5 Bidang Ilmu untuk Meniti Karir sebagai Astronaut

Info Astronomy - Sebagian dari kita, cita-cita masa kecilnya pasti ingin menjadi seorang astronaut. Namun, seiring waktu, sebagian dari kita juga menyadari bahwa menjadi astronaut adalah hal yang sulit dilakukan. Memangnya, seberapa sulit sih? Kalau mau jadi astronaut harus kuliah di mana ya?

Memang benar menjadi astronaut perlu kerja keras. Lebih tepatnya, kerja benar-benar keras. Pensiunan astronaut Clay Anderson, dilansir dari Businessinsider.com bahkan sempat gagal dalam 15 kali tes astronaut sebelum akhirnya berhasil meluncur ke ruang angkasa melalui proses seleksi yang ketat.

Dari ribuan pelamar dalam suatu pembukaan lowongan astronaut NASA bahkan biasanya hanya akan menerima segelintir orang saja. Tetapi tidak peduli seberapa sulitnya, tidak ada salahnya kok bercita-cita menjadi astronaut.

Nah, untukmu yang masih bercita-cita menjadi astronaut, berikut ini adalah lima bidang ilmu yang bisa melejitkan karirmu dalam perjalanan luar angkasa. Penasaran?

Teknik Elektro
Siapa sangka kalau bidang ilmu teknik elektro justru adalah bidang ilmu yang bisa membawamu dalam karir astronaut?

Mahasiswa teknik elektro belajar bagaimana membangun, memahami, dan memperbaiki alat-alat elektronik dan sistem kelistrikan. Dan mengingat bahwa wahana-wahana antariksa mengandalkan teknologi ini, memilih program sarjana di bidang teknik elektro adalah pilihan yang baik untuk memulai perjalanan kamu menjadi astronaut.

Orang-orang teknik banyak dipilih sebagai astronaut karena mereka mampu menjadi desainer, inovator, dan yang paling penting, pemecah masalah. Mereka dilatih untuk menemukan solusi praktis untuk masalah besar dalam kehidupan nyata. Jika kamu terombang-ambing di luar angkasa dengan kecepatan 21.000 kilometer per jam, kamu pasti menginginkan lulusan teknik sebagai rekan dalam tim kamu.

Salah satu astronaut sukses yang berasal dari latar belakang pendidikan teknik adalah Buzz Aldrin, astronaut dalam misi Apollo 11 yang menjadi orang kedua yang menginjakkan kaki di Bulan setelah Neil Armstrong. Aldrin memiliki gelar sarjana teknik.

Kisahnya adalah ketika kru Apollo 11 ingin pulang kembali ke Bumi dari Bulan, tetapi ada beberapa tombol di modul pendarat Bulan yang ia tumpangi mengalami kerusakan. Dengan inisiatifnya, Aldrin menggunakan spidol non-konduktif ke sakelar yang rusak untuk menyatukan kontak listrik, hingga akhirnya berhasil membawanya pulang ke Bumi.

Astrofisika
Bidang ilmu kedua yang bisa dipilih untuk memulai karir sebagai astronaut adalah astrofisika. Astrofisika adalah subjek luas yang menggabungkan fisika, kimia, matematika, dan kosmologi. Menurut NASA, astrofisika bertujuan untuk menemukan "bagaimana alam semesta bekerja dan mengeksplorasi bagaimana ia bermula dan berevolusi."

Astrofisika juga merupakan bidang ilmu yang kompleks. Mahasiswa astrofisika mesti mampu menggunakan penalaran abstrak tingkat tinggi dan membutuhkan kemampuan untuk memahami konsep matematika dan ilmiah tingkat lanjut, seperti mekanika kuantum hingga kalkulus vektor.

Paul Sutter, seorang astrofisikawan di Ohio State University, menulis, "Ternyata alam tidak mengungkapkan rahasianya dengan sukarela. Dibutuhkan waktu berjam-jam penelitian oleh sekelompok ilmuwan profesional yang berdedikasi untuk memahami cara kerja terdalam dari semesta kita."

Sebagai seorang astrofisikawan, kamu nantinya bisa menjadi astronaut yang bertugas untuk mengungkap beberapa misteri terbesar yang pernah diketahui di alam semesta seperti lubang hitam, teori string, dan struktur ruangwaktu yang semuanya didirikan di atas prinsip matematika.

Biokimia
Biokimia adalah studi tentang perubahan kimia yang berkaitan dengan organisme hidup. Penelitiannya terutama berbasis di laboratorium dan menggunakan kombinasi kimia dan biologi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sel berkomunikasi dan berkembang. Biokimia juga mengeksplorasi bagaimana lingkungan dan tekanan yang berbeda memengaruhi tubuh manusia, menjadikannya bidang studi yang berharga bagi calon astronaut.

Peggy Whitson adalah astronaut Amerika dengan gelar PhD di bidang biokimia. Selama bekerja di Johnson Space Center, Whitson berfokus pada pembentukan batu ginjal selama perjalanan luar angkasa. Dia menemukan bahwa astronaut lebih mungkin mengembangkan batu ginjal di luar angkasa karena kelebihan kalsium dan fosfat yang ada dalam urin, yang disebabkan oleh proses demineralisasi tulang akibat gayaberat mikro. Dia kemudian mengembangkan terapi kalium sitrat yang masih digunakan sampai sekarang.

Salah satu masalah terpenting bagi astronaut di luar angkasa adalah kebutuhan nutrisi mereka. Lingkungan tanpa bobot di luar angkasa pastilah sangat mengganggu banyak proses fisiologis, seperti penyerapan nutrisi, metabolisme, dan ekskresi.

Misalnya, astronaut tidak membutuhkan banyak zat besi dalam makanannya. Menurunnya kebutuhan zat besi disebabkan oleh penurunan produksi sel darah. Jika kamu menjadi astronaut dan mengonsumsi terlalu banyak zat besi, maka hal itu dapat membangun toksisitas, yang menyebabkan sakit kepala, penurunan berat badan, mual, dan kesulitan bernapas. Ahli biokimia benar-benar dibutuhkan sebagai astronaut.

Aeronautika
Sejumlah besar astronaut selama ini memulai karir mereka sebagai pilot komersial atau pilot militer. Bahkan, NASA menjadikan pengalaman minimum 1.000 jam terbang sebagai pilot pesawat tempur sebagai persyaratan penting bagi setiap calon astronaut mereka.

Namun, meskipun kamu nantinya tidak memiliki pengalaman penerbangan praktis, memahami ilmu penerbangan tetap menjadi suatu batu loncatan yang sangat baik untuk menjadi seorang astronaut.

Mahasiswa aeronautika, dalam kuliahnya, biasanya mempelajari dasar-dasar ilmu penerbangan, termasuk aerodinamika, teori propulsi, serta material dan struktur. Dari sana, mereka akan belajar bagaimana merancang, membangun, dan menguji pesawat generasi selanjutnya.

Dalam dunia penerbangan luar angkasa, lulusan aeronautika menjadi salah satu jalur yang bisa diambil kalau kamu serius ingin menjadi astronaut.

Geologi
Geologi adalah bidang ilmu yang berkaitan dengan struktur fisik dan substansi Bumi serta proses-proses yang telah membentuk perkembangannya. Ini juga berkaitan dengan studi planet-planet bebatuan mirip Bumi hingga satelit alaminya, bahkan juga asteroid.

Salah satu ahli geologi yang pernah menjadi astronaut adalah Harrison Schmitt, satu dari dua belas orang yang pernah berjalan-jalan di permukaan Bulan. Schmitt adalah bagian dari misi Apollo 17 yang mendarat di Bulan pada tahun 1972, lho!

Dalam satu moonwalk (istilah bagi astronaut yang melakukan jalan kaki di Bulan), Schmitt sempat mengumpulkan sampel batuan Bulan yang kemudian dikenal sebagai Troctolite 76535. Dengan berat kurang dari 156 gram dan panjang hanya 5 cm, batuan kecil ini dianggap sebagai sampel paling menarik yang dibawa sebagai oleh-oleh dari Bulan.

Bagaimana Schmitt bisa seteliti itu dalam memilih batu di Bulan? Mungkin insting ahli geologi. Sesampainya di Bumi, para ilmuwan menggunakan batuan dari Schmitt itu untuk perhitungan termokronologis yang mengungkapkan banyak hal tentang sejarah Bulan, termasuk satu teori bahwa Bulan pernah memiliki medan magnet aktif.

Ahli geologi juga merupakan bagian penting dari program eksplorasi Mars di masa yang akan datang, terutama dalam penelitian untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan antara Mars dengan planet kita. Ini termasuk studi tentang gunung berapi, tektonik, kawah, dan badai besar di Mars.

Nah, itu dia beberapa bidang ilmu yang bisa menjadi tahap awal kamu dalam meniti karir sebagai astronaut. Oh iya, kamu juga harus memiliki kondisi fisik dan psikologis yang prima. Dan yang terpenting, kamu juga perlu memiliki kepribadian unik yang bisa membuat kamu lebih menonjol dari semua pelamar astronaut lainnya.

Kalau di NASA, mereka cenderung memilih calon astronautnya yang memiliki fleksibilitas, fokus tingkat tinggi, keterampilan kerja kelompok, kecintaan belajar hal-hal baru, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat di bawah tekanan luar biasa.

Selamat berjuang, astronaut masa depan!
BERIKAN KOMENTAR ()