-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Saturnus Bukan Satu-satunya Planet Bercincin di Tata Surya

Info Astronomy - Setiap ada pertanyaan "Apa planet bercincin di tata surya?", kemungkinan besar kamu akan langsung menjawabnya Saturnus. Padahal, Saturnus bukan satu-satunya planet bercincin di tata surya kita, lho!

Menganggap bahwa Saturnus adalah satu-satunya planet bercincin di tata surya merupakan hal yang keliru. Yang benar itu, Saturnus merupakan satu-satunya planet dengan cincin termegah. Itu karena sistem cincin planet-planet lainnya tidak ada yang semegah Saturnus.

Nah, planet-planet lain yang memiliki cincin selain Saturnus di tata surya setidaknya ada 3, yakni Jupiter, Uranus, dan Neptunus. Dengan kata lain, seluruh planet terbesar di tata surya memiliki sistem cincin masing-masing.

Pertanyaannya sekarang, kenapa kita tidak melihat sistem cincin pada Jupiter, Uranus, dan Neptunus? Rupanya, hal itu terjadi karena cincin-cincin pada ketiga planet raksasa selain Saturnus terdiri atas material yang berukuran lebih kecil dan lebih gelap daripada cincin megah Saturnus.
Cincin Saturnus sebagian besar terdiri atas es yang ukurannya berbeda-beda, mulai dari sebesar butiran pasir hingga sebesar gunung Salak. Kandungan es pada cincin Saturnus adalah yang membuat sistem cincin ini tampak lebih cerah saat memantulkan cahaya Matahari yang menyinarinya.

Cincin Saturnus pun lebarnya diketahui mencapai sekitar 400.000 kilometer, atau setara jarak dari Bumi ke Bulan. Namun, cincin tersebut tebalnya hanya 100 meter saja. Lalu, bagaimana dengan sistem cincin planet lainnya?

Cincin Jupiter
Sistem cincin Jupiter sangat redup karena sebagian besar terdiri atas debu gelap. Sistem cincin planet ini memiliki empat komponen utama: torus bagian dalam yang tebal yang dikenal sebagai "cincin halo"; "cincin utama" yang relatif cerah dan sangat tipis; dan dua "cincin gossamer" bagian luar yang lebar, tebal, dan redup.

Cincin utama dan cincin halo pada Jupiter berasal dari debu yang dikeluarkan oleh bulan-bulannya seperti Metis, Adrastea, dan objek-objek kecil lain yang saling bertumbukan dengan kecepatan tinggi.

Radius cincin Jupiter ini merentang dari 92.000 kilometer hingga 226.000 kilometer dari permukaan teratas Jupiter, dengan cincin gossamer yang paling lebar, sekitar 150.000 kilometer, dan tebalnya sekitar 2.000 hingga 8.400 kilometer.

Saking redupnya cincin ini, kita tidak bisa melihatnya secara langsung karena kalah terang dari Jupiter itu sendiri. Meski begitu, wahana antariksa Galileo pernah memotretnya dari sisi malam Jupiter:
Cincin Uranus
Cincin-cincin Uranus memiliki kompleksitas yang lebih rumit dibanding sistem cincin Saturnus. Cincin ini ditemukan pada 10 Maret 1977 oleh James L. Elliot, Edward W. Dunham, dan Jessica Mink. Namun, pada tahun 1789, astronom William Herschel juga melaporkan pengamatan cincin Uranus, yang saat ini masih diragukan sebagian astronom karena cincin yang begitu redup dan teknologi pada tahun 1789 diperkirakan belum bisa melihatnya.

Cincin Uranus sangat gelap, dengan albedo Bond (total radiasi elektromagnetik di suatu benda langit yang disebarkan kembali ke luar angkasa) dari partikel cincin tidak melebihi 2%. Partikel cincin Uranus mungkin terdiri atas es air dengan penambahan beberapa material gelap. Mayoritas cincin Uranus bahkan tidak tembus cahaya dan lebarnya hanya beberapa saja kilometer.

Sedikitnya, ada 13 cincin yang diketahui mengitari Uranus, yang diurutkan sebagai cincin 1986U2R/ζ, 6, 5, 4, α, β, η, γ, δ, λ, ε, ν dan μ. Radiusnya berkisar dari sekitar 38.000 kilometer untuk cincin 1986U2R/ζ hingga sekitar 98.000 kilometer untuk cincin μ.

Seperti Jupiter, cincin Uranus sangatlah redup, ditambah ia adalah planet yang berjarak sangat jauh dari Bumi sehingga cincinnya lebih sulit lagi teramati. Para astronom perlu mengamati Uranus lewat inframerah dulu agar cincinnya jelas terlihat seperti ini:
Cincin Neptunus
Sebagai planet terjauh dari Matahari di tata surya, Neptunus juga memiliki sistem cincin, lho!

Cincin Neptunus terdiri dari lima cincin utama dan pertama kali ditemukan pada 22 Juli 1984 oleh sekelompok astronom, yakni Patrice Bouchet, Reinhold Häfner, dan Jean Manfroid di La Silla Observatory (ESO) di Chile selama program pengamatan yang diusulkan oleh André Brahic dan Bruno Sicardy dari Paris Observatory.

Pada bagian terpadatnya, cincin Neptunus sebanding dengan area kurang padat dalam cincin utama Saturnus, tetapi sebagian besar sistem cincin Neptunus cukup redup dan berdebu yang sangat gelap, kemungkinan besar merupakan senyawa organik yang terpapar oleh radiasi, lebih mirip seperti cincin Uranus. Nama-nama cincin Neptunus sendiri diambil dari nama para astronom yang menyumbangkan karya ilmiah penting dalam penelitian planet ini, yakni cincin Galle, Le Verrier, Lassell, Arago, dan Adams.

Sistem cincin Neptunus ini melebar dengan radius mulai dari 40.900 kilometer dari permukaan teratas Neptunus hingga 62.932 kilometer jauhnya. Bagian cincin terlebar adalah cincin Lassell dengan lebar sekitar 4.000 kilometer.

Saking redupnya cincin Neptunus, ditambah jauhnya jarak Neptunus, para astronom harus memblokir cahaya yang dipantulkan Neptunus dari Matahari agar bisa melihat sistem cincinnya, kira-kira seperti ini:
Nah, itulah penjelasan mengenai planet-planet selain Saturnus di tata surya yang juga memiliki cincin. Jadi, mulai sekarang, kalau kamu mendengar sebutan atau istilah "planet bercincin", hal itu tidak cuma merujuk pada Saturnus saja ya, melainkan juga Jupiter, Uranus, dan Neptunus.

Dan yang benar adalah, Saturnus merupakan "planet dengan cincin termegah di tata surya".