Apa Tujuan Diturunkannya Pluto Menjadi Planet Kerdil?

Info Astronomy - Sejak tahun 1930 hingga 2006, Pluto sempat dianggap sebagai sebuah planet di tata surya kita. Pada masa-masa indah bagi Pluto itu, ia menyandang status sebagai planet kesembilan setelah Neptunus. Namun, semua itu kini sudah berubah.

Beberapa orang, anehnya, menganggap bahwa Pluto hilang dari tata surya. Padahal, Pluto masih ada, yang hilang hanya status "planet"-nya saja. Sejak 2006 hingga saat artikel ini dipublikasikan, Pluto kini dianggap sebagai planet kerdil.

Kamu mungkin bertanya-tanya, apa sih tujuan dari diturunkannya status Pluto dari "planet" menjadi "planet kerdil" ini? Atau, kamu malah masih bingung tentang apa itu "planet kerdil"? Mari kita bahas satu per satu dalam artikel ini.

Penyebab Diturunkannya Status Pluto
Pluto ditemukan pada tahun 1930 oleh astronom bernama Clyde Tombaugh. Penemuannya terjadi karena para astronom lainnya pada masa itu mengamati ada "gangguan" pada orbit Neptunus, yang secara teori disebabkan oleh adanya planet lain yang berjarak lebih jauh darinya.

Teori tersebut akhirnya memiliki bukti kuat saat Pluto ditemukan. Ia langsung dikategorikan sebagai planet sejak saat itu. Pluto sangat redup, kecil, dan berjarak begitu jauh di tepian tata surya.

Penemuan Pluto pun lantas sempat menjadi berita utama di seluruh dunia. Observatorium Lowell, tempat di mana Tombaugh melakukan penemuan Pluto, diberi hak untuk memberi nama objek baru temuannya itu.

Dari 1.000 saran nama yang didapat dari seluruh dunia; nama Pluto dipilih. Nama ini diusulkan oleh Venetia Burney, anak sekolah berumur sebelas tahun di Oxford, Inggris. Venetia tertarik pada mitologi klasik dan juga astronomi, dan menganggap bahwa nama "Pluto", dewa dunia bawah, sangat sesuai untuk objek yang gelap dan dingin di ujung tata surya itu. Nama Pluto diumumkan pada 1 Mei 1930, dan Venetia menerima lima paun (£5) sebagai hadiah.

Perjalanan Pluto sebagai planet terusik sejak pengumuman penemuan Eris, Makemake, dan Haumea pada tahun 2005 oleh astronom Mike Brown dan rekan-rekannya di Observatorium Palomar. Ketiga objek langit ini terletak lebih jauh dari Pluto di tepian tata surya, dan ukurannya juga kecil-kecil seperti Pluto.
Namun, karena Eris awalnya dianggap lebih besar dari Pluto, ia sempat dikategorikan sebagai "planet kesepuluh" oleh NASA dan dalam laporan media saat penemuannya. Menanggapi ketidakpastian atas status Eris, dan kebetulan sedang ada perdebatan tentang apakah Pluto masih layak dikategorikan sebagai planet, International Astronomical Union (IAU) pun mendelegasikan sekelompok astronom untuk mendefinisikan ulang istilah "planet" untuk memutuskan sengketa status keplanetan ini.

Tepat pada 24 Agustus 2006, definisi baru untuk "planet" pun diumumkan. Menurut definisi baru itu, sebuah objek langit dikategorikan sebagai "planet" apabila mengitari Matahari, memiliki massa yang cukup untuk terjadinya kesetimbangan hidrostatik (memiliki bentuk hampir bulat), dan telah mampu mendominasi orbitnya dari keberadaan objek-objek langit lainnya.

Pluto, begitu juga dengan Eris, tidak terkualifikasi dalam definisi baru tersebut. Mereka berukuran terlalu kecil, sehingga belum mampu mendominasi orbitnya seniri dari keberadaan objek-objek lain seperti asteroid dan meteoroid kecil.

Pluto turun statusnya menjadi planet kerdil sejak saat itu. Menurut IAU, planet kerdil adalah objek langit yang mengorbit Matahari, cukup masif sehingga bentuknya bulat (atau hampir bulat), tetapi belum mampu mendominasi orbitnya dari objek lain.

Apa Tujuan Diturunkannya Status Pluto?
Kendati masih menjadi kontroversi -- banyak astronom yang tidak setuju dengan penurunan status Pluto ini -- kita tampaknya memang perlu untuk membuat kategori-kategori objek langit.

Perdebatan tentang status Pluto dan Eris memuncak dalam sejumlah proposal yang diajukan pada pertemuan IAU pada tahun 2006. Satu proposal menyarankan bahwa objek apa pun dengan radius lebih dari 1.000 km (termasuk Pluto dan Eris) harus dianggap sebagai planet, dan objek apa pun yang lebih kecil tidak dianggap planet. Proposal lain mengusulkan bahwa objek apa pun yang bulat, termasuk bulan-bulan yang mengitari planet, harus dianggap sebagai planet.

Demi menghindari defini "planet" bisa saja tidak memiliki arti yang spesial lagi, serta mempertimbangkan bahwa mungkin ada ratusan benda-benda bulat kecil yang mengorbit Matahari di luar Neptunus, IAU pun memutuskan mendefinisikan ulang istilah planet.

Definisi "planet" kini telah dimodifikasi, disesuaikan, dan dipersempit untuk memudahkan kita dalam lebih memahami tata surya kita sendiri dan hal-hal di dalamnya. Kita kini bisa dengan mudah menentukan sebuah objek langit dikategorikan sebagai apa, apakah ia adalah planet, planet kerdil, bulan, atau bahkan asteroid.
BERIKAN KOMENTAR ()