Matahari Memasuki Siklus ke-25, Adakah Dampaknya?

Info Astronomy - Belakangan ini, kamu mungkin sudah membaca atau mendengar kabar bahwa Matahari memasuki siklus ke-25-nya. Nah, sudah tahukah kamu apa maksudnya? Apakah ada dampak buruknya bagi Bumi kita?

Dalam artikel ini, kami akan berusaha menjelaskannya dengan sederhana, tanpa menghilangkan konteks utama dari siklus Matahari ke-25 ini.

Matahari pada dasarnya memiliki suatu siklus 11 tahunan yang teratur, bergantian antara periode maksimum dan minimum dalam aktivitas kebintangannya. Dengan kata lain, setiap 11 tahun sekali, terjadi pergantian siklus aktivitas maksimum dan aktivitas minim pada Matahari kita.

Nah, baru-baru ini, sekelompok ilmuwan dari Lembaga Antariksa AS (NASA) dan Lembaga Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA) mengumumkan bahwa Matahari baru saja melewati periode minimumnya, memasuki aktivitas maksimumnya selama beberapa tahun ke depan, yang berarti kita telah memasuki babak baru dalam siklus Matahari.

Apa yang akan terjadi pada Matahari ketika dikatakan memasuki periode aktivitas maksimumnya? Salah satu yang paling kentara adalah kemunculan bintik Matahari.

Manusia sebenarnya telah mengamati bintik Matahari sejak ribuan tahun yang lalu, tetapi baru sejak penemuan teleskop kita dapat melakukan pencatatan aktivitas pada permukaan Matahari. Dari pengamatan lewat teleskop tersebut, para ilmuwan menemukan adanya siklus 11 tahunan yang menarik pada Matahari.

Selama waktu 11 tahun, Matahari bisa berada titik di mana ia memiliki sedikit atau tidak ada bintik Matahari sama sekali, kemudian 11 tahun setelahnya bisa berada pada titik di mana ada begitu banyak bintik Matahari yang muncul.

Coba perhatikan gambar di bawah ini deh:
Gambar di atas adalah Matahari yang dipotret pada waktu yang berbeda. Pada gambar sebelah kiri, yang diporet pada Desember 2019, tampak tidak ada bintik Matahari yang menodai permukaan Matahari, karena ia sedang berada dalam siklus minimumnya. Sementara pada gambar sebelah kanan, bintik Matahari ada begitu banyak karena Matahari sedang berada pada siklus maksimumnya, Juli 2014.

Menurut para ilmuwan, seperti dilansir UniverseToday, aktivitas bintik Matahari tersebut terkait dengan medan magnet yang kuat pada Matahari. Saat Matahari berada dalam masa tenang, medan magnet dianggap juga sedang masa tenang, membentang lurus dari utara ke selatan seperti yang terjadi di Bumi. Namun, seiring berjalannya waktu, medan magnet akan bergejolak, membentuk jalur rumit dan kusut yang masuk dan keluar dari permukaan Matahari.

Nah, titik di mana medan magnet menembus permukaan Matahari, di sanalah bintik Matahari muncul. Ketika akhirnya kekusutan ini terlalu banyak, medan magnet semakin bergejolak, melepaskan aliran energi dan meluncurkan ledakan suar serta pelepasan massa koronal yang hebat.
Berdasarkan pengamatan terhadap bintik Matahari belakangan ini, Matahari kita telah melewati batas periode minimumnya pada sekitar bulan Desember 2019, menurut laporan yang dikeluarkan oleh Panel Prediksi Siklus Matahari 25, sebuah kelompok yang dikelola bersama oleh NASA dan NOAA.

Laporan tersebut baru dirilis sekarang ini karena aktivitas Matahari masih bervariasi dari bulan ke bulan, sehingga dibutuhkan beberapa bulan sebelum benar-benar dinyatakan bahwa Matahari telah memasuki siklus yang baru. Dan di sinilah kita, siklus ke-25 sejak pencatatan siklus Matahari telah dimulai.

Dimulainya siklus ke-25 ini berarti selama beberapa bulan dan tahun mendatang, bintik Matahari akan muncul lebih sering. Ditambah lagi, cuaca Matahari seperti suar dan badai yang besar akan menjadi lebih umum, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2025 mendatang.

Suar dan lontaran massa koronal dapat menimbulkan ancaman bagi wahana-wahana antariksa, satelit yang mengorbit Bumi, dan bahkan sistem kelistrikan di Bumi (jika kasusnya sangat parah). Namun, kehidupan di Bumi sendiri masih akan tetap aman karena planet kita dilindungi oleh atmosfer.

Aliran partikel bermuatan yang dipancarkan Matahari, ketika menumbuk Bumi, akan dialirkan oleh magnetosfer planet kita ke kedua kutub, menciptakan pendaran cahaya aurora di Lingkar Arktik maupun Antartika.

Jadi, sebelum ada hoaks yang mengatakan kalau aktivitas Matahari ini akan menimbulkan kiamat atau semacamnya, ada baiknya diperhatikan dulu nih kalau ini adalah siklus 11 tahunan ke-25, yang artinya sudah terjadi setidaknya 25 kali dan Bumi aman-aman saja selama ini.

Oh iya, cuaca panas yang mungkin belakangan ini kamu rasakan juga bukan karena siklus Matahari ini. Panasnya cuaca yang seperti tidak biasanya disebabkan oleh pemasanan global, yang mungkin masih kamu anggap remeh saat ini.

Selamat memasuki fase kehidupan baru, Matahari!
BERIKAN KOMENTAR ()