Fase Bulan dan Penanggalan Hijriah

Info Astronomy - Selamat tahun baru Hijriah 1 Muharram 1442. Penanggalan kalender Hijrah sangat erat kaitannya dengan Bulan. Itu karena kalender ini memang mengacu pada fase-fase Bulan. Buktinya, sebelum Ramadan atau Lebaran, perlu diamati atau dihitung kapan hilal, atau Bulan sabit muda, muncul.

Nah, sudah seberapa paham kah kamu dengan fase Bulan? Beberapa orang secara keliru percaya bahwa fase Bulan terjadi karena bayangan Bumi menutupi Bulan. Ada juga yang berpikir bahwa Bulan berubah bentuk setiap malamnya karena tertutup awan. Sayangnya, hal-hal itu adalah kesalahpahaman. Fase Bulan terjadi tergantung pada posisi Bulan relatif terhadap Bumi dan Matahari.

Bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri, ia hanya memantulkan cahaya Matahari seperti halnya semua planet di tata surya. Matahari selalu menyinari separuh bagian Bulan saja karena ia berbentuk bulat seperti bola.

Dan karena Bulan mengalami penguncian gravitasi oleh Bumi, kita selalu melihat sisi Bulan yang sama setiap malam. Meski begitu, tidak ada yang namanya "sisi gelap Bulan" secara permanen. Matahari selaly menerangi berbagai sisi Bulan seiring ia mengorbit di sekitar Bumi.

Nah, bagian Bulan yang disinari Matahari itulah yang kita kenal sebagai fase Bulan:
Bisa dilihat pada gambar di atas, fase Bulan Baru terjadi ketika Bumi, Bulan, dan Matahari terletak hampir segaris lurus. Karena Matahari berada di belakang Bulan dalam pandangan dari Bumi, sisi Bulan yang menghadap Bumi pun menjadi gelap tidak teramati. Mengapa dikatakan "hampir"? Karena bidang orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap ekliptika Bumi, sehingga tidak benar-benar segaris lurus dan gerhana tidak terjadi.

Seiring Bulan bergerak mengitari Bumi, posisi wilayah permukaannya yang disinari Matahari pun ikut berubah menjadi sabit. Memasuki tujuh hari setelah fase Bulan Baru, terjadilah fase yang dikenal sebagai perbani awal. Pada fase ini, Bulan tampak separuh tersinari saja karena terletak 90 derajat posisinya dari Matahari di langit. Bulan juga sudah terbit sejak tengah hari dan terbenam pada tengah malam.

Tujuh hari setelah fase perbani awal, Bulan sudah terletak 180 derajat dari Matahari, sehingga kalau diamati dari Bumi seluruh permukaannya yang terang bisa terlihat. Fase ini dikenal sebagai fase Bulan purnama. Namun, lagi-lagi karena bidang orbit Bulan yang miring 5 derajat, gerhana Bulan tidak selalu terjadi pada fase ini.

Setelah fase purnama, Bulan pun terus bergerak mengelilingi Bumi, yang mana menyebabkan fase-fasenya juga ikut berubah sampai kembali ke fase Bulan Baru. Seluruh siklus fase Bulan (dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya) membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari.

Nah, dalam penanggalan Hijriah, fase Bulan Baru ini adalah akhir dari tanggal dalam sebulan kalender, dan akan berganti hari keesokan harinya saat fase Bulan sabit pertama setelah Bulan Baru muncul atau terlihat.

Perspektif Ping Pong
Belum begitu memahami bagaimana Bulan bisa memiliki fase atau bagaimana Bulan yang bulat itu bisa tampak separuh saja? Kamu memerlukan bola ping pong.

Pastikan bola ping pongnya berwarna putih seperti pada gambar di atas. Kalau sudah punya bola ping pongnya, keluar ruanganlah sekitar satu jam sebelum Matahari terbenam pada fase Bulan separuh awal. Temukan Bulan di langit atas kepala kamu, lalu pegang bola sejauh lengan dan arahkan tepat di samping posisi Bulan.

Kamu akan melihat bahwa bola ping pong itu juga akan menunjukkan fase yang sama persis dengan Bulan. Itu terjadi karena Matahari menyinari bola dan Bulan dari arah yang sama, sementara bagian belakang bola dan Bulan yang tidak disinari Matahari akan tampak gelap. Kalau mau melihat perubahan fasenya, lakukan hal ini pada fase-fase setelahnya juga ya.

Kalender Hijriah dan Fase Bulan
Bulan membutuhkan waktu sekitar 27,3 hari untuk sekali mengitari Bumi. Periode waktu ini dikenal sebagai periode sideris Bulan. Namun, Bumi dan Bulan juga bersama-sama mengelilingi Matahari. Jadi, setelah 27,3 hari, walaupun Bulan sudah mengitari Bumi dengan sempurna, ia belum akan masuk pada fase Bulan Baru.

Fase Bulan Baru akan terjadi jika Bulan terletak kembali searah dengan Matahari, atau dengan kata lain, Bumi, Bulan, dan Matahari terletak pada suatu garis lurus. Untuk kembali dari satu fase Bulan Baru ke fase Bulan Baru berikutnya, 27,3 hari belum cukup. Bulan masih harus menempuh 27 derajat lagi. Dengan begitu, untuk mencapai satu keliling penuh, Bulan harus menempuh jarak 387°, yang mana memerlukan waktu 29,5, yang dikenal sebagai periode sinodis Bulan.

Karena satu hari di Bumi berlangsung selama 24 jam, maka untuk mencapai waktu rata-rata 29,5 hari, ditetapkanlah panjang suatu bulan kalender pada penanggalan Hijriah menjadi silih berganti antara 29 dan 30 hari.

Telat Terbit
Perbedaan antara periode sideris dan sinodis Bulan menyebabkan Bulan tampak bergerak di langit ke arah timur rata-rata 13‎ derajat tiap harinya. Di waktu yang sama, Matahari sendiri juga bergerak ke arah timur rata-rata 1‎ derajat tiap harinya. Akibatnya, Bulan akan tampak bergerak ke arah timur dari Matahari sekitar 12‎ derajat‎ per hari. Sudut tersebut setara dengan waktu sekitar 50 menit.

Fenomena ini menyebabkan Bulan akan terbit terlambat sekitar 50 menit tiap hari. Sebagai contoh, pada fase Bulan Baru, Bulan akan terbit pada pukul 06.00 pagi. Keesokan harinya, pada fase Bulan Sabit, ia akan terbit pukul 06.50 pagi, begitu seterusnya. Hal ini pada gilirannya membuat Bulan bisa terbit pada tengah hari, sekitar pukul 12.00 siang, pada fase Perbani Akhir. Itulah mengapa kadang kita bisa melihat Bulan di langit siang.

Nah, itulah fase Bulan dan hubungannya dengan penanggalan Hijriah. Selamat merayakan tahun baru!
BERIKAN KOMENTAR ()