-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Benarkah Pluto Hilang dari Tata Surya?

Info Astronomy - Sejak tahun 2006, definisi "planet" diubah oleh para astronom. Hal itu membuat Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet di tata surya. Sayangnya, malah banyak yang berpikir kalau Pluto hilang dari tata surya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Pluto?

Mari kita bahas.

Pluto ditemukan pada tahun 1930 silam oleh seorang astronom bernama Clyde Tombaugh. Pada saat penemuan Pluto itu, jumlah planet di tata surya masih ada 8, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Pluto pun menjadi planet ke-9 saat itu.

Pada masa itu, para astronom masih belum mengetahui kalau tata surya tidak hanya terdiri atas Matahari dan 9 planet utama saja, melainkan rupanya ada objek-objek yang lebih kecil lagi, yang terletak lebih jauh dari Pluto.

Status Pluto sebagai planet ke-9 mulai terancam sejak tahun 2003 silam. Kala itu, seorang astronom bernama Mike Brown dari California Institute of Technology dan rekan-rekannya menemukan sebuah objek di tata surya yang terletak pada jarak sekitar 3 kali jarak Pluto-Matahari. Objek tersebut diperkirakan berukuran lebih besar dari Pluto. Pada masa-masa awal penemuannya, objek ini disebut planet Xena.

Menurut UniverseToday.com, penemuan Xena ini adalah pemicu dari inisiatif para astronom untuk mendefinisikan ulang istilah "planet". Hal itu terjadi karena adanya klaim bahwa Eris berukuran lebih besar daripada Pluto. Dimulai tahun 2005, para astronom di International Astronomical Union (IAU) pun berunding untuk menentukan karakteristik dan syarat sebuah objek untuk dapat disebut sebagai planet.

Tepat pada Agustus 2006, IAU akhirnya menetapkan 3 syarat utama sebuah objek untuk bisa disebut planet di tata surya:
  1. Objek harus mengitari Matahari.
  2. Objek harus memiliki massa yang cukup untuk mengalami kesetimbangan hidrostatik, yakni memiliki bentuk bulat atau hampir bulat.
  3. Telah "membersihkan lingkungan" di sekitar orbitnya.
Berdasarkan 3 syarat planet di atas, Pluto rupanya tidak mampu memenuhi syarat ketiga. Terletak di area Sabuk Kuiper, orbit yang dilalui Pluto masih dihuni oleh banyak objek kecil. Pluto belum mampu mendominasi orbitnya dari objek langit lain.

Tidak hanya Pluto, Xena pun tidak lolos untuk dianggap planet. Dengan begitu, sebuah objek non-satelit yang tidak mampu memenuhi syarat sebagai planet akan diklasifikasikan sebagai "planet kerdil". Menurut IAU, "planet dan planet kerdil adalah dua kelas objek yang berbeda". Dengan kata lain, "planet kerdil" bukanlah planet.

Tidak lama setelah penurunan statusnya, Xena diubah namanya menjadi Eris. Perubahan nama itu diusulkan oleh Mike Brown si penemunya sendiri. Dalam kisah mitologi Yunani, Eris adalah dewi perselisihan, nama yang cocok karena penemuan Eris berujung pada perselisihan para astronom untuk mengubah syarat kategori planet.

Sampai di sini, sudah bisa diketahui ya bahwa Pluto tidak hilang sama sekali dari tata surya kita. Pluto masih berada di orbitnya dalam mengitari Matahari. Hanya saja, ia saat ini sudah diturunkan statusnya dari "planet" menjadi "planet kerdil", sehingga kita tidak bisa lagi menyebutnya sebagai planet ke-9 di tata surya.

Bahkan pada tahun 2015 silam, para astronom sukses mengambil gambar Pluto dari dekat dengan wahana antariksa New Horizons.
Bagaimana? Cantik kan Pluto?

Di sisi lain, Ceres, objek yang terletak di antara orbit Mars dan Jupiter, yang awalnya dianggap sebagai asteroid, naik statusnya menjadi "planet kerdil". Dan pada tahun-tahun berikutnya, para astronom menemukan lebih banyak lagi planet kerdil. Sampai artikel ini dipublikasikan, setidaknya ada 6 planet kerdil terbesar sejauh ini yang pernah ditemukan: Pluto, Ceres, Eris, Makemake, Haumea, dan Sedna.

Jadi, jangan sampai salah paham lagi menganggap Pluto itu hilang dari tata surya ya.