-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Mungkinkah Kita Mengunjungi Lubang Hitam untuk Mempelajarinya?

Info Astronomy - Untuk memecahkan misteri lubang hitam, kita seharusnya mengunjungi salah satu dari mereka di alam semesta. Namun, mungkinkah hal tersebut bisa dilakukan?

Lubang hitam adalah salah satu objek paling melimpah di alam semesta kita. Objek misterius ini bahkan menjadi unsur penting dalam evolusi alam semesta, dari Big Bang hingga hari ini. Meski begitu, sejauh ini belum ada misi apapun untuk mengunjungi lubang hitam.

Artikel kali ini akan membahas kemungkinan misi ke lubang hitam berdasarkan apa yang para astronom telah ketahui mengenai monster kosmis yang satu ini.

Dua Jenis Lubang Hitam
Di setiap sudut galaksi di alam semesta, lubang hitam banyak bertebaran. Setidaknya, menurut UniverseToday.com, ada dua jenis lubang hitam yang relevan dengan pembahasan kita kali ini.

Pertama, lubang hitam bermassa bintang, terbentuk ketika bintang masif runtuh setelah meledak dalam supernova, yang memiliki massa seberat massa bintang pada umumnya. Jenis kedua adalah lubang hitam supermasif, dengan massa jutaan bahkan miliaran kali lebih besar dari Matahari kita.

Selain perbedaan massa antara kedua jenis lubang hitam ini, yang juga membedakannya adalah jarak dari pusatnya ke "cakrawala peristiwa", titik-tidak-bisa-kembali dari lubang hitam. Objek apapun yang melewati titik ini akan ditelan oleh lubang hitam dan selamanya lenyap dari alam semesta.

Kira-kira, seperti inilah gambaran cakrawala peristiwa itu:
Kalau kita melewati cakrawala peristiwa, gravitasi lubang hitam akan menarik kita begitu kuat sehingga tidak ada gaya mekanis yang dapat mengatasi atau melawan tarikannya. Bahkan cahaya, benda yang bergerak paling cepat di alam semesta, tidak dapat melarikan diri. Itulah mengapa objek yang satu ini disebut "lubang hitam".

Ukuran cakrawala peristiwa pun tergantung pada massa masing-masing lubang hitam. Dan menariknya, ukuran cakrawala peristiwa merupakan kunci bagi kita untuk bisa bertahan hidup atau tidak jika jatuh ke dalam lubang hitam.

Untuk lubang hitam bermassa Matahari, menurut Space.com, cakrawala peristiwanya akan memiliki radius kurang dari 3,5 kilometer. Sementara itu, lubang hitam supermasif seperti di pusat galaksi Bimasakti, yang memiliki massa kira-kira 4 juta kali massa Matahari, memiliki cakrawala peristiwa dengan radius 11,7 juta kilometer, atau 17 kali radius Matahari.

Dengan demikian, kalau kita jatuh ke dalam lubang hitam bermassa bintang, maka kita akan jauh lebih dekat ke pusat lubang hitam bahkan sebelum bisa melewati cakrawala peristiwanya, tidak seperti ketika jatuh ke dalam lubang hitam supermasif.

Nah, karena sudah berjarak lebih dekat dengan pusat lubang hitam, tarikan gravitasi lubang hitam bermassa bintang pada diri kita akan berbeda dengan kelipatan 1.000 miliar kali antara kepala dan kaki kita.

Dengan kata lain, jika kita menjatuhkan kaki terlebih dahulu saat mendekati cakrawala peristiwa lubang hitam bermassa bintang, tarikan gravitasi di kakikita akan secara eksponensial lebih besar dibandingkan dengan tarikan lubang hitam di kepala mereka.

Kita pada akhirnya akan mengalami apa yang disebut sebagai spagetifikasi, yang membuat kita kemungkinan besar tidak akan bertahan hidup karena tubuh kita akan merentang panjang menjadi bentuk mirip spageti yang panjang dan tipis.
Hal ini rupanya berbeda jika kita jatuh ke lubang hitam supermasif, yang mana titik terluar cakrawala peristiwanya masih terlalu jauh dari sumber pusat tarikan gravitasi lubang hitamnya, yang berarti perbedaan tarikan gravitasi antara kepala dan kaki kita hampir nol.

Dengan demikian, ketika kita mencoba melewati cakrawala peristiwa lubang hitam supermasif, kita tidak akan merasakan apapun, tidak akan direntangkan menjadi bentuk spageti yang panjang dan tipis. Kita mungkin masih bisa bertahan hidup dan melayang tanpa rasa sakit melewati cakrawala peristiwa lubang hitam supermasif.
Pertimbangan Lainnya
Sampai di sini, kita kini paham bahwa lebih aman mengunjungi lubang hitam supermasif dibandingkan mengunjungi lubang hitam bermassa bintang. Walau begitu, masih ada pertimbangan lain yang perlu diketahui sebelum berkemas dan mengendarai pesawat antariksa menuju lubang hitam supermasif terdekat.

Rupanya, kebanyakan lubang hitam supermasif yang telah para astronom temukan di alam semesta dikelilingi oleh cakram material yang sangat panas, kebanyakan terdiri atas gas dan debu dari bintang dan planet malang yang terlalu dekat dengan lubang hitam. Cakram ini disebut cakram akresi, sangat panas dan bergejolak, sehingga perjalanan ke lubang hitam supermasif akan sangat berbahaya jika lubang hitam tujuan kita memiliki cakram ini.

Untuk bisa masuk dengan aman ke lubang hitam supermasif, kita perlu menemukan lubang hitam supermasif yang benar-benar terisolasi dan sedang tidak memakan materi, gas, atau bahkan bintang di sekitarnya, sehingga ia tidak memiliki cakram akresi.

Sayangnya, kalau pun kita sudah menemukan lubang hitam supermasif yang terisolasi yang cocok untuk dikunjungi demi studi ilmiah, mengingat bahwa tidak ada yang bisa lolos dari tarikan gravitasi lubang hitam, kita yang jatuh ke lubang hitam supermasif tersebut tidak akan dapat mengirimkan informasi apapun tentang hasil temuan dan penelitian kita ke orang-orang di Bumi.

Sekali kita sudah melewati cakrawala peristiwa (yang artinya masuk ke lubang hitam), kita tidak akan bisa kembali. Masuk ke lubang hitam adalah misi bunuh diri dan sekali jalan.

Dengan begitu, mengunjungi lubang hitam untuk mempelajarinya pun menjadi hal yang paling sia-sia di alam semesta, terlebih sebenarnya kita bisa mempelajari sifat-sifat lubang hitam cukup dengan teleskop yang ada di Bumi.

Siapa di sini yang cita-citanya mau masuk ke lubang hitam?


Artikel ini diterbitkan ulang dan diterjemahkan dari The Conversation di bawah lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya di sini.