Fenomena Langit Juni 2020: Dua Gerhana dan Musim Bimasakti

Fenomena langit Juni 2020
Info Astronomy - Kita tampaknya masih harus lebih sering di rumah pada Juni 2020 ini mengingat belum tampak titik akhir dari penyebaran COVID-19. Meski begitu, langit malam sepanjang bulan ini menawarkan beberapa fenomena menarik yang bisa kita amati selama di rumah. Penasaran ada apa saja?

Seperti biasanya, InfoAstronomy.org selalu merangkum jadwal fenomena langit yang akan terjadi setiap awal bulan. Sedikit bocoran: Juni ini akan ada dua gerhana yang teramati di Indonesia dan merupakan awal untuk pengamatan bentangan galaksi Bimasakti!

Oke.. oke.. daripada penasaran, langsung saja yuk simak!

Sepanjang Juni 2020: Bentangan Bimasakti
Setiap tahunnya, bulan Juni merupakan awal yang ideal untuk musim pengamatan bentangan Bimasakti. Para astrofotografer maupun penikmat langit malam di seluruh dunia pada tahun-tahun sebelumnya sudah mulai berburu Bimasakti pada Juni ini.

Namun sayang, tahun ini kita berada di tengah pandemi. Rencana-rencana yang mungkin sudah disusun untuk pengamatan bentangan Bimasakti harus dibatalkan. Maka dari itu, berbahagialah orang-orang yang tinggal di daerah yang minim polusi cahaya, jauh dari gemerlap lampu kota besar.
Fenomena langit Juni 2020
Sepanjang Juni ini, bentangan galaksi Bimasakti akan terlihat sepanjang malam. Arah pusat galaksi sendiri adalah rasi bintang Sagitarius, yang mana akan terbit pada awal malam, mencapai langit atas kepala saat tengah malam, dan terbenam saat menjelang Matahari terbit, sepanjang Juni!

Hanya daerah dengan tingkat polusi cahaya yang rendah saja yang berkesempatan melihatnya secara langsung dengan mata telanjang, meskipun tidak akan seterang hasil jepretan kamera.

6 Juni 2020: Gerhana Bulan Penumbra
Fenomena yang satu ini tidak perlu kondisi langit yang minim polusi cahaya, karena pengamatan di langit kota seperti Jakarta pun masih bisa dilakukan. Yup, Indonesia akan kebagian melihat fenomena langit gerhana Bulan penumbra!

Ini adalah gerhana yang unik, sebab wajah Bulan hanya akan terhalang bayangan penumbra Bumi. Walau begitu, 56% wajah Bulan akan digerhanai, sehingga Bulan akan terlihat sedikit lebih gelap daripada biasanya.
Fenomena langit Juni 2020
Seluruh Indonesia bisa menjadi lokasi pengamatan, kok! Gerhana Bulan penumbra ini akan terjadi pada 6 Juni 2020 pukul 00:45:51 WIB (01:45:51 WITA, 02:45:51 WIT). Lalu puncaknya pukul 02:24:55 WIB (03:24:55 WITA, 04:24:55 WIT). Hingga akhirnya, gerhana Bulan penumbra berakhir pukul 04:04:03 WIB (05:04:03 WITA, 06:04:03 WIT).

Pengamatan bisa dilakukan tanpa kacamata berfilter khusus karena cahaya Bulan aman diamati dengan mata telanjang. Namun, kami merekomendasikan pengamatan lewat teleskop akan proses gerhana bisa lebih jelas terlihat.

6 Juni 2020: Waktu Terbaik Melihat Merkurius
Setelah dini harinya kita melihat gerhana Bulan penumbra, selepas Matahari terbenam pada 6 Juni 2020 ini akan menjadi waktu terbaik untuk melihat Merkurius.

Merkurius adalah planet paling dekat dengan Matahari di tata surya. Hal itu membuat kenampakannya di langit tidak pernah jauh posisinya dari Matahari, sehingga menyulitkan kita untuk melihatnya. Namun, pada 6 Juni 2020, Merkurius akan mencapai sudut elongasi terjauhnya dari Matahari, yakni 22 derajat.
Fenomena Langit Juni 2020
Dengan kata lain, tepat saat Matahari terbenam, kamu bisa menemukan Merkurius pada ketinggian 22 derajat dari cakrawala barat. Dalam pandangan mata telanjang, Merkurius hanya akan seperti titik cahaya terang saja karena jaraknya jauh dari Bumi. Kamu perlu teleskop untuk melihatnya lebih jelas.

8 Juni 2020: Formasi Segitiga Bulan-Jupiter-Saturnus
Dua hari setelah gerhana, Bulan akan bertemu dengan dua planet raksasa tata surya, Jupiter dan Saturnus. Eits, mereka tidak benar-benar berjarak saling berdekatan ya. Kenampakan ketiganya akan tampak dekat di langit Bumi hanya karena mereka berada di arah yang sama, atau istilah astronominya adalah berada di titik konjungsi.

Fenomena ini bisa diamati mulai pukul 22.00 waktu setempat daerahmu, ketiga ketiga benda langit ini berada pada ketinggian di atas 20 derajat dari cakrawala timur. Jupiter akan tampak berada sejauh 3 derajat di sisi utara dari Bulan, sementara Saturnus berada 5 derajat di sisi timur Bulan.
Fenomena langit Juni 2020
Mereka akan membentuk formasi segitiga yang bisa diamati hingga Matahari terbit pada 9 Juni 2020. Untuk melihat Jupiter dan Saturnus lebih jelas, kamu perlu teleskop ya. Sebab pengamatan dengan mata telanjang nantinya kedua planet ini hanya tampak seperti bintang saja.

13 Juni 2020: Konjungsi Mars dengan Bulan
Pernah melihat planet Mars di langit malam? Kalau belum pernah, Bulan akan menjadi pemandu kamu dalam menemukan sang Planet Merah.

Pada dini hari 13 Juni 2020, kedua benda langit ini akan tampak berdekatan satu sama lain, dengan Mars berjarak sejauh 3 derajat dari Bulan. Pengamatan bisa kamu lakukan mulai pukul 01.00 dini hari waktu setempat daerahmu, ketika Mars dan Bulan berada di langit timur, sampai waktunya Matahari terbit.
Fenomena Langit Juni 2020
Oh iya, untuk melihat Mars lebih jelas, lagi-lagi kamu perlu teleskop, dengan minimal pembesaran 225x. Pembesaran yang kurang dari itu tidak akan cukup untuk melihat Mars yang notabene diameter sudutnya kecil.

13 Juni 2020: Fase Bulan Perbani Akhir
Konjungsi dengan Mars juga bertepatan dengan fase Bulan perbani akhir. Dengan kata lain, pada fase ini, Bulan akan tampak separuh saja, sementara separuh bagian lainnya tidak tersinari Matahari mengingat posisinya sekitar 90 derajat dari Matahari di langit Bumi.

Bulan akan terbit saat tengah malam, mencapai langit atas kepala saat Matahari terbit, dan terbenam pada tengah hari di tanggal ini. Meski begitu, secara astronomis, fase perbani akhir akan dicapai Bulan pada pukul 13.24 WIB.

19 Juni 2020: Venus Telah Kembali!
Setelah mencapai titik konjungsi inferior terhadap Matahari (berada di antara Matahari dan Bumi) pada 3 Juni 2020 sehingga tidak terlihat di langit planet kita, pada tanggal ini Venus sudah berpindah dari yang awalnya terlihat di langit barat saat senja menjadi planet yang terlihat saat pagi menjelang Matahari terbit.
Fenomena Langit Juni 2020
Bulan akan memandu kamu menemukan Venus pada tanggal 19 Juni 2020 ini, ketika ia masih begitu rendah di atas cakrawala timur sesaat sebelum Matahari terbit. Amatilah langit timur pukul 05.15 pagi waktu setempat daerahmu, kamu akan menemukan Bulan sabit yang ditemani satu "bintang" terang di bawahnya, yang mana merupakan planet Venus!

21 Juni 2020: Solstis Juni
Tanggal ini akan menjadi hari terpendek pada sepanjang tahun 2020 bagi seluruh wilayah yang berada di belahan Bumi selatan, yang juga merupakan hari pertengahan musim dingin di sana. Hal itu terjadi sebab dalam gerak tahunannya, Matahari sedang berada di titik paling utara di langit, tepatnya di rasi bintang Kanser pada deklinasi 23,5° LU.

Fenomena ini dikenal sebagai solstis. Di belahan Bumi utara, Matahari akan lebih lama berada di langit dari pada hari-hari lainnya tahun ini. Matahari bahkan belum terbenam padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam di belahan Bumi utara. Para astronom mendefinisikan hari ini sebagai hari pertama musim panas di sana.

Di Indonesia sendiri, karena kita berada di ekuator Bumi, pengaruh solstis tidak akan terlalu terasa secara signifikan. Bisa jadi cuaca masih tidak menentu, kadang panas, dan kadang juga mendung bahkan hujan.

21 Juni 2020: Gerhana Matahari Cincin
Dua pekan setelah gerhana Bulan, fenomena gerhana Matahari selalu mengikuti. 21 Juni 2020 ini akan ada fenomena gerhana Matahari cincin, yang sayangnya jalur gerhana cincin hanya akan melewati negara-negara seperti Republik Kongo, Republik Demokratik Kongo, Republik Afrika Tengah, Sudan, Ethiopia, Eritrea, Yaman, Arab Saudi, Oman, Pakistan, India, Tiongkok, hingga Taiwan.
Fenomena Langit Juni 2020
Di Indonesia, kita hanya mendapatkan gerhana Matahari sebagian, yang juga hanya bisa diamati bagi wilayah Indonesia yang berada paling utara. Porsi gerhana Matahari di Indonesia pun tidak besar, berikut detailnya:
  • Aceh (gerhana 10% mulai jam 13:23 WIB)
  • Sumatra Utara (gerhana 7% mulai jam 13:47 WIB)
  • Riau (gerhana 5% mulai jam 14:01 WIB)
  • Sumatra Barat (gerhana 3% mulai jam 14:10 WIB)
  • Jambi (gerhana 3% mulai jam 14:20 WIB)
  • Bangka Belitung (gerhana 3% mulai jam 14:28 WIB)
  • Sumatra Selatan (gerhana 1 % mulai jam 14:33 WIB)
  • Kalimantan Barat bagian utara (14% mulai jam 14:19 WIB)
  • Kalimantan Barat bagian selatan (8% mulai jam 14:22 WIB)
  • Kalimantan Tengah bagian utara (15% mulai jam 14:26 WIB)
  • Kalimantan Tengah bagian selatan (8% mulai jam 14:30 WIB)
  • Kalimantan Timur (15% mulai jam 15:27 WITA)
  • Kalimantan Selatan (8% mulai jam 15:30 WITA)
  • Kalimantan Utara (25% mulai jam 15:16 WITA)
  • Nusa Tenggara Timur (3% mulai jam 15:57 WITA)
  • Sulawesi Barat (13% mulai jam 15:34 WITA)
  • Sulawesi Selatan (13% mulai jam 15:36 WITA)
  • Sulawesi Tenggara (13% mulai jam 15:39 WITA)
  • Sulawesi Utara (25% mulai jam 15:27 WITA)
  • Maluku Utara (33% mulai jam 16:31 WIT)
  • Maluku (23% mulai jam 16:37 WIT)
  • Papua Barat (33% mulai jam 16:37 WIT)
  • Papua bagian utara (32% mulai jam 16:41 WIT)
  • Papua bagian selatan (26% mulai jam 16:45 WIT)
Iya, wilayah pulau Jawa kali ini kurang beruntung.

28 Juni 2020: Fase Bulan Perbani Awal
Sepekan setelah gerhana Matahari, yang mana merupakan fase Bulan Baru, pada 28 Juni 2020 ini Bulan sudah masuk fase perbani awal. Posisinya di langit Bumi sudah 90 derajat dari Matahari, sehingga ia hanya akan terlihat separuh saja.

Bulan akan terbit tepat pada tengah hari, mencapai langit atas kepala saat Matahari terbenam, dan akan terbenam pada tengah malamnya. Secara astronomis, fase Bulan perbani awal ini akan terjadi pada pukul 15.16 WIB.

Nah, itulah jadwal fenomena langit yang bisa kita amati sepanjang bulan Juni 2020 ini. Semoga cuaca cerah ya!
BERIKAN KOMENTAR ()