Fenomena-fenomena Langit Menarik untuk Paruh Kedua 2020

Info Astronomy - Kita akan segera memasuki paruh kedua tahun 2020. Dari Januari hingga Juni ini, sudah banyak fenomena langit yang terjadi. Nah, akan ada fenomena langit apa saja pada Juli hingga Desember 2020 mendatang? Kami sudah merangkumnya untukmu di sini.

Perlu diketahui, fenomena-fenomena langit yang akan kami jabarkan di bawah ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia, tentunya dengan catatan cuaca cerah dan lokasi pengamatan sebisa mungkin masih minim polusi cahaya, ya.

Sudah penasaran dengan daftar fenomena langitnya? Baiklah, mari kita simak satu per satu!

14 Juli 2020: Oposisi Jupiter
Inilah waktu terbaik untuk melihat planet Jupiter! Merupakan planet yang berada di luar orbit Bumi, Jupiter akan mencapai titik oposisi terhadap Matahari dalam orbitnya. Dengan kata lain, ia akan muncul berseberangan dengan Matahari dalam pandangan dari Bumi.

Hal itu bisa terjadi karena Matahari-Bumi-Jupiter akan berada dalam satu garis lurus. Fenomena oposisi ini menjadi waktu terbaik untuk mengamati Jupiter karena ia juga tentu saja berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi kita. Jupiter pun akan tampak sangat terang, paling terang pada tahun 2020 ini, yakni dengan magnitudo -2,7.

Jupiter juga akan teramati sepanjang malam karena akan terbit saat Matahari terbenam dan terbenam saat Matahari terbit.
Eits, walaupun dikatakan "terdekat", dekat di sini masih dalam skala kosmis ya. Menurut In-the-sky.org, jarak Jupiter dari Bumi saat berada di titik oposisi masih akan sekitar 4,14 AU (1 AU = 150 juta kilometer). Pada jarak itu, diameter sudutnya masih hanya sebesar 46,6 detik busur, atau hanya akan tampak bagai bintang berwarna kekuningan terang, tetapi tidak berkelap-kelip.

20 Juli 2020: Oposisi Saturnus
Setelah Jupiter, pada tanggal 20 Juli giliran sang planet bercincin, Saturnus, yang mencapai titik oposisinya. Dan ya, ini juga menjadi waktu terbaik untuk mengamati Saturnus. Ia akan tampak bersinar dengan magnitudo 0,1.

Sayangnya, saat mencapai titik oposisinya ini, Saturnus nasih akan terletak pada jarak sekitar 9,03 AU dari Bumi, dengan diameter sudutnya yang teramati mencapai 18,4 detik busur saja. Dengan begitu, pengamatan tanpa teleskop masih belum cukup untuk bisa melihat Saturnus dengan cincinnya.
Kamu perlu teleskop dengan magnifikasi minimum 75x untuk bisa melihat Saturnus lengkap dengan cincinnya. Teleskop-teleksop tersebut di antara lain adalah Celestron PowerSeeker 80EQ, Celestron AstroMaster 70AZ, atau Meade Polaris 80. Semuanya bisa kamu dapatkan di InfoAstronomyStore.com!

11 Agustus 2020: Hujan Meteor Perseid
Perseid adalah salah satu fenomena hujan meteor terbaik karena paling banyak menghasilkan meteor setiap tahunnya. Namun pada tahun 2020 ini, hujan meteor ini bertepatan dengan fase Bulan separuh kedua, yang mana Bulan akan terbit pada tengah malam dan terlihat hingga Matahari terbit.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada kesempatan sama sekali untuk mengamatinya. Kamu bisa menyiasatinya dengan melakukan pengamatan ke arah yang berlawanan dari posisi Bulan di langit. Karena Bulan akan berada di langit timur saat tengah malam, kamu bisa mengamati arah selatan atau barat (untuk membelakangi Bulan), walaupun titik radiannya, rasi bintang Perseus, ada di langit timur laut.
Meteor-meteor pada hujan meteor Perseid ini berasal dari debris atau puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet Swift-Tuttle. Tidak perlu khawatir, ukuran meteornya akan kecil-kecil, sehingga mereka akan habis terbakar di atmosfer tanpa sempat mencium permukaan Bumi.

Diperkirakan, akan teramati paling sedikit 20-an meteor per jam, dengan catatan kamu mengamatinya di wilayah yang bebas polusi cahaya. Pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa menggunakan teleskop mulai dari pukul 3 dini hari sampai Matahari terbit.

13 Oktober 2020: Oposisi Mars
Mengingat Mars merupakan planet yang berada di luar orbit Bumi, wajar baginya untuk bisa berada pada titik oposisi juga layaknya Jupiter dan Saturnus. Pada tahun 2020 ini, kita akan melihat oposisi Mars pada 13 Oktober.

Yup, inilah waktu terbaik untuk mengamati sang planet merah. Ia akan terbit saat Matahari terbenam dan terbenam saat Matahari terbit pada waktu oposisi, membuatnya bisa terlihat sepanjang malam dengan magnitudo -2,6 (hampir seterang Jupiter saat ia mencapai titik oposisi!).

Meski begitu, Mars masih berjarak sekitar 0,42 AU dari Bumi, dan diameter sudutnya hanya selebar 22,3 detik busur di langit Bumi. Dengan kata lain, kenampakan Mars hanya akan seperti bintang merah di langit kalau kamu tidak mengamatinya lewat teleskop.

Kalau diamati lewat teleskop dengan pembesaran minimum 200x, kamu berkesempatan juga melihat adanya galaksi spiral NGC 488 di dekat Mars, lho.
21 Oktober 2020: Hujan Meteor Orionid
Siapa di sini yang rasi bintang favoritnya adalah Orion? Pada 21 Oktober mendatang, akan ada fenomena hujan meteor yang titik radiannya (titik kemunculan) di arah rasi bintang Orion, lho!

Orionid namanya. Berasal dari puing-puing Komet Halley yang memasuki atmosfer Bumi karena planet kita menerjang jalur bekas lintasan komet ini, 20-an meteor per jam diperkirakan bisa diamati dari lokasi yang minim polusi cahaya.

Fase Bulan juga sedang cukup bagus, yakni perbani awal. Bulan sudah terbenam saat tengah malam, yang mana merupakan waktu terbaik untuk melihat hujan meteor apapun. Cukup siapkan kursi santai lalu menghadaplah ke langit untuk mengamati hujan meteor ini.
30 November 2020: Gerhana Bulan Penumbra
Indonesia kebagian gerhana lagi nih! Mirip seperti gerhana Bulan penumbra pada awal Juni 2020 kemarin, pada 30 November nanti fenomena yang sama akan terjadi. Bedanya, gerhana Bulan penumbra ini terjadi pada sore hari, dan hanya Indonesia bagian timur yang jadi lokasi terbaik untuk mengamatinya.

Itu karena gerhana ini akan dimulai pada pukul 14:33 WIB, wilayah Indonesia dari timur ke barat masih siang dan sore hari, sehingga Bulan belum terbit. Puncak gerhana akan terjadi pukul 16.44 WIB, Indonesia barat dan Indonesia tengah masih belum bisa melihat Bulan, tetapi Indonesia bagian timur sudah bisa menyaksikan Bulan di langit timur. Akhirnya, gerhana berakhir pukul 18.54 WIB, dengan seluruh Indonesia bisa menyaksikannya.
82% wajah Bulan akan masuk bayangan penumbra Bumi, membuat Bulan purnama nantinya akan sedikit meredup saat puncak gerhana berlangsung.

13 Desember 2020: Hujan Meteor Geminid
Selain Perseid dan Orionid, inilah hujan meteor terbaik lainnya setiap tahun, Geminid! Sesuai namanya, titik radian hujan meteor ini ada di arah rasi bintang Gemini.

Hujan meteor ini terjadi ketika Bumi melintasi bekas jalur yang pernah dilalui asteroid bernama 3200 Phaethon. Saat asteroid tersebut mendekati Matahari, permukaannya terkelupas, tertinggal di sepanjang jalur orbitnya. Setiap tanggal 13 Desember, Bumi menerjang puing-puing dari asteroid itu, terjadilah hujan meteor ini.

Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah mulai dari tengah malam hingga Subuh. Tidak ada gangguan cahaya Bulan juga tahun ini. Diperkirakan, 100-an meteor per jam dapat diamati di wilayah yang bebas polusi cahaya.
21 Desember 2020: Konjungsi Langka Jupiter-Saturnus
Siap-siap! Planet kelima dan keenam dari Matahari ini akan mencapai titik konjungsi paling dekat dalam pandangan dari Bumi.

Dalam astronomi, konjungsi dapat diartikan dengan "searah". Dengan kata lain, jika ada dua atau lebi benda langit yang berada di titik konjungsi, itu artinya mereka akan terlihat di arah dan pada waktu yang sama.

Nah, kenapa disebut sebagai konjungsi langka? Sebab kedua planet nantinya akan teramati terpisah sejauh hanya 6 detik busur (setengah diameter Bulan purnama) di langit Bumi. Konjungsi sedekat ini antara Jupiter dan Saturnus terakhir terjadi pada tahun 2000, 20 tahun silam!
Jupiter dan Saturnus akan tampak sangat dekat sehingga mereka akan seolah muncul sebagai planet ganda yang begitu terang. Kalau punya teleskop, kamu bahkan bisa melihat kedua planet ini dalam satu bidang pandang. Lihatlah ke langit barat tepat setelah Matahari terbenam untuk mengamati konjungsi langka ini, ya.

Nah, itulah fenomena-fenomena langit menarik untuk paruh kedua 2020. Semoga tahun ini berangsur-angsur membaik kondisinya ya. Selamat berburu benda-benda langit!
BERIKAN KOMENTAR ()