Jadwal Fenomena Langit September 2020

Info Astronomy - September telah tiba. 2020 sudah mencapai bulan ke-9. Pastinya sudah banyak dong hal yang kamu berhasil capai pada tahun ini? Sambil menemani kamu mewujudkan pencapaian tahun ini, sepanjang September kita bisa melihat beberapa fenomena langit menarik.

Nah, seperti biasa, InfoAstronomy.org selalu merangkum jadwalnya untuk kamu nih. Silakan simpan artikel ini sebagai kalender astronomi kamu bulan ini ya.

Oke, apa saja sih fenomena langit yang bisa kita amati? Simak jadwalnya yuk!

2 September 2020: Fase Bulan Purnama
September dibuka dengan Bulan purnama. Kenapa baru tanggal 2 sudah purnama? Karena penanggalan fase Bulan tidak berhubungan dengan kalender Masehi, melainkan kalender yang berpatokan dengan Bulan, salah satunya Hijriah.

Pada tanggal ini, dalam kalender Hijriah sudah tepat pada tengah bulan Muharram 1442, sehingga Bulan sudah mencapai purnama. Secara astronomis, fase purnama dicapai pada 2 September 2020 pukul 12.22 WIB, namun kita baru bisa melihat Bulan purnama ketika Matahari terbenam, saat ia terbit.

Bulan purnama akan berada pada deklinasi -12° 18', atau di arah rasi bintang Akuarius. Jaraknya dari Bumi akan mencapai sekitar 399.000 km.

5-6 September 2020: Konjungsi Bulan dengan Mars
Yup, selama dua malam berturut-turut, 5 dan 6 September, kita berkesempatan untuk melihat fenomena konjungsi antara Bulan dengan planet Mars.

Konjungsi adalah fenomena ketika dua benda langit tampak berada di arah yang sama dalam pandangan dari Bumi. Dengan begitu, pada tanggal-tanggal ini, kita bisa melihat Mars yang tampak sebagai bintang kemerahan jika diamati dengan mata telanjang yang berada di sebelah Bulan.
Bisa diamati mulai pukul 10 malam waktu setempat daerahmu di langit timur, pada 5 September Mars akan berada sejauh 5 derajat di bagian timur Bulan, lalu pada 6 September akan berada sejauh 5 derajat di bagian barat Bulan, seperti pada gambar di atas.

Lebih Jauh: Apa Itu Konjungsi? Pelajari di sini!

10 Sepember 2020: Fase Bulan Perbani Akhir
Perbani akhir adalah fase di mana Bulan tampak separuh bagian saja tersinari Matahari, sementara separuh bagian lainnya gelap karena sedang malam hari. Fase ini terjadi karena posisi Bulan sekitar 90 derajat dari posisi Matahari di langit Bumi.

Di langit Indonesia, Bulan perbani akhir akan terlihat di langit dini hari menjelang fajar, terbit pada pukul 23.47 waktu setempat daerahmu dan mencapai ketinggian 61° di atas ufuk utara sebelum menghilang dari pandangan saat fajar menyingsing sekitar pukul 05.36 waktu setempat daerahmu.

14 September 2020: Konjungsi Bulan dengan Venus
Bangunlah lebih pagi pada 14 September mendatang, karena kamu berkesempatan melihat planet Venus yang tampak sangaaaaaat terang di sisi Bulan dalam pandangan dari Bumi.

Bisa diamati di langit timur mulai pukul 04.00 dini hari waktu setempat daerahmu, Bulan dan Venus akan terpisah sejauh 4 derajat satu sama lain, dengan Venus berada di sisi selatan Bulan. Dalam pandangan mata telanjang, Venus akan muncul seperti bintang paling terang.
Bulan akan bersinar dengan magnitudo visual -10 dan Venus -4,1. Keduanya bisa diamati sampai Matahari terbit di arah rasi bintang Kanser.

17 September 2020: Fase Bulan Baru
Dalam kalender Hijriah, fase ini menandai akhir dari bulan Muharram dan keesokan harinya akan berganti ke bulan Safar. Secara astronomis, Bulan Baru adalah fase di mana posisi Bulan hampir 0 derajat dari posisi Matahari di langit, sehingga mereka akan terbit dan terbenam berbarengan di langit dalam pandangan dari Bumi.

Akibatnya, Bulan tidak akan terlihat karena sisi terangnya sedang membelakangi Bumi, yang diamati dari Bumi hanya sisi gelapnya yang tidak disinari oleh Matahari. Fase Bulan Baru akan dicapai Bulan pada 17 September 2020 pukul 18.00 WIB.

19 September 2020: Segitiga Bulan-Merkurius-Spica
Segera setelah Matahari terbenam tanggal 19 September, tengok lah arah langit barat. Kamu akan menemukan Bulan sabit di sana yang membentuk formasi segitiga bersama planet Merkurius dan Spica, bintang paling terang di rasi bintang Virgo.

Dalam pandangan mata telanjang, Merkurius hanya akan muncul seperti bintang saja karena jaraknya sangat jauh dari Bumi. Namun, Merkurius bisa cukup mudah dibedakan dari Spica kok. Spica sendiri adalah bintang super raksasa biru, sehingga muncul dengan cahaya putih kebiruan, sementara Merkurius cahayanya kekuningan. Spica juga berkelap-kelip, dan Merkurius tidak.

Posisi mereka kurang lebih akan seperti ini:
Formasi segitiga Bulan-Merkurius-Spica ini bisa diamati hingga menjelang pukul 19.00 waktu setempat daerahmu, ketika ketiganya terbenam akibat rotasi Bumi.

22 September 2020: Ekuinoks
Ekuinoks sebenarnya bukan fenomena langit yang bisa diamati. Ekuinoks terjadi karena sumbu rotasi Bumi kita miring pada sudut sekitar 23,7° terhadap bidang orbitnya mengelilingi Matahari.

Kemiringan sumbu Bumi ini akan berlaku tetap di ruang angkasa seiring Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya, ada masanya terkadang kutub utara Bumi lebih condong ke arah Matahari pada bulan Juni, dan bergantian kutub selatan Bumi lebih condong ke Matahari pada bulan Desember.

Fenomena inilah yang menyebabkan Bumi kita memiliki berbagai musim, mulai dari musim dingin, musim panas, musim gugur, musim semi, dan musim kawin. Eh, yang terakhir itu sepertinya tidak termasuk deh. Hehe.

24 September 2020: Fase Bulan Perbani Awal
Tujuh hari setelah fase Bulan Baru, posisi Bulan sudah mencapai seperempat awal dari posisi Matahari, yakni mencapai sudut 90 derajat. Hal itupun membuat hanya separuh bagian Bulan saja yang tampak tersinari Matahari, sebagian lainnya gelap karena sedang malam hari.

Fase ini mirip dengan perbani akhir. Bedanya, pada fase perbani awal, Bulan sudah terbit pada tengah siang hari, sehingga ia akan berada tepat di langit atas kepala saat Matahari terbenam dan bisa terus diamati sampai menjelang tengah malam.

Secara astronomis, fase perbani awal akan terjadi pada 24 September 2020 pukul 08.55 WIB.

25 September 2020: Segitiga Bulan-Jupiter-Saturnus
Yup, pada 25 September, dua planet raksasa tata surya kita akan membentuk formasi segitiga bersama dengan Bulan dalam pandangan dari Bumi.
Eits, jangan berekspektasi tinggi dulu. Meski mereka adalah dua planet raksasa, kalau kamu mengamatinya dengan mata telanjang, kamu hanya akan melihat planet-planet ini seperti bintang yang terang saja. Kamu butuh teleskop untuk melihat planet lebih jelas.

Lebih Jauh: Rekomendasi Teleskop

Segitiga ketiga benda langit ini bisa diamati mulai pukul 18.30 waktu setempat daerahmu, ketika mereka berada di langit atas kepala. Mereka bisa terus diamati menjelang tengah malam saat siap terbenam di ufuk barat.

30 September 2020: Saat Terbaik Melihat Merkurius
Walaupun sempat membentuk formasi segitiga bersama Bulan dan Spica pada 19 September 2020, waktu terbaik untuk melihat Merkurius baru akan terjadi pada 30 September 2020.
Mengapa terbaik? Merkurius adalah planet terdekat dari Matahari. Hal ini membuat posisinya tidak pernah lebih jauh dari 23 derajat dari Matahari dalam pandangan dari Bumi. Nah, pada 30 September 2020, Merkurius akan berada sejauh 23 derajat dari Matahari. Saat Matahari terbenam, Merkurius masih setinggi 23 derajat dari cakrawala barat, membuatnya bisa diamati untuk sesaat sampai ia terbenam.

Dalam pandangan mata telanjang, Merkurius hanya akan tampak bagai bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip saja. Kamu perlu teleskop untuk bisa melihatnya lebih jelas ya.

Nah, itulah fenomena-fenomena langit yang bisa diamati sepanjang September 2020 ini. Biar belajar astronomi kamu makin seru, ikutan kelas online di BelajarAstro juga yuk! Klik di sini untuk pendaftaran: BelajarAstro.my.id/kelas
BERIKAN KOMENTAR ()