Menanti Puncak Hujan Meteor Delta Akuarid 2020

Info Astronomy - Pernahkah kamu melihat fenomena hujan meteor? Fenomena yang satu ini tidak berbahaya sama sekali. Meteor-meteor yang muncul akan terbakar habis di atmosfer karena ukuran batuan antariksanya kecil-kecil. Akhir Juli ini, kita berkesempatan melihat hujan meteor Delta Akuarid.

Hujan meteor Delta Akuarid secara resmi aktif dari sekitar tanggal 12 Juli hingga 23 Agustus setiap tahunnya. Meski begitu, waktu terbaik untuk mengamatinya adalah pada puncaknya, yang akan terjadi pada 28 Juli mendatang.

Pada tahun 2020 ini, puncak hujan meteor Delta Akuarid bertepatan dengan fase perbani awal, sehingga Bulan sudah terbenam sekitar tengah malam, membuat lebih banyak meteor bisa teramati karena langit bebas cahaya Bulan yang terang.

Diperkirakan, pada puncaknya nanti, akan teramati 10 hingga 20 meteor per jam, dengan catatan kamu mengamatinya di lokasi yang gelap, bebas polusi cahaya (jauh dari kota besar), dan cuaca cerah. Jika ketiga aspek ini tidak terpenuhi, meteor-meteor akan muncul lebih sedikit atau mungkin tidak teramati sama sekali.

Kenapa disebut "Delta Akuarid"? Karena setiap hujan meteor memiliki titik kemunculan di langit, atau yang disebut sebagai titik radian. Untuk hujan meteor ini, titik radiannya adalah dekat bintang Skat, atau yang nama lainnya adalah Delta Akuari, yang terletak di arah rasi bintang Akuarius.
Di langit Indonesia, rasi bintang Akuarius dan titik radian hujan meteor Delta Akuarid ini sebenarnya sudah terbit sejak pukul 21.00 malam waktu setempat daerahmu. Namun, pada jam itu, kondisi langit belum cukup gelap. Dengan begitu, pengamatan disarankan dimulai pada tengah malam hingga Matahari terbit, ketika langit sudah benar-benar gelap.

Satu hal yang menarik dari hujan meteor ini adalah, sekitar 5% hingga 10% dari meteor Delta Akuarid cukup sering meninggalkan jejak gas terionisasi yang berlangsung satu hingga dua detik setelah meteor melesat. Meteor sendiri adalah kerikil antariksa yang terbakar di atmosfer bagian atas, sekitar 100 km di atas permukaan Bumi.

Menurut EarthSky.org, Komet 96P Machholz yang ditemukan pada tahun 1986 merupakan asal-usul terjadinya hujan meteor ini. Ketika komet tersebut mendekati Matahari, radiasi dan angin Matahari membuat permukaan komet terkelupas, meninggalkan debris atau puing-puing komet di sepanjang bekas jalur yang ia lalui.

Nah, hujan meteor terjadi ketika planet Bumi kita melintasi bekas jalur orbit komet tersebut. Puing-puing komet tadi akan tertarik oleh gravitasi Bumi, lalu terbakar pada atmosfer bagian atas Bumi dengan kecepatan sekitar 150.000 km per jam. Inilah yang dijuluki sebagai "bintang jatuh".

Oh iya, untuk mengamati hujan meteor ini, kamu tidak memerlukan teleskop. Kamu lebih butuh kursi santai untuk berbaring mengamati langit semalaman dan jaket atau sweater agar tetap hangat melawan dinginnya angin malam.

Selamat berburu meteor!
BERIKAN KOMENTAR ()