Bintang Betelgeuse Kembali Teramati Meredup

Info Astronomy - Betelgeuse, bintang raksasa merah yang namanya berasal dari bahasa Arab Ibṭ ul-Jawzā' itu, lagi-lagi teramati meredup setelah sebelumnya meredup pada akhir 2019 dan kembali cemerlang lagi pada Februari 2020. Pertanda apa kira-kira?

Dilansir dari Science Alert, peredupan terbaru Betelgeuse kali ini tidak konsisten dengan siklus variasi kecerahan Betelgeuse. Dengan begitu, para astronom pun kembali fokus untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi pada bintang ini.

Betelgeuse sendiri terletak pada jarak sekitar 700 tahun cahaya di arah rasi bintang Orion, ia juga salah satu bintang paling terang di langit malam Bumi kita. Bintang ini dianggap menarik oleh para astronom karena ia rupanya sudah berusia sangat tua untuk bintang sejenisnya, yakni berusia sekitar 8 hingga 8,5 juta tahun. Dengan kata lain, selangkah lagi Betelgeuse akan mengakhiri kehidupan bintangnya.

Ia diperkirakan memiliki massa antara 10 hingga 25 kali massa Matahari, dan sempat menjalani sebagian besar hidupnya sebagai bintang masif berwarna biru-putih yang panas. Kini, hari-hari ketika Betelgeuse berada dalam fase deret utama, yang melakukan fusi hidrogen menjadi helium di intinya, sudah selesai. Betelgeuse telah kehabisan hidrogen sehingga sekarang sudah mulai menggabungkan helium menjadi karbon dan oksigen.

Setelah helium tersebut habis, Betelgeuse akan mulai menggabungkan unsur-unsur yang lebih berat dan lebih berat di intinya, menyebabkan penumpukan unsur besi di inti yang pada akhirnya akan menyebabkan ia meledak menjadi supernova.

Meski begitu, dilansir dari UniverseToday.com, peredupan Betelgeuse kali ini belum merupakan tanda bahwa Betelgeuse akan segera meledak. Para astronom memperkirakan, kemungkinan masih butuh beberapa puluh ribu tahun lagi sampai hanya tersisa unsur besi di inti Betelgeuse hingga akhirnya ia meledak.
Betelgeuse juga dikenal sebagai bintang variabel semi-reguler, yang artinya ia merupakan bintang yang cahayanya dapat berfluktuasi dalam suatu siklus tertentu. Siklus fluktuasi terpanjang Betelgeuse bisa berlangsung selama sekitar 5,9 tahun, dengan yang terpendek sekitar 425 hari.

Meski begitu, menurut penelitian para astronom yang diinformaskan melalui AstronomersTelegram.org, peredupan Betelgeuse akhir tahun lalu yang mencapai 25% itu ternyata tidak ada hubungannya dengan siklus fluktuasi kecerahan cahayanya.

Alih-alih sedang masuk siklus peredupan, para astronom sekarang cukup yakin bahwa peredupan itu terjadi karena Betelgeuse "bersin". Sang bintang mengeluarkan sekumpulan material panas, yang mendingin sebagai debu ketika bergerak menjauh, sehingga menghalangi cahayanya dalam pandangan dari Bumi.
"Kami melihat fenomena semacam ini sepanjang waktu pada bintang super raksasa merah, dan ini adalah hal yang normal dari siklus hidup mereka," kata astronom Emily Levesque dari Universitas Washington.

"Bintang super raksasa merah (seperti Betelgeuse) sesekali akan melepaskan material dari permukaannya, yang akan mengembun menjadi debu seiring mereka bergerak menjauh dari bintan. Saat mendingin dan menghilang, butiran debu akan menyerap sebagian cahaya yang menuju ke arah kita dan menghalangi pandangan kita."

Meskipun fenomena "bersin" ini memang dapat menjawab peredupan Betelgeuse pada Oktober 2019 hingga Februari 2020 kemarin, peredupan yang baru terjadi saat ini masih perlu diselidiki. Dan kalau peredupan kali ini masih karena "bersin", diperkirakan Betelgeuse akan kembali cerah seperti sedia kala sekitar bulan Agustus dan September 2020.

Peredupan terbaru Betelgeuse ini sebenarnya sudah teramati pada bulan Mei 2020. Sejak pertengahan Mei, magnitudo visual Betelgeuse telah berkurang sekitar 0,5.
BERIKAN KOMENTAR ()