Jadwal Peristiwa Langit Agustus 2020

Jadwal peristiwa langit agustus 2020
Info Astronomy - Delapan bulan sudah tahun 2020 berlalu, banyak fenomena langit yang telah kita amati. Hari ini, kita sudah memasuki Agustus, fenomena apa saja ya kira-kira yang bisa kita amati pada bulan ini?

Biar kamu tidak penasaran, seperti biasa InfoAstronomy.org selalu merangkum jadwal peristiwa langit yang akan terjadi sepanjang sebulan ke depan nih, termasuk pada Agustus ini. Langsung saja yuk cek jadwalnya!

1 Agustus 2020: Konjungsi Bulan dengan Jupiter
Agustus akan dibuka dengan kenampakan Jupiter di dekat Bulan. Dalam astronomi, peristiwa ini dikenal sebagai konjungsi, yakni bertemunya dua atau lebih benda langit dalam pandangan dari Bumi karena mereka sedang berada di arah yang sama di ruang angkasa.
Pada momen konjungsi ini, Bulan dan planet Jupiter akan terletak di asensiorekta yang sama, terpisah kurang lebih 2° satu sama lain. Dengan kata lain, kalau kamu melihatnya dengan mata telanjang, Jupiter akan seperti bintang kuning terang di dekat Bulan.

Pasangan kosmis ini bisa diamati sejak Matahari terbenam, ketika keduanya berada pada ketinggian 23° di atas cakrawala timur. Seiring Bumi berotasi, posisinya akan terus meninggi, hingga mencapai ketinggian 8° pada pukul 04.00 dini hari keesokan harinya waktu setempat daerahmu. Bulan akan bersinar pada magnitudo -126 dan Jupiter pada magnitudo -2,7. Keduanya ada di arah rasi bintang Sagitarius.

2 Agustus 2020: Konjungsi Bulan dengan Saturnus
Setelah bertemu Jupiter, giliran Saturnus yang akan berada pada titik konjungsi dengan Bulan. Pada 2 Agustus 2020 ini, keduanya akan terpisah sejauh 2° satu sama lain.

Jangan sampai tertukar antara Saturnus dengan Jupiter ya. Dalam pandangan mata telanjang, kedua planet ini hanya akan tampak bagai bintang kuning terang saja. Meski begitu, Jupiter jauh lebih terang daripada Saturnus, persis seperti gambar peta langit di bawah ini:
Konjungsi Bulan dengan Saturnus ini juga bisa diamati sejak Matahari terbenam, ketika pasangan kosmis ini berada pada ketinggian 16° dari cakrawala timur. Bulan dan Saturnus akan terus bergerak semu ke barat hingga esok hari pukul 04.30 dini hari waktu setempat daerahmu.

3 Agustus 2020: Fase Bulan Purnama
Purnama pada Agustus ini akan terjadi pada tanggal 3. Fase ini adalah momen ketika posisi Bulan sudah berada 180° dari Matahari di langit Bumi, membuat keseluruhan wajahnya yang menghadap ke Bumi tersinari Matahari.

Secara astronomis, fase Bulan purnama 3 Agustus 2020 ini akan terjadi pukul 22.59 WIB. Walau begitu, Bulan sudah akan terbit saat Matahari terbenam dan terbenam esok hari saat Matahari terbit.

9 Agustus 2020: Konjungsi Bulan dengan Mars
Planet Merah akan bersanding dengan Bulan dalam pandangan dari Bumi pada 9 Agustus 2020. Kedua benda langit ini akan terpisah sejauh 3° satu sama lain. Di langit malam, Mars tampak seperti bintang kemerahan terang kalau kamu tidak melihatnya lewat teleskop. Ia akan bersinar dengan magnitudo -1,3, lebih terang daripada kenampakan Saturnus.

Untuk mengamatinya, tengoklah langit timur pada tengah malam (00.00 waktu setempat daerahmu). Pada saat itu, Bulan dan Mars sudah berada pada ketinggian 20° dari cakrawala timur. Keduanya akan bergerak semu ke barat seiring rotasi Bumi, dan akan hilang dalam pandangan karena kalah terang ketika Matahari terbit esok paginya.
11 Agustus 2020: Fase Bulan Perbani Akhir
Perbani akhir adalah fase ketika posisi Bulan sudah tiga perempat akhir dari fase Bulan baru. Dalam pandangan dari Bumi, bagian terang Bulan hanya akan tampak separuh saja tersinari Matahari, separuh lainnya sedang malam hari.

Pada fase ini, Bulan akan terbit sejak tengah malam, mencapai posisi tertinggi di langit pada saat Matahari terbit, dan terbenam pada tengah hari. Jadi, jangan kaget kalau pada pagi hari tanggal 11 Agustus 2020 kamu masih bisa melihat Bulan di langit barat ya, karena dia memang belum terbenam.

Secara astronomis, fase perbani akhir Agustus ini akan terjadi pada pukul 23.45 WIB.

12 Agustus 2020: Hujan Meteor Perseid
Perseid adalah fenomena hujan meteor terbaik tiap tahunnya. Namun, tampaknya tidak untuk tahun 2020 ini. Itu terjadi karena puncak Perseid kali ini bertepatan dengan fase Bulan separuh. Bulan yang baru terbit saat tengah malam akan membuat langit jadi lebih terang, kenampakan meteor pun berkurang.

Hujan meteor Perseid sendiri adalah masuknya puing-puing yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle ke atmosfer Bumi. Setiap 12 Agustus, Bumi menerjang jalur bekas orbit komet ini, sehingga banyak meteoroid kecil yang masuk ke atmosfer sebagai meteor. Karena jumlahnya banyak, disebutlah hujan meteor.
Walau begitu, fenomena ini tidak berbahaya. Meteor-meteor yang muncul akan berukuran kecil, mereka akan habis terbakar sepenuhnya di atmosfer. Nah, nama Perseid sendiri berasal dari rasi bintang Perseus, titik kemunculan hujan meteor ini di langit Bumi nantinya.

Tanpa adanya Bulan, seharusnya kamu bisa menyaksikan 80 meteor per jam. Namun, intensitas tahun ini mungkin bisa berkurang hingga menjadi 20 meteor per jam saja. Meski begitu, intensitas ini hanya berlaku kalau pengamatan dilakukan pada lokasi yang jauh dari polusi cahaya kota ya.

15 Agustus 2020: Konjungsi Bulan dengan Venus
Kamu yang sering bangun pagi, belakangan ini mungkin sering melihat objek seperti bintang tapi sangaaaaaat terang di langit timur. Sebenarnya, itu bukan bintang, melainkan planet Venus!

Yup, Venus saat ini muncul di langit pagi sejak awal Juli 2020 kemarin. Dan pada 15 Agustus 2020 ini, Venus akan ditemani oleh Bulan dalam fenomena konjungsi, yang mana akan membuat keduanya terpisah sejauh 4° satu sama lain.

Konjungsi Bulan dengan Venus ini bisa diamati mulai pukul 04.00 dini hari waktu setempat daerahmu. Cukup amati langit timur, kedua benda langit ini sudah akan berada setinggi 10° dari cakrawala.
19 Agustus 2020: Fase Bulan Baru
Ini adalah fase Bulan di mana satu-satunya satelit alami milik Bumi kita itu tidak akan terlihat dari Bumi. Sebab, Bulan akan berada di dekat Matahari dalam pandangan dari planet kita, ia akan terbit dan terbenam bersamaan.

Fase Bulan baru menandai hari terakhir dalam kalender Hijriah, sebelum berganti bulan atau bahkan tahun pada hari berikutnya ketika hilal atau Bulan sabit muda pertama setelah fase Bulan Baru teramati.

Secara astronomis, fase Bulan Baru 19 Agustus 2020 terjadi pukul 09.42 WIB.

26 Agustus 2020: Fase Bulan Perbani Awal
Perbani awal adalah fase ketika Bulan sudah ada di posisi seperempat pertama dalam orbitnya mengelilingi Bumi, atau tujuh hari setelah fase Bulan Baru. Pada fase ini, Bulan hanya akan tampak separuh saja tersinari Matahari.

Berbeda dengan perbani akhir di mana Bulan terbit saat tengah malam, fase perbani awal ini Bulan akan terbit saat tengah hari. Jadi, tidak perlu heran juga kalau pada 26 Agustus 2020 jam 2 siang kamu sudah melihat Bulan di langit timur, karena dia memang sudah terbit akibat posisinya sudah 90° dari posisi Matahari.

Secara astronomis, fase perbani awal ini terjadi pukul 00.58 WIB.

29 Agustus 2020: Formasi Segitiga Bulan-Jupiter-Saturnus
Dua planet raksasa di tata surya, Jupiter dan Saturnus, akan membentuk formasi segitiga di langit bersama Bulan pada tanggal ini, 29 Agustus 2020.

Eits, pada kenyataannya, mereka tidak benar-benar membentuk segitiga di ruang angkasa ya. Formasi segitiga ini hanya teramati dalam pandangan dari Bumi saja, yang mana kira-kira akan seperti ini:
Kamu sudah bisa menyaksikan formasi segitiga benda langit ini mulai selepas Matahari terbenam, ketika ketiga benda langit ini akan berada pada ketinggian sekitar 45° dari cakrawala timur, atau kira-kira hampir di langit atas kepala.

Jupiter dan Saturnus, karena jaraknya jauh, hanya akan tampak seperti dua bintang terang di dekat Bulan saja, dengan Jupiter yang lebih terang dari Saturnus. Mereka pun bisa diamati hingga dini hari, menjelang Matahari terbit.

31 Agustus 2020: Hujan Meteor Aurigid
Aurigid termasuk dalam jenis hujan meteor minor, yang artinya intensitas saat puncaknya tidak akan tampak terlalu banyak. Hal itu berbeda dari hujan meteor Perseid pada 12 Agustus yang termasuk dalam hujan meteor mayor (intensitasnya tinggi).

Titik radian hujan meteor ini adalah rasi bintang Auriga. Kalau kamu mau melihat banyak meteor, carilah rasi bintang ini di langit timur sekitar pukul 4 dini hari. Kalau cuaca cerah dan lokasi pengamatan kamu bebas polusi cahaya, kamu bisa melihat 6-10 meteor per jamnya.
Hujan meteor ini berasal dari puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet C/1911 N1 (Kiess). Kamu bisa menyaksikan hujan meteor Aurigid hingga menjelang Matahari terbit karena pada saat itu langit sudah terang dan meteor-meteor jadi terlalu redup untuk diamati.

Nah, itulah jadwal peristiwa langit Agustus 2020 yang bisa kamu amati di mana pun kamu berada. Untuk kamu yang mau membeli teleskop biar pengamatan benda-benda langitnya lebih jelas, kami menyediakannya di InfoAstronomyStore.com.

Semoga langit selalu cerah biar bisa mengamati seluruh peristiwa langitnya ya!
BERIKAN KOMENTAR ()