-->

Keberadaan Air di Bulan Dikonfirmasi!

Info Astronomy - Air ternyata tidak hanya ada di Bumi. Satu-satunya satelit alami pengiring planet kita, Bulan, baru-baru ini telah dikonfirmasi bahwa juga memiliki air di permukaannya.

Para astronom sebenarnya telah menemukan tanda-tanda keberadan air di bulan sejak tahun 2009. Lalu pada tahun 2018, para astronom mengonfirmasi keberadaan air dalam bentuk es di kutub selatan Bulan, pada kawah-kawah yang mengalami malam abadi karena kemiringan sumbu Bulan sehingga Matahari tidak pernah menyinarinya.

Nah, pengumuman konfirmasi keberadaan air di Bulan ini berasal dari dua penelitian yang diterbitkan pada Senin (26/10) di Nature Astronomy, yang mana keduanya melaporkan bahwa mungkin ada jauh lebih banyak air di Bulan daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Penemuan air di Bulan ini dilakukan lewat Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy, alias SOFIA, sebuah observatorium terbang yang ditempatkan di dalam pesawat Boeing 747. Dengan SOFIA, para astronom memindai permukaan Bulan pada panjang gelombang enam mikron.

Dari hasil pindaian itu, para astronom lantas memeriksa garis spektrum yang diperoleh dari permukaan Bulan. Berdasarkan garis-garis penyerapannya, para astronom menemukan bukti bahwa beberapa area di permukaan Bulan mengandung senyawa H2O.

Menariknya, keberadaan air di Bulan yang dikonfirmasi kali ini bukan berada pada area kutub-kutub Bulan yang tidak tersinari Matahari saja. "Kami memiliki bukti bahwa H2O juga ada di sisi Bulan yang diterangi Matahari," kata Paul Hertz, pimpinan divisi astrofisika NASA, seperti dilansir EarthSky.org.

Dari mana air di Bulan berasal dan bagaimana air tersebut bisa tersimpan selama ini juga menimbulkan beberapa pertanyaan menarik. Kemungkinan besar, air di Bulan terperangkap dalam struktur mirip manik-manik kecil di tanah yang terbentuk dari panas yang tinggi akibat tumbukan meteorit. Kemungkinan lain adalah bahwa air bisa tersembunyi di antara butiran tanah Bulan dan terlindung dari sinar Matahari.
Casey Honniball dari Institut Geofisika dan Planetologi Hawaii, pemimpin salah satu dari dua studi ini, mengatakan, "Tanpa atmosfer yang tebal, air di permukaan Bulan yang diterangi Matahari seharusnya hilang begitu saja ke angkasa, tetapi entah bagaimana sekarang kita bisa melihatnya. Mungkin ada mekanisme yang belum kita ketahui yang menghasilkan air di Bulan, dan ada sesuatu yang bisa menyimpan air ini di sana."

Studi kedua, yang dipimpin oleh Paul Hayne dari Departemen Astrofisika di Universitas Colorado, meneliti area di wilayah kutub Bulan, di mana es air diyakini terperangkap di kawah yang tidak pernah terkena sinar Matahari. Studi ini menemukan bukti adanya miliaran kawah mikro yang masing-masing dapat menampung air, yang jumlahnya setara dengan satu botol kecil air mineral 330 ml untuk satu meter kubik tanah Bulan.

"Masing-masing kawah mikro ini, yang kebanyakan lebih kecil dari seukuran koin, memiliki suhu yang sangat dingin (sekitar minus 160 derajat Celcius), sehingga cukup dingin untuk menyimpan es. Ini menunjukkan bahwa area berair di Bulan bisa jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Hayne, seperti dilansir ScientificAmerican.com.

Penemuan air di Bulan ini sangat penting karena akan sangat berguna bagi astronaut masa depan yang akan mendarat di sana. Air akan dapat diminum, membentuk oksigen untuk bernapas, hingga menjadi bahan bakar roket. Selain itu, seperti yang kita tahu, air adalah sumber kehidupan. Mungkinkah ada kehidupan sekecil mikroba pada air di Bulan itu?

Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan segera mengetahuinya mengingat NASA akan mengirimkan misi berawak Artemis menuju Bulan, yang akan dimulai pada tahun 2024 mendatang.
BERIKAN KOMENTAR ()