Gabung menjadi member BelajarAstro KLUB yuk! Cek benefitnya~

Saran pencarian

Berbasis Bulan, Mengapa Kalender Hijriah dan Tionghoa Berbeda?

Selain kalender Masehi berbasis Matahari yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, ada pula kalender Hijriah dan kalender Tionghoa.

Info Astronomy - Selain kalender Masehi berbasis Matahari yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, ada pula kalender Hijriah dan kalender Tionghoa yang berbasis Bulan. Nah, kalau sama-sama berbasis Bulan, mengapa penentuan tahun barunya bisa berbeda?

Hari ini, 10 Februari 2023, dalam kalender Tionghoa adalah Tahun Baru Imlek 2575. Sementara itu, tahun baru dalam kalender Hijriah yang sama-sama berbasis Bulan baru akan terjadi pada 7 Juli 2024 mendatang, yakni Tahun Baru 1446 H.

Perbedaan ini bisa dipahami karena sistem penanggalan merupakan hasil dari kebudayaan dan agama atau kepercayaan masyarakat. Beda budaya tentunya bisa beda sistem penanggalannya, atau bisa dikatakan setiap budaya bisa memiliki sistem penanggalan masing-masing.

Nah, walaupun sama-sama memakai pergerakan Bulan sebagai patokan, rupanya ada perbedaan dalam perhitungan kalender Hijriah dengan kalender Tionghoa.

Kalender Hijriah

Sistem penanggalan kalender Hijriah benar-benar murni berbasis periode sinodis Bulan dalam mengelilingi Bumi kita, yaitu 29,5 hari. Tanggal 1 dalam sistem kalender Hijriah dihitung dari saat kenampakan hilal, atau Bulan sabit awal yang sangat tipis setelah fase Bulan Baru.

Lama satu tahun dalam kalender Hijriah adalah 354 hari, dengan setiap tahunnya terdiri atas 12 bulan yang lamanya antara 29 dan 30 hari. Dan karena lama satu bulan dalam kalender Hijriah tidak benar-benar tepat dengan periode Bulan mengelilingi Bumi, ada tahun kabisat juga dalam kalender Hijriah. Dengan begitu, ada penambahan satu hari dalam tahun kabisat, menjadi 355 hari.

Nah, titik awal kalender Hijriah adalah ditandai dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekah ke Madinah, karena itulah disebut kalender Hijriah. Peristiwa tersebut adalah tahun 1 dalam kalender Hijrah, sehingga tahun ini sudah memasuki tahun ke 1445 H.

Kalender Tionghoa

Kalau sistem penanggalan kalender Hijriah benar-benar berbasis Bulan, sistem penanggalan Tionghoa memasukkan unsur Matahari. Itulah mengapa sistem ini dikenal juga sebagai sistem kalender lunisolar. Penetapan awal bulannya juga berbeda.

Patokannya bukan hilal, melainkan waktu konjungsi antara Bulan dan Matahari, atau yang dikenal dengan fase Bulan Baru, peristiwa saat Bulan dan Matahari terletak hampir segaris lurus dari sudut pandang manusia di Bumi.

Karena mendasarkan pada waktu konjungsi, penentuan tanggal 1 dalam kalender Tionghoa tidak perlu pengamatan, tetapi cukup dihitung secara matematis. Walau demikian, dalam kalender Hirjiah juga ada kelompok masyarakat yang melakukan hal serupa untuk menentukan tanggal 1 dalam kalendernya.

Nah, di sinilah kerumitan muncul. Sementara penentuan tanggal 1 dalam sebulan kalendernya cukup sederhana, perhitungan 1 tahun dalam penanggalan Tionghoa perlu memasukkan unsur musim. Karena jika memakai unsur Bulan saja, tahun baru dalam kalender Tionghoa akan sama dengan tahun baru Hijriah.

Orang-orang Tionghoa (khususnya di Tiongkok Daratan) ingin tahun baru dalam penanggalannya terjadi saat musim semi, saat musim panen tiba. Musim semi dinilai sebagai momen keberuntungan.

Gerak semu tahunan Matahari adalah penentu musim di Bumi. Sebagai contoh, ketika Matahari berada di 23,5 derajat Lintang Selatan, belahan Bumi selatan akan mengalami musim panas, dan belahan Bumi utara akan mengalami musim dingin. Begitu pun sebaliknya.

Dengan memasukkan unsur musim, satu bulan dalam kalender Tionghoa tetap berlangsung antara 29 dan 30 hari seperti sistem kalender Hijriah. Namun, kemudian, akan ada bulan kabisat atau yang dikenal dengan istilah Lun Gwee. Lama bulan kabisat ini juga 29-30 hari. Penambahan bulan kabisat akan dilakukan setiap 2,7 tahun sekali.

Dengan begitu, ada satu tahun dalam kalender Tionghoa yang berjumlah 13 bulan setiap 2,7 tahun. Alhasil, selisih 11 hari dengan kalender Masehi bisa diatasi, dan tahun baru Tionghoa tetap jatuh pada musim semi.

Itulah yang menyebabkan penanggalan Hijriah dan Tionghoa berbeda walaupun sama-sama memanfaatkan pergerakan Bulan di langit. Yup, inilah salah satu fungsi Bulan yang mengelilingi Bumi kita, untuk memudahkan manusia menentukan kalender dalam budaya masing-masing.

Selamat Tahun Baru Imlek!
Ada perlu? Hubungi saya lewat riza@belajarastro.com

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.