Mengenal Pluto, Planet Kerdil di Tata Surya

Info Astronomy - Objek langit paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir tidak diragukan lagi adalah mantan planet tata surya kita, Pluto. Berdasarkan definisi baru dari International Astronomical Union (IAU), Pluto digulingkan statusnya dari "planet" menjadi "planet kerdil".

Kita sekarang sepakat bahwa hanya ada 8 planet utama di tata surya kita, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Meski begitu, penurunan status Pluto ini tidak mengurangi rasa keingintahuan para astronom terhadap dunia yang sedingin es di ujung tata surya kita ini.

Artikel ini akan menginformasikan kepadamu tentang apa saja yang telah para astronom pelajari terhadap planet kerdil Pluto. Siap untuk menjelajahinya?

Pluto adalah planet kerdil terbesar yang pernah manusia temukan sejauh ini. Ia merupakan jenis planet bebatuan dan memiliki atmosfer berlapis-lapis yang terdiri dari karbon monoksida, metana, dan nitrogen.

Sebagian besar permukaannya mengandung es nitrogen beku, tetapi pengamatan baru-baru ini yang dilakukan oleh wahana antariksa New Horizons mengungkapkan bahwa Pluto kemungkinan besar juga memiliki lautan air dalam bentuk cair di bawah area berbentuk hati di permukaannya, Sputnik Planitia.
Pluto memiliki dataran yang luas dengan topografi yang bervariasi, mulai dari area yang berwarna putih dan oranye tua, hingga sehitam arang. Ia tidak memiliki medan magnet dan terletak di Sabuk Kuiper. Meskipun ia merupakan objek langit terbesar ke-9 dan ke-10 yang paling masif yang diketahui di tata surya kita, Pluto memiliki sekitar 1/6 massa dan 1/3 volume Bulan kita.

Penemuan Pluto sendiri dilakukan oleh astronom Amerika Serikat Clyde Tombaugh pada tahun 1930. Pluto menjadi objek pertama yang ditemukan di Sabuk Kuiper. Pada 75 tahun pertama sejak penemuannya, Pluto sempat dianggap lebih besar dari Merkurius. Namun, setelah penemuan bulan Pluto, Charon, massanya dihitung dengan lebih akurat lagi, di mana akhirnya diketahui bahwa Pluto 20 kali lebih kecil dari Merkurius.

Memasuki tahun 1992, benda langit lainnya mulai ditemukan di Sabuk Kuiper yang mirip dengan Pluto. Sejak saat itu pula lah status keplanetnya mulai dipertanyakan para astronom.

Diskusi panjang para astronom tentang status Pluto berakhir di tahun 2005, ketika IAU memperkenalkan klasifikasi baru yang disebut "planet kerdil". Menurut IAU, planet kerdil adalah kategori benda langit yang mengitari Matahari, memiliki kesetimbangan hidrostatik sehingga bentuknya bulat atau hampir bulat, dan belum mampu mendominasi orbitnya dari benda langit lain.

Pluto masuk dalam kategori baru itu, keluar dari keluarga planet tata surya. Kalau kamu pernah belajar di bangku sekolah kalau tata surya memiliki 9 planet (termasuk Pluto), kita mungkin seumuran.

Meskipun Pluto berukuran kecil, menariknya ia dikelilingi oleh lima satelit alami sekaligus. Mereka bernama Charon, Hydra, Kerberos, Styx, dan Nix.
Berdiameter sekitar 2.380 km, Pluto membutuhkan waktu 248 tahun Bumi untuk melakukan satu kali orbit mengelilingi Matahari. Saking lamanya waktu orbit ini, Pluto baru akan menyelesaikan sekali orbit mengelilingi Matahari sejak penemuannya pada tahun 2178 mendatang.

Oh iya, Pluto juga memiliki orbit yang sangat lonjong. Hal ini pun berdampak pada jarak antara Bumi ke Pluto yang menjadi begitu bervariasi. Pada jarak terdekatnya, Pluto bisa mencapai jarak 4,78 miliar km dari Bumi, hingga berjarak 7,5 miliar km ketika berada di jarak terjauhnya dari Bumi.

Untuk membayangkannya, Matahari kita diketahui berdiameter sekitar 1,3 juta km. Jika kita bisa menempatkan Matahari di antara jarak Bumi ke Pluto, kita memerlukan 5.400 buah Matahari dari ujung ke ujung.

Pada jarak sejauh itu, cahaya dari Matahari membutuhkan waktu sekitar 5,5 jam untuk melakukan perjalanan ke Pluto. Sementara dari Bumi, dibutuhkan waktu 4,6 jam untuk mencapai planet kerdil yang satu ini.

Jarak dalam satuan tahun cahaya ini tampaknya memang tidak terlalu besar, tetapi jika manusia bisa mendarat di Pluto suatu hari nanti, maka akan dibutuhkan waktu 4,6 jam untuk mengirimi mereka pesan dari Bumi dan kita harus menunggu 4,6 jam lagi untuk menerima pesan balasan kembali, itu juga kalau langsung dibalas, bukan cuma di-read seperti pesan dari kamu ke gebetan.

Jadi, itulah Pluto. Senang bisa mengenalnya.
BERIKAN KOMENTAR ()