Komet ATLAS Resmi Pecah, Mari Ucapkan Selamat Tinggal

Info Astronomy - Ditemukan oleh observatorium Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) pada 28 Desember 2019, komet yang dikatalogkan sebagai C/2019 Y4 sempat diperkirakan akan muncul terang pada Mei ini. Namun, ia kini justru telah pecah.

Tidak setiap hari kita bisa melihat komet. Itulah sebabnya begitu para astronom menemukan Komet ATLAS ini, banyak astronom lainnya dan bahkan pengamat langit yang antusias untuk mengamatinya. Sayangnya, pada hari Minggu, 12 April 2020, komet tersebut tidak akan lagi melintas dekat Bumi untuk muncul terang. Apa yang terjadi?

Space.com melaporkan, Komet ATLAS telah resmi pecah menjadi potongan-potongan kecil. Astrofisikawan Gianluca Masi, pendiri dan direktur Virtual Telescope Project di Italia, mengungkapkan bagian inti (nukleus) Komet ATLAS telah hancur, terbagi dalam empat fragmen besar.

Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, nukleus dari komet tersebut telah terpisah, hancur berkeping-keping. Sebuah tanda kematian komet.
Tentu hal ini sangat disayangkan. Padahal, bulan lalu InfoAstronomy.org sempat mengabarkan bahwa Komet ATLAS diprediksi akan jadi komet terang yang bisa kita amati karena kecerahannya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Pada saat ditemukan bulan Desember 2019, Komet ATLAS masih sangat redup, dengan magnitudo  visual mencapai +20, atau 398.000 kali lebih redup daripada bintang paling redup yang bisa terlihat di langit malam. Namun, pada 17 Maret 2020, para pengamat komet mencatat peningkatan kecerahan komet hingga ke magnitudo visual +8,5, atau 600 kali lebih terang dari perkiraan awal.

Prediksi pun berlanjut. Diperkirakan, menjelang akhir Mei 2020, kecerahan Komet ATLAS dapat mencapai -4, atau seterang planet Venus yang biasa kita amati di langit barat saat senja itu.

Sayangnya, hal ini tidak akan terjadi lagi untuk selamanya.

Sang komet sudah pecah. Meski begitu, pecahnya komet adalah peristiwa yang bisa dibilang lumrah di luar angkasa. Ini biasanya terjadi ketika komet mengalami perubahan jalur orbit akibat tarikan gravitasi Matahari, sehingga menyebabkannya terlalu dekat dengan bintang induk tata surya kita, yang mana radiasinya bisa menghancurkan objek es sekecil komet.

Selamat tinggal, Komet ATLAS.
BERIKAN KOMENTAR ()