet Jupiter dan Saturnus
Dua planet raksasa gas di tata surya bisa diamati pada momen sahur pertama Ramadan kali ini. Kedua planet tersebut pun sedang muncul di arah langit yang sama pada waktu yang sama. Pada jam 03.00 dini hari, kamu bisa menemukan kedua planet ini di langit arah timur.

Kalau diamati dengan mata telanjang, Jupiter dan Saturnus hanya akan muncul bagaikan bintang saja. Itu terjadi karena jarak mereka yang begitu jauh dari Bumi. Kamu jadi memerlukan teleskop nih untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas lengkap dengan empat satelit alami terbesarnya dan Saturnus lengkap dengan cincinnya yang megah.
Jupiter dan Saturnus teramati di seluruh Indonesia selama cuaca di daerah kamu cerah.

Asterisma Segitiga Musim Panas
Tahukah kamu apa itu asterisma? Pada sahur pertama Ramadan tahun ini, kita berkesempatan melihat asterisma Segitiga Musim Panas. Asterisma sendiri adalah rangkaian bintang di langit yang mirip seperti rasi bintang, tetapi bukan bagian dari rasi bintang itu sendiri.

Dalam satu asterisma, biasanya terdiri atas beberapa bintang yang berada di rasi bintang yang berbeda. Contohnya asterisma Segitiga Musim Panas ini, yang terdiri atas bintang Vega di rasi bintang Lyra, Deneb di rasi bintang Cygnus, dan Altair di rasi bintang Aquila.

Pada jam 03.00 dini hari waktu setempat daerahmu, asterisma ini bisa ditemukan di langit arah timur laut, persis seperti gambar di bawah ini:
Kenapa disebut Segitiga Musim Panas? Itu karena kemunculan asterisma ini di langit malam menandai bahwa musim panas akan segera tiba di belahan Bumi utara. Di Indonesia sendiri, cuaca kemungkinan masih cenderung hujan sampai pertengahan tahun 2021 mendatang.

Gugus Bintang Omega Centauri
Omega Centauri adalah gugus bintang bola, atau globular star cluster, jenis gugusan bintang yang tampak seolah-olah "bulat" karena bintang-bintang dalam gugus ini terikat sangat erat oleh gravitasi, yang memberi mereka bentuk bola dan kepadatan bintang yang tinggi ke arah pusatnya.

Nah, Omega Centauri sendiri adalah salah satu gugus bintang bola itu, dan merupakan yang paling terang yang bisa diamati dengan mata telanjang. Namun, karena berjarak sekitar 17.000 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, kenampakannya di langit hanya akan seperti satu bintang tunggal kalau kamu mengamatinya dengan mata telanjang. Kamu perlu menggunakan teleskop agar wujud gugus bintang bolanya tampak lebih jelas.
Gugus Omega Centauri sendiri bisa diamati di langit arah tenggara mulai jam 03.00 dini hari waktu setempat daerah kamu, persis seperti gambar di atas.

Hujan Meteor Lyrid
Walaupun baru akan mencapai puncaknya pada 22 April 2021 mendatang, pada momen sahur pertama tahun ini kita sudah bisa nih melihat meteor-meteor awal Lyrid.

Sesuai namanya, titik radian atau titik kemunculan hujan meteor ini berada di rasi bintang Lyra. Nah, karena asterisma Segitiga Musim Panas tadi ada satu anggota bintangnya yang terletak di rasi bintang Lyra (si Vega), maka kamu cukup mengamati asterisma ini saja untuk menemukan meteor-meteor Lyrid.
Karena belum puncaknya, hanya akan muncul beberapa meteor per jamnya. Mengamati hujan meteor Lyrid tidak butuh teleskop, tetapi butuh langit gelap yang bebas polusi cahaya.

Bentangan Galaksi Bimasakti
Tinggal di dalam galaksi Bimasakti, kita berkesempatan melihat bentangan galaksi Bimasakti di langit malam. Dan pada momen sahur pertama tahun ini, bentangan Bimasakti akan membentang dari timur laut ke barat daya, dengan pusat galaksinya (arah rasi bintang Sagitarius) berada pada ketinggian sekitar 50 derajat dari cakrawala tenggara.

Sama seperti hujan meteor Lyrid, bentangan Bimasakti bisa diamati tanpa teleskop, tetapi sangat perlu kondisi langit yang benar-benar gelap dan jauh dari polusi cahaya kota besar. Jika kamu tinggal di kota besar atau pinggiran kota, bentangan Bimasakti tidak akan terlihat sama sekali.
Itu dia 5 fenomena langit yang bisa diamati untuk sahur pertama besok dini hari. Kami semua di InfoAstronomy mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankan.

Mau beli teleskop? Kami menyediakan teleskop-teleskop terbaik di InfoAstronomyStore.com.