-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Saturnus Semakin Miring Karena Bulan Terbesarnya

Info Astronomy - Pernahkah kamu ditinggal seseorang sehingga membuat kamu terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi? Saturnus saat ini sedang merasakannya. Ia diketahui semakin miring karena bulan terbesarnya, Titan, bergerak menjauhinya.

Saturnus adalah planet raksasa gas terbesar kedua di tata surya kita. Dalam mengitari Matahari, rupanya Saturnus berotasi termiring-miring, dan semakin miring dari waktu ke waktu.

Kemiringan pada sumbu rotasi planet sebenarnya merupakan hal yang biasa. Bumi kita sendiri sumbu rotasinya miring 23,5 derajat, yang menyebabkan adanya 4 musim di permukaan Bumi. Sementara itu, planet Merkurius, Venus, dan Jupiter bisa dibilang tidak terlalu miring, dengan nilai kemiringannya hanya beberapa derajat saja.

Yang paling ekstrem adalah Uranus. Jika planet-planet lain berotasi seperti gasing kalau dilihat dari ekuator Matahari, Uranus berotasi "menggelinding" karena kemiringan sumbu rotasinya telah mencapai 98 derajat.

Alasan kemiringan setiap planet berbeda-beda. Namun, ada satu hal yang menarik. Saturnus memiliki kemiringan 26,7 derajat, dan angka ini rupanya terus bertambah besar. Pada awalnya, sebagian besar astronom percaya penyebabnya dimulai dari sekitar empat miliar tahun yang lalu, ketika tata surya masih muda dan resonansi orbit dengan Neptunus membuat Saturnus miring.

Namun, astronom Dr. Melaine Saillenfest dari Sorbonne Université telah menentang hal itu. Dalam penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa kemiringan Saturnus masih terjadi di depan mata kita saat ini, bukan dari miliaran tahun lalu.
Penelitian Saillenfest didasarkan pada penemuan mengejutkan tahun lalu bahwa Titan rupanya menjauh dari Saturnus dengan kecepatan 11 cm per tahun, jauh lebih cepat dibanding bergerak menjauhnya Bulan dari Bumi yang hanya 3,8 cm per tahun.

Pergerakan Titan menjauh dari sang planet bercincin ini ternyata sekitar 100 kali lebih cepat dari yang diperkirakan. Titan, yang ukuran dan massanya jauh lebih besar daripada 81 bulan milik Saturnus lainnya, membuat gravitasinya memiliki pengaruh besar pada planet induknya.

Pada makalah penelitiannya yang diterbitkan di Nature Astronomy, Saillenfest dan rekan-rekannya telah mencoba memodelkan kemiringan Saturnus dalam berbagai skenario. Mereka menemukan kemungkinan besar bahwa Saturnus pada awalnya tetap "tegak" selama tiga miliar tahun pertama setelah terbentuk. Hanya dalam miliaran tahun terakhir, seiring menjauhnya Titan, Saturnus menjadi planet yang perlahan mulai miring akibat pengaruh gravitasi Titan.

Dalam beberapa miliar tahun ke depan, Saillenfest menyimpulkan dalam makalah ilmiahnya kemiringan Saturnus akan lebih dari dua kali lipat dari saat ia masih tegak.

Jika penelitian Saillenfest ini benar, para astronom punya alasan kuat untuk berterima kasih kepada Titan. Cincin Saturnus yang mengelilingi ekuatornya, jika semakin miring, maka akan terlihat lebih jelas dari sudut pandang kita di Bumi saat diamati lewat teleskop.

Saturnus, tetap kuat ya!
BERIKAN KOMENTAR ()