-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Bintik Matahari Raksasa Mulai Terbentuk di Matahari

Info Astronomy - Matahari kita mulai aktif kembali setelah baru-baru ini memasuki Siklus Matahari ke-25. Hal itu ditandai dengan munculnya sunspot atau bintik matahari raksasa, yang dikatalogkan sebagai AR2786, yang diprediksi dapat meletupkan suar kuat menuju Bumi.

Apa itu bintik matahari? Menurut Space.com, bintik matahari adalah area yang lebih gelap dan lebih dingin di permukaan Matahari yang dikenal sebagai fotosfer.

Fotosfer memiliki suhu sekitar 5.500 derajat Celcius, sementara bintik matahari memiliki suhu sekitar 3.500 derajat Celcius. Bintik matahari terlihat gelap jika dibandingkan dengan area fotosfer yang lebih terang dan lebih panas di sekitarnya.

Bintik matahari bisa berukuran sangat besar, bahkan hingga diameter 50.000 kilometer, lebih dari 4 kali diameter Bumi. Terbentuknya bintik matahari sendiri belum begitu dipahami oleh para astronom. Yang jelas, bintik matahari muncul pada area fotosfer yang memiliki aktivitas magnetik yang intens. Bintik matahari meletupkan semburan suar matahari dan badai besar yang disebut pelepasan massa koronal.

Nah, bintik matahari raksasa yang baru-baru ini terbentuk adalah AR2786. Diameter bintik matahari yang satu ini diperkirakan mencapai 55.618 kilometer.
Kredit Foto: Bill Shaw
Bintik matahari besar seperti AR2786 sangat mungkin menyebabkan badai matahari. Nah, tahukah kamu apa itu badai matahari? Apakah berbahaya?

Badai matahari adalah fenomena ketika suar matahari atau pelepasan massa koronal dari Matahari berinteraksi dengan medan magnetik Bumi. Suar matahari adalah suatu ledakan pada Matahari yang terjadi akibat terbukanya salah satu medan magnet permukaan Matahari, yakni saat terbentuknya bintik matahari.

Suar matahari membawa partikel berenergi tinggi dan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang sinar-X dan sinar gamma. Partikel berenergi tinggi dapat mencapai Bumi kita dalam waktu 1-2 hari. Sementara radiasi elektromagnetiknya akan mencapai Bumi dalam waktu sekitar 8 menit.

Lalu, bagaimana dengan pelepasan massa koronal? Yang satu ini juga merupakan partikel berenergi tinggi dari Matahari yang dilepaskan saat terbentuknya bintik matahari. Energi dalam sebuah pelepasan massa koronal biasanya sebesar 10²² – 6×10²⁴ joule, bergerak dengan rata-rata kecepatan 350 km per detik, sehingga hanya butuh 1-3 hari untuk mencapai Bumi setelah diletupkan.

Baik suar matahari maupun pelepasan massa koronal, menurut Earthsky.org, keduanya tidak berbahaya bagi kehidupan di Bumi. Itu karena Bumi kita memiliki medan magnet yang cukup kuat. Ketika partikel-partikel berenergi tinggi ini menumbuk Bumi, medan magnet planet kita akan mengalirkannya ke kedua kutub Bumi.

Partikel-partikel berenergi tinggi tersebut kemudian berbenturan dengan partikel udara dalam atmosfer Bumi, yang akan menyebabkan partikel udara (terutama nitrogen) terionisasi, terbentuk lah apa yang kita kenal sebagai aurora.

Meski begitu, jika partikel berenergi tinggi dari Matahari berjumlah besar, dampaknya akan lebih ekstrem. Gangguan listrik dapat terjadi di Bumi karena transformator dalam jaringan listrik akan kelebihan muatan. Selain itu, gangguan komunikasi dan internet juga bisa terganggu apabila satelit-satelit yang mengorbit Bumi rusak akibat badai matahari ini.

Bintik matahari raksasa seperti AR2786 sendiri diperkirakan merupakan pembuka. Dalam waktu-waktu mendatang, bintik matahari yang lebih besar dan lebih banyak kemungkinan akan terbentuk.