Ploonet: Ketika Satelit Alami Menjadi Planet

Info Astronomy - Satelit mengitari planet, planet mengitari bintang, dan bintang mengitari pusat galaksi. Sekilas, semuanya tampak teratur. Sayangnya, alam semesta tidak seteratur itu. Di suatu sudut alam semesta, sebuah satelit alami bisa lepas dari planet.

Meski terdengar aneh, fenomena tersebut bisa terjadi, dan mungkin ada banyak di alam semesta. Satelit alami bisa lepas dari pengaruh gravitasi planetnya, lalu malah mengitari bintang induknya. Nah, yang jadi pertanyaannya, disebut apakah satelit alami itu nantinya? Apakah akan disebut planet?

Pada titik ini, keberadaan satelit alami yang lepas dari planetnya baru sebatas hipotesis. Itu artinya, para astronom belum menemukan satu pun dari mereka di alam semesta.

Hipotesis tersebut berasal dari sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan pada 28 Juni 2019 dalam Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society oleh Mario Sucerquia dan rekan-rekannya dari Universitas Antioquia.

Dalam penelitiannya itu, tim Sucerquia mengusulkan untuk pertama kalinya kemungkinan ada beberapa satelit alami dari planet-planet raksasa di luar tata surya yang terpental keluar dari orbitnya, lalu mulai mengitari bintang induknya.

Masih dalam penelitian tersebut, tim Sucerquia ini lantas memutuskan untuk memberi istilah baru bagi satelit-satelit alami yang tertendang orbitnya oleh planetnya sendiri ini. Mereka menamainya sebagai, ploonet (baca: plunet).
Bagaimana menurutmu dengan istilah baru ini? Unik atau aneh? Iya, alih-alih disebut planet atau planet kerdil, satelit alami yang lepas lalu mengitari bintang induknya ini disebut sebagai ploonet.

Tim Sucerquia pun menjelaskan bagaimana ploonet bisa muncul. Jadi, sejauh ini, para astronom telah banyak menemukan planet jupiter panas, jenis planet asing yang memiliki massa dan ukuran mirip planet Jupiter di tata surya kita, tetapi berada terlalu dekat jaraknya dengan bintang induknya sehingga memiliki suhu permukaan yang sangat panas.

Menurut para astronom, planet asing mirip Jupiter ini pada awalnya terbentuk jauh dari bintang induknya masing-masing. Namun, karena interaksi gravitasi dengan bintangnya, mereka pun bermigrasi, menjadi lebih dekat dengan bintangnya, dijulukilah sebagai jupiter panas.

Nah, dalam proses planet-planet raksasa gas asing ini mendekati bintang induknya, gaya gravitasi antara planet dan bintang kemungkinan akan membuat orbit satelit alami yang mengelilingi sang planet menjadi lebih energik, sehingga satelit-satelit ini pun seolah dipaksa semakin jauh dari planetnya. Hingga akhirnya, mereka akan begitu jauh sehingga akan keluar dari orbitnya.

Walau begitu, diperkirakan tidak semuanya akan menjadi ploonet. Dari statistik yang dilakukan tim Sucerquia, yang juga dijelaskan pada makalah ilmiahnya, hanya sekitar 50% dari satelit-satelit alami itu yang akan bertahan dan mulai mengorbit bintang induknya sebagai ploonet, sementara sisanya bisa menabrak mantan planetnya atau malah menabrak bintang induknya sendiri.

"Proses ini hanya bisa terjadi dalam setiap sistem planet yang terdiri dari planet raksasa yang orbitnya sangat dekat dengan bintang induknya," kata Sucerquia seperti dilansir Science News. "Jadi, ploonet bisa jadi sangat umum di alam semesta."

Sejauh ini, ploonet masih tetap hipotesis. Tetapi seperti yang dicatat oleh artikel Astronomy.com ini, begitu para astronom berhasil menemukan ploonet pertama, ploonet-ploonet lainnya pun akan dengan mudah ditemukan melalui data pengamatan yang sudah didapat selama ini melalui berbagai teleskop antariksa.
BERIKAN KOMENTAR ()